Hey yo, apa kabar semua? Semoga dalam kondisi pandemi yang sudah berlangsung cukup lama ini, sedikitpun tidak menyurutkan semangat kita untuk terus belajar dan produktif ya teman-teman.

Kali ini, saya membawa persoalan 'perempuan' yang cukup kompleks. Saking kompleksnya saya sendiri sulit menemukan titik terang, mungkin akan menarik jika didiskusikan.

Saya tidak memprediksi siapa-siapa saja yang akan mengeklik tautan ini, namun saya punya pertanyaan khusus bagi 'perempuan' yang sekarang sedang membaca tulisan saya.  

Adakah dari kalian yang merasa berbeda dari perempuan pada umumnya? Apapun case-nya, dari hal-hal terkecil misal:

"Gue gak suka warna pink, itu cewek banget".

"Meskipun gue cewek, gue gak suka tuh sama bunga ataupun boneka".

"Disaat cewek lain udah pada jago make up, gue masih pake bedak my baby. Orang pada jago bikin alis, lha gue? Sibuk nonton Titan".

"Sorry ya, gue gak rempong dan suka gosip kayak cewek-cewek lain".

"Ngapa ya? kalo bareng cewek pasti banyak drama".

"Jujur aja, gue lebih prefer dan nyaman nongki (baca: nongkrong) bareng laki-laki dibanding sama perempuan".

Yah, contohnya segitu saja paling. Intinya ada perasaan; kalian merasa beda dari perempuan pada umumnya. 

Perlu diketahui, setiap manusia masing-masing memiliki sisi maskulin dan feminim (dari 2 sisi tersebut, ada sisi yang mendominasi dalam diri manusia. Bahkan, ada juga yang seimbang). 

Kalian jangan sampai keliru. Ini materi basic, feminim dan maskulin itu bukan soal perempuan atau laki-laki lho ya. Ada perempuan yang sisi maskulinnya mendominasi dan laki-laki yang sisi feminimnya mendominasi.

Sehubungan dengan judul, saya akan fokuskan pembahasan pada; perempuan yang sisi maskulinnya mendominasi, atau sering kita kenal dengan julukan tomboi. 

Tapi, tomboi bukan persoalan utama dalam tulisan ini. Begini, beberapa hari lalu saya tidak sengaja menonton video Gita Savitri Devi di YouTube. Video tersebut berjudul I'm not like other girls (artinya: Aku tidak seperti gadis lain).

Dalam konten tersebut dijelaskan soal Internalized Misogyny (nanti saya paparkan). Gita sendiri mengungkapkan bahwa dia memiliki perasaan; kalau dirinya berbeda dari perempuan pada umumnya. 

"Selain itu, gua suka julid ke cewek-cewek lain, khususnya ke cewek-cewek yang gua anggap lemah, cewek yang 'cewek banget' atau terlalu menye-menye. Sampe akhirnya gua sadar, kalo gua mengidap Internalized Misogyny", kata Gita dimenit 0.53-1.08 (untuk lebih jelasnya, silahkan tonton sendiri).

Lalu, apa sih Internalized Misogyny itu?

Dilansir dari simply.chataja.co.id, Internalized Misogyny adalah sebuah perilaku yang kerap merendahkan sesama perempuan hanya untuk meninggikan dirinya sendiri. 

Sebuah studi yang dilakukan oleh Dawn M. Szymanski, Arpana Gupta, Erika R. Carr dan Destin Stewart, menyatakan bahwa Internalized Misogyny menjadi penghubung antara seksisme dan gangguan psikologis wanita.

Untuk arti kata 'Misogini', kalian bisa lihat di KBBI. Misogini: kebencian terhadap wanita, Misoginis: orang yang membenci wanita. Sedangkan Internalized memiliki arti 'diinternalisasikan'. Dapat disimpulkan bahwa Internalized Misogyny adalah kebencian pada wanita yang berasal dari internal (kelompok yang sama). CMIIW!

