Sejak tahun 2000-an, childfree telah menjadi fenomena gaya hidup segelintir masyarakat. Istilah ini merujuk kepada keputusan yang diambil oleh pasangan yang memang secara sengaja tidak menginginkan adanya keturunan atau anak di dalam perkawinan.

Istilah ini kembali booming beberapa tahun belakangan ini, tepatnya setelah pernyataan dari seorang influencer Gita Savitri mengenai keputusannya dan sang suami untuk memilih childfree. Tentu hal ini menuai banyak pro dan kontra, khususnya dari netizen Indonesia. Ada yang mendukung, ada juga yang menilai pasangan tersebut egois.

Sebagai masyarakat yang hidup di Indonesia tentu childfree dianggap sebagai suatu tindakan yang melanggar norma agama. Lantaran salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan. Namun perlu diingat, tentunya setiap orang berhak dalam menentukan apa yang ingin mereka lakukan.

Setiap pasangan yang memutuskan untuk menikah tentunya sudah memiliki tujuan dari pernikahan mereka. Seperti bagaimana mengatur sistem keuangan, memilih rumah untuk mereka tinggal hingga keputusan memiliki anak ataupun tidak.

Memilih untuk childfree tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Memilih childfree berati mereka tidak memiliki tanggungan beban finansial, sehingga dapat fokus terhadap diri mereka sendiri. Namun dengan konsekuensi ketika masa tua, memungkinkan mereka akan menghabiskan masa tua sendirian.

Pasangan yang memilih untuk childfree bukan semata-mata egois atau mementingkan diri mereka sendiri. Tentu banyak pertimbangan yang matang mengapa mereka memilih childfree. Menurut Agrillo & Nelini (2008) membaginya ke dalam empat kategori mengapa pasangan memutuskan untuk childfree.

Yang pertama adalah kurangnya keinginan untuk menjadi orang tua. Hal ini bisa disebabkan oleh trauma masa kecil. Kenangan buruk masa kecil membuat ketakutan untuk menjadi orang tua yang sama dengan orang tua mereka pada masa lalu dan takut jika mereka memiliki anak maka anak mereka akan merasakan hal yang serupa.

Selain itu bisa jadi hal ini disebabkan oleh kecenderungan seseorang untuk tidak menyukai anak-anak, seperti ribetnya, bawelnya hingga nakalnya seorang anak. Dan bisa jadi mereka yang memilih childfree ini dikarenakan melihat langsung dampak negatif anak pada sebuah pernikahan hingga menyebabkan mereka tak ingin menjadi orang tua.

Keinginan mengembangkan diri adalah keputusan yang sering dianggap egois oleh orang sekitar, karena dianggap adanya anak akan mengganggu privasi atau ruang pribadi dengan pasangan. Padahal bisa saja alasan ini diambil karena adanya hambatan finansial pasangan dalam membesarkan anak nantinya. Juga bisa saja karena karier belum stabil sehingga memilih childfree.

                                                                                     

Kemudian kekhawatiran fisik hingga ketidaksiapan mental juga menjadi alasan mengapa memilih childfree. Kategori ini menjelaskan mengenai kekhawatiran akan kondisi medis yang diderita oleh suami atau istri dapat memengaruhi perawatan anak dan masa depannya. Juga kekhawatiran jika anak akan mewarisi penyakit keturunan kedua orang tua.

Kepercayaan untuk tidak menghadirkan satu orang lagi di dunia adalah tindakan mulia. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa bumi sudah kelebihan populasi hingga 7,8 miliar orang. Dan sudah banyak masalah di bumi yang disebabkan oleh manusia. Seperti pemanasan global hingga pencemaran lingkungan.

Dari alasan yang telah dipaparkan Agrillo & Nelini (2008), pilihan childfree tidak dikarenakan keegoisan demi kepentingan diri sendiri. Terdapat berbagai faktor, psikologis, fisik dan ideologis turut andil dalam membuat keputusan pasangan untuk memilih childfree.

Anak memang warisan paling berharga bagi orang tua. Tetapi, pilihan hidup manusia ada di tangan mereka sendiri. Orang lain tidak dapat memaksakan kehendak kepada lainnya, termasuk juga kepada pasangan yang memilih untuk memiliki maupun tidak memiliki anak dan memilih untuk childfree.

Lagi pula sebelum memutuskan memiliki anak, seharusnya setiap pasangan sudah mempertimbangkan dan mengukur kesiapan mereka mulai dari mental hingga finansial. Jika dirasa kesiapan belum dapat dipenuhi, maka keputusan childfree ini tidak ada masalah. Selama kedua belah pihak menyetujui.

Memiliki anak berati siap bertanggung jawab sepenuhnya atas keberlangsungan hidup anak tersebut. Maka, kesiapan antar pasangan sangat diperlukan. Memiliki anak hanya karena tuntutan orang lain hingga paksaan dari orang tua pasangan hanya akan menghambat tumbuh kembang anak ke depannya.

Bukankah anak juga butuh makanan, pakaian hingga pendidikan? Bagaimana jika pasangan belum siap memiliki anak lantaran belum terpenuhinya aspek keuangan yang cukup namun diharuskan sebab tuntutan dari kedua orang tua pasangan yang menginginkan cucu? Bukankan hubungan dengan anak akan menjadi toxic?

Pertanyaan-pertanyaan ini mendasari bagaimana pasangan memilih untuk childfree. Mereka beranggapan bahwa anak adalah buah hati yang harus dibesarkan penuh cinta. Jika dirasa belum mampu maka boleh menunda hingga akhirnya memilih untuk childfree.

Keputusan childfree bukan menjadi keputusan egois semata-mata untuk kepentingan pribadi. Keputusan ini menyangkut tubuh dan kehidupan diri seorang anak kelak. Di luar nilai norma dan kepercayaan masyarakat mengenai anak, keputusan ini tetap tidak bisa dianggap keputusan sepele.

Orang lain tidak berhak menghakimi pasangan yang memilih childfree dikarenakan segala kebutuhan dan keinginan anak tersebut pastilah disediakan oleh kedua orang tuanya bukan orang lain.