Suatu hal yang harus dikecamkan oleh publik terhadap suatu seni yang sudah langganan untuk diremehkan bahkan dihujat, yaitu seni kuliner. Jangan sekali-kali anda membuat Chef Juna marah hanya karena kita menilai dirinya lebay dalam melakukan suatu makanan di televisi berjargon “oke”.

Jangankan seorang chef, dalam skala internasional, tukang cicip pun memiliki andil besar terhadap suatu produk sebelum dimarketkan dengan omzet miliaran. Kiranya tukang cicip pun layak mendapatkan gelar wong agung yang memiliki keunikan, kemuliaan, dan keberuntungan tersendiri hanya dengan berbekal “ilat” atau lidahnya sendiri.

Dewasa ini, khususnya di zaman modern, konsentrasi publik terserap oleh segala sesuatu yang sifatnya materialistis. Selalu tergiurkan oleh wujud yang tampak oleh mata telanjang. 

Bahkan ada yang rela mengikuti segala bimbel untuk mendapat kampus favorit kemudian berharap mempunyai karier dengan gaji selangit. Tapi ia lupa terhadap laku jasad yang tidak terpengaruh oleh proses pendidikannya sama sekali.

Begitu pun ketika kita melihat Chef Juna yang terlihat tempramen, Chef Renatta yang cantik-cantik tapi songong walau memang good lookingnya memikat banyak orang hingga supir truk rela memajang lukisan Chef Renatta di mobil truknya, dan Chef Arnold yang dinobatkan sebagai manusia berbadan model L-Men bermuka anak susu SGM.

Framing publik tidak sampai di situ saja. Untuk selengkapnya, silakan anda lihat di kolom komentar channel Youtube MasterChef. Kesimpulannya memang semuanya “good looking”, namun kualitas dan kemahiran lidah mereka juga pantas mendapat sebutan “good looking”, terlepas dari kemampuannya dalam mencicipi masakan dan kritiknya yang pedas.

Lidah sebagai Alat Vital

Di berbagai pondok pesantren, terdapat suatu mahfuzhot atau kata mutiara inspiratif tentang lidah. Salah satunya adalah “Salamatul insani fi hifdzil lisaani”; selamatnya manusia itu terdapat dalam penjagaan lidahnya.

Keselamatan ini dalam artian ketika seseorang ingin berkata maka harus berkata yang baik. Begitu pun untuk kesehatan; apabila badan kita terancam sakit gula, selera lidah kita tidak mencendrungi gula. 

Seorang dokter punya ilmu untuk menyensor sehat atau tidak sehat. Sedangkan Chef dibekali lidah untuk langsung menyensor apa pun yang akan dimakan atau diminumnya. Begitulah ucapan panceng seorang murid Cak Nun dalam novel terbarunya.

Jangan kira seorang Chef kerjaannya hanya sekadar mencicipi, menelan, memuntahkan, dan melempar makanan saja. Dengan melihat Chef secara seksama, mungkin apabila tidak berlebihan kita perlu mengfilsafakan profesi Chef, bahwa ada nilai tersembunyi dalam dirinya walaupun hanya dengan menggunakan lidah.

Lidah adalah alat yang lebih vital dibanding dengan alat vital yang dikenal pada umumnya. Kalau tidak punya kelamin, mungkin kita masih bisa menahan dengan puasa dan bersabar.

Coba renungkan apabila tidak mempunyai lidah, apakah kita masih sempat berzikir dan wirid? Sedangkan ketika sakaratul maut, mungkin hanya lidah yang masih berupaya untuk mengucapkan kalimat dari bisikan talqin “La ilaha illallah”.

Hanya karena semua orang rata-rata mempunyai lidah, tiap hari menikmati hidup dengan lidahnya, kuliner ke sana-kemari tidak ingat lidah, tidak berterima kasih pada lidah, tidak pernah bersyukur kepada yang memberi lidah. Bahkan kalau berdoa hanya bersyukur atas permintaan yang lain-lain, tanpa pernah menyatakan terima kasih kepada lidah.