Dari paparan di atas, kalau misal kebencian terkesan jahat, kalian bisa ganti artikan benci dengan hal-hal serupa seperti; risih, geram, gemas, geli, dislike dan lain-lain.

Pengidap Internalized Misogyny biasanya risih pada perempuan dengan stereotip tertentu. Apa saja coba stereotip yang melekat pada perempuan? Rempong, tukang gosip, dandannya lama, menye-menye, cengeng, suka belanja, pink warna cewek, matre, hayo apa lagi? Banyak lah ya. Pokoknya, si pengidap pasti cenderung bias terhadap stereotip-stereotip tersebut.

Sekilas setelah menonton video Gita, awalnya saya kira Internalized Misogyny ini cenderung diidap oleh perempuan yang tidak terlalu feminin. Tapi ternyata, setelah diselami lagi, baik tomboi maupun tidak, kita sama-sama berpotensi mengidap Internalized Misogyny.

Yang melatarbelakangi saya menulis ini, salah satunya karena saya sempat keliru dengan konsep Internalized Misogyny. Pertama, saya merasa tomboi dan mengafirmasi ada Internalized Misogyny dalam diri saya. Kedua, saat mencari referensi, rata-rata contoh dalam materinya merujuk pada perempuan tomboi. Lalu, saya langsung mendikotomikan perempuan tomboi dan feminin.

Tapi nyatanya tidak bisa digeneralkan, tiap-tiap perempuan yang tomboi belum tentu mengidap Internalized Misogyny. Meskipun Gita sendiri karakternya agak tomboi, dan ciri-ciri yang disebutkan mengarah pada cewek tomboi. Realitanya, ini sangat kompleks. Toh banyak juga hal kebalikan, yang feminin bisa saja punya Point of View (POV); perempuan tomboi adalah orang yang pecicilan dan kurang bisa merawat diri (bad girl?).

***

Terkait hal ini, saya sampai melakukan survei kecil-kecilan via online kepada 3 orang perempuan terdekat saya. Kepada 3 narasumber, saya lontarkan pertanyaan random seperti:

"Ada gak perasaan risih kepada sesama perempuan? Kalau ada, risih kepada perempuan yang seperti apa?".

Jawaban mereka berbeda-beda, ada yang biasa saja terhadap perempuan feminin (malah suka), ada yang cukup sayang melihat perempuan jika hanya fokus penampilan saja. Pokoknya, soal penampilan tidak begitu jadi soal di sini. Tapi saya menemukan satu hal seragam yang mereka tidak sukai, ketiganya tidak menyukai perempuan lembek; 'menye-menye'

Saya tanyakan lagi soal itu kepada mereka, "menye-menye yang seperti apa sih maksudnya?".

Jawaban mereka begini:

A : "Aku paling risih kalau ada cewek yang caper di depan laki-laki, menye-menye".

B : "Yah gimana ya, contohnya kayak; buka tutup botol aja gak bisa".

C : "Kalau menye-menye versi ku sih, lebih ke perempuan itu gak bisa membuat keputusan. Gak berdaulat atas dirinya sendiri, suka gemes".

Tidak berhenti di situ, saya menanyakan kepada mereka, "Apakah ada perasaan, lebih nyaman berkumpul dengan laki-laki dibanding dengan perempuan? Kalau iya, alasannya?".

Jawaban ketiganya adalah, ya.

A : "Kalau sesama perempuan itu cenderung toxic, gosip mesti".

B : "Aku sih lebih nyaman sama laki-laki, karena mereka itu service-nya gak berlebihan. Kan kalau misal curhat sama cewek nih, pasti rempong, kalau gak rempong ya bocor".

C : "Untuk nongkrong, memang aku lebih prefer sama cowok. Lebih bisa los-losan gitu, karena gak semua cewek bisa nyambung kalau diajak ngobrolin isu. Kecuali, kalau dalam forum diskusi formal, aku suka tuh ada cowok ada cewek".

