Perairan Natuna Utara akhir-akhir ini sedang memanas, kapal Coast Guard milik China diketahui sering mondar-mandir di Perairan Natuna Utara. Laut Natuna Utara adalah perairan di sebelah utara Kabupaten Natuna. Perairan ini sudah lama menjadi sengketa antara Indonesia dan China, Negeri Tirai Bambu itu mengklaim Perairan Natuna Utara merupakan wilayah teritorialnya.

Ketegangan terkait Laut Natuna Utara dengan China memang kerap sering kali terjadi, Indonesia sejatinya adalah pemilik sah Laut Natuna Utara, sesuai dengan konvensi PBB yang mengatur tentang Hukum Laut atau yang biasa disebut UNCLOS (United Nations Convention On the Law the Sea).

Namun, China sendiri mengklaim Perairan Natuna Utara merupakan wilayah miliknya yang termasuk ke dalam Nine Dash Line atau sembilan garis putus-putus, menurut China wilayah itu sudah lama digunakan oleh para nelayan China terdahulu untuk mencari ikan atau yang mereka sebut wilayah perairan perikanan tradisional mereka (traditional fishing ground).

Nine Dash Line merupakan klaim sepihak yang tidak berdasar oleh China, klaim tersebut tidak diakui secara internasional, bisa disebut sebagai klaim yang ilegal.

Klaim ilegal China atas kedaulatan Perairan Natuna Utara Indonesia sangat jelas menjadi ancaman yang amat serius. Apalagi China kekeh menganggap Nine Dash Line menjadi dasar patokan kekuasaan wilayah perairannya.

Permasalahan terus berlanjut terkait masalah Laut Natuna Utara, lantaran China sering mengirim kapal-kapal miliknya di zona perairan Indonesia, terutama kapal Coast Guardnya.

Kehadiran kapal-kapal tersebut di wilayah perairan Indonesia jelas sudah melanggar ketentuan maritim sebuah negara, bisa dibilang sebagai ancaman yang sangat nyata bagi kedaulatan sebuah negara. Kapal-kapal itu bahkan pernah sempat mengusir para nelayan lokal hingga membuat para nelayan mundur jauh dari perairan itu.

Pemerintah Indonesia pun telah melakukan protes kepada China terkait masuk nya kapal-kapal China ke Laut Natuna Utara. Namun China bersikeras bahwa mereka memiliki hak dan kepentingan atas perairan Natuna Utara yang termasuk klaim Nine Dash Line yang mereka tetapkan.

Dikutip dari Radio Free Asia, pada Senin (7/12/2020), Juru Bicara Kementrian Luar Negeri China, Geng Shuang menegaskan negaranya memiliki hak atas semua klaim Nine Dash Line. “Apakah Indonesia menerimanya atau tidak, tidak ada yang akan mengubah fakta objyektif bahwa China memiliki hak dan kepentingan atas perairan dalam klaim Nine Dash Line,” ucap Shuang.

Pemerintah Indonesia sendiri melalui Menteri Luar Negeri, Retno Marsuadi menekankan pada China bahwa tidak akan pernah mengakui Nine Dash Line yang ditetapkan China. Menurutnya klaim yang dilakukan oleh China tidak memiliki dasar hukum yang diakui oleh hukum internasional, terutama UNCLOS.

Kenapa China ngotot sekali mengklaim perairan Natuna Utara Indonesia ? 

Diketahui bahwa Laut Natuna Utara memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat berlimpah. Salah satu potensinya adalah minyak, gas alam dan sumber ikan yang berlimpah ruah.

Diketahui info dari data Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral, salah satu blok pengeboran gas alam Natuna, Blok East Natuna menyimpan volume cadangan gas sebanyak 222 triliun kaki kubik. Diasumsikan bahwa apabila dieksplorasi, cadangan gas ini tidak akan habis hingga 30 tahun mendatang.

Potensi perikanan pun sama menggiurkannya, berdasarkan studi identifikasi potensi sumber daya kelautan dan perikanan Provinsi Kepulauan Riau, tahun 2011, potensi ikan di Laut Natuna mencapai 504.212,85 ton per tahun. Tak heran jika China bersikeras mengklaim Perairan Natuna Utara, China diduga ingin menguasai kekayaan sumber daya alam di Perairan Natuna.

Perairan Natuna Utara memang memiliki daya tarik tersendiri bagi negara asing yang berusaha mengklaimnya, terutama China. Penting sekali bagi kita Indonesia menjaga mati-matian Natuna Utara agar tidak jatuh ke pihak asing.