Bahkan lidah bisa mejadi fondasi landasan triliunan dan miliaran rupiah dari industri kuliner yang berkembang pesat di Yogyakarta. Sekali saja anda berkunjung ke Yogyakarta dengan menaiki delman atau becak, sudah dipastikan mas-mas becak dan delman akan memberikan rekomendasi kuliner yang bertumpah ruah di jalanan Yogyakarta. Kita pun selaku manusia perantauan tak bisa berkedip tanpa melihat warung. Itulah inovatif dan ijtihad dari lidah.

Lidah Pelopor Art Of Culinary

Kala itu di era Orde Baru kisaran awal tahun 1990-an dinamika kreativitas kesenian dan para senimannya kemudian berhadap dengan pergolakan zaman yaitu mereka direpotkan dengan regulasi-regulasi politik terhadap karya seni di zaman Orde Baru. Mereka harus mulai berenang di arus industri.

Memang terkadang seni sering kali dipandang sebelah mata. Mungkin kita pernah meminta tolong kawan untuk mendesain suatu poster atau mungkin editing video yang unik. Ternyata kita menimpalnya dengan ucapan “halahh udahlah cuman desain doang, itung-itung kamu ngisi waktu gabut”. 

Ucapan itulah yang sering disantap oleh teman-teman pegiat dunia seni, apalagi di zaman disrupsi era yang semuanya bisa dialihkan hak cipta secara cepat bim salabim.

Namun bagi saya yang sungguh sangat kuat adalah seni kuliner. Bagaimanapun ketika seseorang mendirikan bisnis makanan dengan mencomot seni kuliner suatu daerah, maka rasanya pun akan tetap tidak sesuai ekspetasi si pelanggan. 

Anda bisa temukan banyak orang yang asal menulis “Soto Banjarmasin”, “Nasi Padang” dan penyematan kuliner daerah lainnya. Ternyata rasanya lain di lidah dan parahnya lain di hati. Itulah memang anugerah dari lidah.

Kesyukuran yang tidak kita sadari juga terdapat dalam wisata kuliner. Kuliner bukan hanya sekadar wisata, ia juga merupakan sebuah seni. The Art of Culinary

Para pelopornya pun ada yang masih dalam kasta cooks bahkan ada yang level chefs. Mereka tergolong pahlawan kehidupan. Pejuang-pejuang penguah kenikmatan. Hanya karena lidah suatu daerah bisa mendapatkan omzet miliaran bahkan triliunan.

Para pelopor seni kuliner juga ia adalah seorang penguak misteri Tuhan yang tersembunyi dalam segala hamparan anugerah bahan-bahan alam. Mereka mengiris miserinya, menyelami segala khasiatnya, memahami peta zat-zat dan kandungan gizi maupun kenikmatannya.

Mereka kemudian meraciknya, menciptakan komposisi, memasaknya menjadi paket-paket kuliner. Masyarakat lalu menikmatinya, bukan hanya sekedar menikmati makanan dan minuman, melainkan kesadaran betapa Tuhan sangat menyayangi hamba-Nya melebihi apa yang mereka sadari dengan disuguhkan bahan pokok makanan yang terhampar luas di nusantara.

Parahnya lagi kuliner mampu mempengaruhi seorang ilmuwan dan kolumnis majalah ternama –Bondan Winarno- yang beralih profesi menjadi seorang pencicip makanan. Ia tidak mau disebut Chef  karena ia mempunyai niat hanya untuk merekomendasikan warung yang sudah dijajalnya.

Diakhir, mari kita jangan meremehkan para juru masak, pencicip makanan atau kurang ajarnya lagi kita menghardik makanan atau seni kuliner. Sebab seseorang yang kerjanya hanya meletakkan suatu jenis makanan di wadah yang seperti apa, meletakan di mejanya harus bagaimana, warna makanannya matching atau tidak dengan warna wadah, meja, serta semua lingkungan suguhannya. Itu semua sangat menentukan kekuatan pemasaran. Bahkan ia digaji sekitar 600 Juta rupiah per tahun.