Sebenarnya masih banyak dialog, hanya saja saya tidak bisa menyantumkan semuanya di sini. Goals dari wawancara tersebut, sebagai bentuk penguatan dari praduga saya. Kalau 3 orang dirasa tidak fair, silahkan kalian survei mandiri kepada orang terdekat kalian.

Nah, prilaku Internalized Misogyny termasuk pola pikir patriarki yang membenarkan bahwa perempuan adalah kelompok inferior. Sehingga ada dorongan untuk menghindari berbagai stereotip yang melekat pada perempuan. Dan pengidap cenderung berjalan ke arah yang lebih maskulin, lalu muncul perasaan lebih unggul dari kelompoknya sendiri.

Latarbelakang seseorang menjadi Internalized Misogyny juga berbeda-beda, ada faktor didikan (keluarga), konsumsi pribadi (tontonan, bacaan), pengaruh lingkungan (konstruksi), pola pikir yang keliru dan masih banyak lagi.

Ciri-cirinya; secara tidak sadar merasa lebih tangguh dari perempuan lain, merasa lebih cool dan berbeda dari perempuan pada umumnyaTidak sadar menjejalkan standar idealis pribadi kepada perempuan lain. "Lebay banget, harusnya kan gak perlu gitu, kamu tuh jadi cewek harusnya begini, jangan lemah, bla bla bla". Si pengidap jadi punya POV yang sama dengan laki-laki dalam memandang perempuan.

Dari sini, kalian bisa mulai indentifikasi, baik kepada diri sendiri ataupun orang terdekat. Apa komentar kalian soal Internalized Misogyny? Apa benar cewek tomboi cenderung mengidap Internalized Misogyny? Dan yang terpenting, bagaimana seharusnya bersikap kepada sesama perempuan?

Jika tulisan ini relate, yang perlu kita lakukan adalah meminimalisir pikiran seksis terhadap sesama perempuan. Stereotip perempuan itu simple problematic (gosip, matre, genit) terkesan natural, dan sayang sudah mengakar. Dari stereotip, terciptalah Internalized Misogyny yang memicu perempuan merasa annoyed, risih dan sinis terhadap kelompoknya sendiri. 

Sudah saya katakan, ini sangat kompleks. Ada faktor terkait yang belum dibahas juga (soal selera dan pilihan) ini berorientasi pada; bagaimana kita menghargai pilihan seseorang, bagaimana berpikir luas (tidak dangkal dalam menilai sesuatu). 

Kalau kata Gita, "Untuk meminimalisir Internalized Misogyny ini, kita harus sadar, kalau ada beberapa aspek yang bikin kita 'secara gak sadar' jadi punya pandangan seksis kepada kelompok kita sendiri. Mulai dari situ, baru kita pelan-pelan mengubah cara pandang kita. Supaya kita berhenti mendikotomikan satu sama lain (cewek gaul, shallow girls, cewek nakal). Lebih baik kita saling mendukung satu sama lain dan melawan musuh kita yang sesungguhnya, yaitu patriarki".

Bagaimana? Sudah tergambar soal Internalized Misogyny? Pesan saya sih, kalau dalam diri mulai muncul rasa risih pada perempuan lain, cobalah untuk rem pikiran seksis kita. Memangnya kita tahu apa soal mereka? Dan lagi, apa gunanya kita risih? Itu tidak membuat kita menjadi istimewa. 

Apalagi, kalau sampai julid dan melontarkan kata-kata yang menyakiti. Hanya karena kita punya kebebasan, apa kita berhak merendahkan orang lain?

Catatan:

Ini paragraf khusussaya mau ucapin terimakasih banyak buat Teteh Lusi Eka Puspitasari, Mbak Alfa Nihlatillah dan Ria Riski yang sudah mau menemani saya diskusi sebelum tulisan ini dibuat (nanti saya traktir kopi hehe).