Perairan Natuna Utara bukan hanya sekedar perairan yang memiliki sumber daya alam potensial bagi Indonesia, letak posisi Natuna juga sangat menguntungkan bagi Indonesia, Natuna berada di persimpangan jalur pelayaran internasional yang menghubungkan dengan beberapa negara seperti Hong Kong, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan negara lainnya.

Di bagian sebelah utara, Natuna juga berbatasan dengan Vietnam dan Kamboja, di sebelah selatan dengan Sumatera Selatan dan Jambi, di sebelah barat dengan Singapura, Malaysia, Riau, dan di sebelah timur dengan Malaysia Timur dan Kalimantan Barat. Dan berbatasan langsung dengan Laut China Selatan, yang merupakan jalur pelayaran internasional.

Perairan ini juga menjadi jalur perlintasan perdagangan di Asia Tenggara, tentunya banyak sekali kapal-kapal asing yang keluar masuk melalui perairan ini. Sebagai salah satu jalur perdagangan internasional yang menghubungkan Laut China Selatan dan Samudra Hindia,  jalur ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi bagi yang menggunakannya, terutama bagi Indonesia.

Sebagai salah satu gerbang utama masuknya kapal-kapal asing di utara Indonesia, Indonesia sendiri harus benar-benar serius dalam mempertahankan kedaulatannya atas Perairan Natuna Utara. Wilayah maritim di sekitar Kepulauan Natuna juga termasuk lokasi-lokasi kunci pertahanan yang strategis dalam segi militer.

Jika China menguasai perairan teritorial ini dan pulau-pulau di sekitarnya, maka akan mengancam posisi keamanan Indonesia dan bisa menjadi pangkalan bagi pasukan China untuk menyerang Indonesia dari jarak dekat. Apalagi China diketahui sedang gencar-gencarnya membangun pangkalan militer di Laut China Selatan yang tak jauh dari Perairan Natuna.

Diketahui bahwa jarak kepulauan Natuna yang terdekat dengan salah satu pangkalan militer China yang berada kepulauan Spratly hanya berjarak 1.120 Km. Dari jarak yang sangat dekat tersebut maka tak heran bahwa China kerap kali mengirimkan kapal-kapal miliknya ke kawasan Perairan Natuna. Pangkalan militer tersebut memiliki landasan udara sepanjang 3,3 kilometer yang cukup besar untuk mendaratkan berbagai pesawat komersial dan militer.

Pangkalan tersebut juga telah membangun berbagai kebutuhan dasar seperti perumahan, logistik dan gudang senjata untuk militer China. Di samping landasan juga terdapat pelabuhan sehingga kapal frigat dan kapal perusak dapat berlabuh di pangkalan militer ini.

Yang paling mengkhawatirkan pangkalan militer itu bisa saja memuat pesawat pembom nuklir China, Xian H-6. China bisa mengerahkan pembom nuklir Xian H-6 yang punya daya jelajah mencapai 1.800 – 6.000 km, dengan daya jelajah yang sangat luas itu, pembom nuklir China ini sangat sanggup melakukan serangan ke wilayah Natuna bahkan bisa menjangkau Jakarta.

Xian H-6 mampu membopong Rudal Balistik sejenis Dongfeng atau rudal berhulu ledak nuklir lainya, dengan rudal tersebut nampaknya sangat jelas menjadi ancaman serius bagi Indonesia.

Apa yang harus dilakukan oleh Indonesia ?

Jika tak ingin Natuna jatuh ke tangan China, Indonesia di sini harus memperkuat sistem pertahanan militernya. Meningkatkan kekuatan militer di Natuna sangat penting mengingat banyaknya ancaman yang menghampiri di Perairan Natuna Utara.

Selain meningkatkan kekuatan persenjataan militer, prajurit TNI juga harus meningkatkan kapasitas tempurnya di wilayah Perairan Natuna Utara yang berbatasan langsung dengan Laut China Selatan yang rawan konflik, serta menambah jumlah pasukan dan armada tempur yang diperlukan dalam menjaga perairan ini tetap kondusif dari ancaman asing terutama China.

Dengan meningkatkan kekuatan militer TNI di Perairan Natuna Utara, tentu bisa mencegah masuknya ancaman asing yang datang, sehingga keamanan dan kedaulatan wilayah negara Indonesia dapat terjaga.