Tuan presiden sebuah negeri antah-berantah dikenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang bijaksana. Salah satu buktinya, tuan presiden berhasil membuat rakyatnya makmur. Ekonomi tertata dengan baik. Harga kebutuhan pokok tidak pernah naik. Biaya pendidikan digratiskan, mulai tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Perdamaian dan kerukunan terjadi secara apik.

Situasi boleh seperti itu, namun di balik semua itu ada satu kejanggalan yang selama ini terpendam. Rakyat memang makmur, tapi tidak pernah bisa naik ke taraf hidup yang lebih tinggi. Rakyat hanya bisa mencapai level menengah, tak bisa naik ke posisi high level, alias konglomerat. Posisi high level hanya disandang orang-orang dekat tuan presiden.

Kejanggalan itu berhasil dibaca dan diketahui oleh seorang aktivis. Sang aktivis tersebut mengetahui kejanggalan itu setelah melakukan sebuah penyelidikan. Hasilnya ia berhasil membongkar rahasia yang selama ini disimpan tuan presiden. Tanpa perlu berpikir panjang, ia pun mengumumkannya ke mana-mana.

Berjalannya waktu, aktivis pembongkar rahasia itu akhirnya dipanggil menghadap kepada tuan presiden. Ia dihadirkan untuk dimintai penjelasan, dan selanjutnya tuan presiden akan memberikan hadiah, supaya ia tutup mulut. Menurut tuan presiden, rahasia adalah kekuasaan. Maka kalau rahasia terbongkar, kekuasaanpun akan ambruk.

Namun yang terjadi di forum itu, sang aktivis menolak semua bujuk rayu tuan presiden. Maka tuan presidenpun murka. Seketika itu ia naik pitam. Kalap. Sampai pada satu peristiwa yang mengagetkan, tuan presiden mengeluarkan pistol emasnya. Kemudian menembaki semua yang hadir di forum istana itu.

Kemunculannya

Anekdot di atas adalah substansi dari salah satu cerpen lawas saya berjudul Tragedi Tigapoli yang pernah dimuat sebuah jurnal sastra lokal. Substansinya menunjukkan sebuah kenyataan yang mengagetkan. Sebuah kenyataan yang bertolakbelakang. Bahwa banyak orang yang tiba-tiba saja berubah drastis tidak seperti ia yang selama ini dikenal. Perubahan yang cenderung khilaf dan kalap. Dan perubahan itu disebut cetusan hati.

Cetusan hati adalah bahasa lain dari emosi. Dari corong filsafat sendiri seperti dinyatakan Theo Huijbers dalam karyanya Manusia Merenungkan Dirinya, bahwa di setiap cetusan hati pasti mempunyai tanda. Berupa timbulnya suatu reaksi yang berlebih-lebihan. Akibat dari penghentian irama perkembangan psikis yang normal pada dirinya. Sehingga akibat lanjutannya, motorik badan yang diatur sistem saraf vegetatif menjadi terganggu.

Tanda itu muncul, karena manusia punya perasaan di dalam dirinya. Perasaan yang telah mengalami proses pengadukan atas situasi yang menurutnya tidak enak, yang dihadapinya. Lebih-lebih yang menyakitkan bagi keinginan dan ambisinya.

Kemunculan cetusan hati itu akan berbentuk banyak tindakan. Sering terjadi secara irasional. Salah satunya seperti tindakan tuan presiden, karena rahasianya terbongkar, ia pun marah. Lalu menembaki siapapun yang berada dalam ruang istana. Korbanpun berjatuhan dengan sia-sia.

Siapapun bisa tercetus hati. Apabila irama perkembangan psikisnya yang selama ini berjalan, mendadak terhenti. Dan sering terjadi, siapa yang menghentikan irama psikis seseorang, akan dibalas dengan tindakan tertentu. Paling fatal berupa penghilangan nyawa, alias pembunuhan.

Semakin Menjamur

Kini, banyak orang sering mengalami cetusan hati. Semakin hari semakin bertambah banyak jumlah mereka. Mereka mudah emosi. Mudah meluap. Meskipun ia bukanlah seorang raja, presiden, atau politisi.

Resiko tinggi itu terjadi akibat kesalahan mereka sendiri dalam melihat dan mencerap situasi. Disebabkan satu hal pokok: kompleksitas kehidupan yang carut marut yang gagal dipahami. Karena mereka tidak bisa mengurai kecarutmarutan itu, potensi nalar sehatnya tidak bisa dimunculkan. Yang bisa ia lahirkan hanya cetusan hati atau emosi dari perasaan.

Jika diurai, kompleksitas kehidupan yang carut marut itu terdiri dua kenyataan. Pertama, akibat terlalu khusyuk pada politik perebutan kekuasaan yang beberapa tahun ini kita alami. Kekhusyukan itu mewujud “pendewaan” terhadap kelompok politiknya sendiri dan “pengiblisan” terhadap kelompok kompetitornya. Tak pelak, yang keluar dari pikirannya selalu kebencian terhadap kompetitor iblisnya itu.

Dan kedua, fanatisme yang keterlaluan kepada kelompoknya sendiri itu lebih menguat lagi secara emosional oleh “ulah” media sosial. Sederhananya, ketika kefanatikan yang kebablasan itu dituangkan di media sosial, maka kekuatan rasional akan hilang, diinvasi oleh kekuatan emosional yang dentumannya sungguh besar. Cetusan hatipun akan berpotensi abadi.

Sudah tidak terhitung berapa kali kasus penghinaan kepada siapapun yang tidak sepandangan dengannya terjadi. Mulai dari orang-orang biasa, hingga kepada sosok-sosok yang selama ini dihormati banyak orang. Bahkan sungguh sering orang yang dibenci dan dihina, sebetulnya berjasa besar kepada bangsa ini.

Makhluk Rohani

Nietzsche pernah memberikan pemahaman tentang manusia dalam Sabda Zarathustra-nya. Menurutnya manusia itu tak ubahnya segepok ular-ular buas yang jarang berdamai di antara mereka. Lantaran itulah mereka bergerak sendiri-sendiri untuk mencari mangsa di dunia ini.

Betapa mengerikan pemahaman Nietzsche itu. Semua manusia dianggap seburuk itu. Namun sabda Zarathustra tersebut bisa kita fungsikan sebagai cermin diri. Bahwa setiap kita punya potensi menjadi ular-ular buas yang inginnya hanya perang dengan orang lain. Berseteru dengan kelompok lain. Menganggap orang dan kelompok lain hanya sebagai musuh. Salah satu pemantiknya, adanya cetusan hati yang membesar dan tidak bisa dipadamkan.

Tapi kita perlu bersyukur bahwa manusia yang tidak bisa memadamkan bara di hatinya itu, bukanlah manusia yang ideal. Sebab manusia yang ideal adalah yang tidak melepaskan martabatnya sebagai makhluk rohani. Sesosok makhluk yang punya potensi besar berupa rohani, yang mampu meredam cetusan hati berupa bara kebencian dan permusuhan itu.

Oleh karena itu siapapun manusia yang sering memendam bara kebencian dan permusuhan, sebenarnya ia telah melangkah mundur. Menjauhi martabat rohaninya yang agung. Dan langkah mundurnya itu menuju pada status lawasnya: keprimitifan diri. Bahkan ke lubang yang menjadikan ia laksana ular-ular berbisa.