Senyummu begitu mempesona. Tanganmu begitu luwes memainkan peralatan memasak. Kau begitu pantas mengenakan celemek saat memasak segala makanan. Tak pernah melihatmu gagal menyajikan makanan dengan rasa yang sempurna.

Kamu yang selalu menyajikan setiap makanan untuk keluarga. Menyiapkan di atas meja makan dengan platting yang sungguh membuat setiap orang takjub dan tak bisa berkata. Fan, begitu panggilan akrabnya.

Fan, sosok penyabar dan selalu memberikan yang terbaik untuk keluarga. Seorang suami dengan penuh perhatiannya sedang menyiapkan berbagai masakan untuk makan malam bersama keluarga besarnya.

Setiap masakan yang diolah dengan tangannya, selalu mendapatkan pujian dari seluruh penikmatnya. Begitulah Asti bercerita. Istri yang selalu menemani kegiatan Fan di berbagai tempat.

Fan dan Asti adalah pasangan suami istri yang telah dikaruniai seorang anak. Pernikahannya baru berusia tiga tahun. Mereka dipertemukan dalam kontes memasak terbesar saat itu. Fan adalah salah satu finalis dalam kontes tersebut dan Asti adalah penggemar terbaik Fan.

Setiap kali Fan memperlihatkan kepiawaiannya dalam memasak, Asti selalu memberikan dukungan yang berakhir di atas pelaminan.

Kesetiaan Asti menemani setiap langkah Fan membuat benih-benih cinta semakin tumbuh. Begitulah cinta, jika rasa nyaman dan kesetiaan telah datang maka hati akan semakin mantap untuk menetap.

“Yah, lusa kita akan adakan acara keluarga di rumah Papah ya.” Kata Asti kepada suaminya.

“Lho bukannya masih minggu depan ya mah?.” Fan menanggapi.

“Egak Yah. Tadi Papah memberi kabar kalau acara diajukan. Minggu depan Papah ada tugas ke luar kota.” Jawab Asti.

“Besok kita akan masak tiramisu ya untuk desertnya.” Ajak Fan.

“Bener banget Yah. Papah sama Mamah suka banget tiramisu buatan kamu.” Jawab Asti

Begitulah mereka. Kompromi untuk memasak adalah hal yang paling utama dalam setiap acara.

Pagi itu cuaca mendung. Pria tampan berkacamata telah siap untuk eksekusi setiap masakan yang ingin dihidangkannya nanti malam. Tangannya sudah mulai bersiap memotong daging ayam yang telah dibelinya di supermarket kemarin sore.

Pria tampan berkacamata itu mulai konsentrasi dengan segala pekerjaan dapur. Memotong daging saja butuh teori, Fan mulai mencari mode on saat memasak.

Asti hanya membantu dengan arahan yang diberikan oleh Fan. Hanya mempersiapkan peralatan memasak dan meletakkan masakan yang sudah matang di atas meja. Begitulah mereka.

Pria itu mulai memasak dengan penuh bahagia. Tidak lupa lagu-lagu sendu menemani setiap langkah memasaknya.

“Mah, tolong ambilkan piring hijau di almari ya.” Kata Fan.

“Iya Yah. Buat tempat apa?” Tanya Asti.

“Buat dagi ayam goreng crispy ya.” Jawab Fan.

Satu demi satu masakan telah siap dihadangkan. Fan memang terkenal rapi dan pandai mengatur waktu saat memasak. Hidangan yang disiapkan selalu bervariasi.

“Mah, Aku juga membuat hidangan kesukaan Mamah.” Kata Fan

“ Aku tahu Yah. Kentang gorengkan?”  Asti menanggapi.

“ Kentang goreng spesial dong.” Fan menjawab

Hari semakin sore. Seluruh hidangan telah siap untuk disantap. Keluarga besar Fan dan Asti sudah mulai berdatangan.

Seperti biasa setiap acara keluarga tidak hanya menyantap makanan namun juga saling bercerita tentang usaha yang telah mereka rintis. Fan dan Asti juga sedang merintis restoran makanan khas berbagai negara.

Fan, pria tampan berkacamata itu sangat tertarik dengan makanan lokal Indonesia dan Asti, istrinya lebih memilih makanan khas Jepang atau Korea. Keduanya memilih merintis restoran khas Indonesia, Jepang dan Korea.

Restoran itu telah mereka rintis sejak mereka belum menikah. Enam bulan sebelum menikah, Fan dan Asti berkomitmen untuk membangun usaha bersama. Fan dengan keahlian memasaknya, berhasil mendirikan tiga restoran favorit.

Setiap restoran yang mereka miliki setiap harinya lebih dari seratus pengunjung. Omset yang mereka dapatkan sudah mencapai milyaran rupiah.

Asti tidak hanya berdiam diri di rumah saja. Dia juga mendirikan toko belanja online untuk pemasaran kue-kue atau makanan yang dibuat sendiri oleh Fan, suaminya.

Kue-kue dan makanan yang menjadi produksi harian Fan sangat diminati oleh setiap kalangan. Bagaimana tidak, kue-kue dengan bentuk dan rasa yang mempesona membuat setiap orang ketagihan.

Setelah setiap keluarga bercerita tentang usaha mereka, akhirnya waktu yang ditunggu telah datang. Makan bersama masakan seorang chef terkenal di kotanya itu. Pria tampan berkacamata. Suami Asti yaitu Fan.

“Fan, bagaimana kita mau makan sedikit. Masakanmu sangat menempel di lidah. Tidak mau kita kalau makan hanya sedikit saja.” Kata Papah dengan suaranya yang menggelegar.

“Papah memang selalu begitu. Bukannya lebih enak masakan mamah?” Mamah bergurau.

“Iya Mah, enakan masakanmu sedikit, banyakan karya Fan dong.” Papah menjawab dengan tawanya.

“Ayo semuanya makan. Kita habiskan masakan chef terkenal di kota ini.” Ajak Papah untuk semua tamu yang datang.

Begitu cerianya acara keluarga Fan dan Asti. Mereka saling membantu dan memperhatikan satu sama lain. Menceritakan usaha yang mereka rintis adalah salah satu cara untuk melihat kemampuan ekonomi keluarga besarnya.