Sastrawan
2 tahun lalu · 2643 view · 6 menit baca · Seni donquixote.png

Cervantes, Don Quixote: Olok-Olok, Kebenaran

Tahun ini, persisnya 22 April yang baru lalu, sebagian orang di dunia merayakan 400 tahun wafatnya Cervantes. Don Quixote-nya, yang bagian pertamanya terbit di Spanyol di tahun 1605, kini bagian dari percakapan global; di Indonesia novel ini bahkan sudah diterjemahkan Abdul Moeis di tahun 1923 sebelum zaman "Poedjangga Baroe".

Sebagian besar pembacanya, sejak di abad ke-17 itu, mengangapnya sebuah kisah yang lucu -- dan mungkin Cervantes sendiri memaksudkannya demikian. Motif utamanya memang mencemooh kisah-kisah ksatria romantis dengan cinta yang berbunga-bunga yang sangat digemari di zamannya --kurang-lebih seperti sinetron di televisi kita hari ini.

Don Quixote adalah olok-olok atas sebuah anakronisme yang parah: seorang yang saking tergila-gilanya kepada hikayat caballero erante jadi sinting dan mengkhayalkan diri sebagai "ksatria pengembara" di sebuah zaman yang sudah sekian abad tak kenal tokoh seperti itu -- kurang-lebih seperti seorang Jawa yang hidup di zaman Hindia Belanda berjalan ke sana ke mari membayangkan diri (dan memakai kostum) ksatria Majapahit.

Heroisme itu menggelikan; atau heroisme hanya semacam gejala rasa bosan. Cervantes meletakkan latar Don Quixote bukan di wilayah Spanyol yang dihiasi kastil tua dengan bukit dan pohon hutan yang rimbun dan romantis. Cervantes memilih wilayah La Mancha, sebuah dataran tinggi yang nyaris kosong dan menjemukan; bahkan desa tempat Don Quixote disebutkan tinggal adalah sehimpun rumah yang amat lumrah.

Cemooh ini membuat Don Quixote jadi "kejam" dalam menertawakan orang, dalam hal ini tokoh utamanya sendiri. Vladimir Nabokov, yang membahas novel ini dalam satu seri kuliah di Harvard di awal 1950-an, bahkan konon menyamakan sikap Cervantes dengan kekejaman penyaliban Yesus. Tapi dengan perspsektif humor itu pula Don Quixote jadi pemula prosa modern: di dalamnya anasir realisme kuat justru dengan seseorang yang siang malang dirundung fantasi tentang zaman sebuah masa yang tak ada lagi.

Bahkan di jilid kedua, Don Quixote makin tampil sebagai karakter sebuah novel, bukan tokoh sebuah hikayat; ia tetap sinting, tapi ini kesintingan yang terbatas pada khayalnya menjadi seorang ksatria dari dongeng. Selebihnya, ia cukup beres.

Karya ini laris. Cetakan pertama dilakukan dengan lekas dan murah; baru setelah diterbitkan di London dan Brussels format bukunya diproduksi lebih bagus. Kelarisan Don Quixote membantu kehidupan Cervantes yang selama bertahun-tahun hidup melarat. Ia bermula sebagai tentara, konon serdadu bayaran, terluka dalam perang laut, tangannya lumpuh, kemudian jadi tawanan bajak laut di Algiers, dan akhirnya kembali ke Spanyol dalam keadaan rudin. Beberapa kali ia dipenjara karena perkara uang. Ia coba menulis lakon, novel ketengan, dan lain-lain. Tapi baru. Don Quixote, yang terbit ketika ia sudah berusia di atas 55, yang membuatnya kaya dan kekal.

Untuk sekedar memperingatinya, saya turunkan tulisan di bawah ini (berdasar pada sebuah "Catatan Pinggir") dengan kutipan pemikir Spanyol, Miguel de Unamuno -- mungkin orang pertama yang mempelopori tafsir baru tentang Don Quixote, yang biasanya hanya menampilkan tokoh itu sebagai sosok yang untuk ditertawakan: "Don Quixote melontarkan diri ke dalam aksi, ke dalam laku, dan membuka diri untuk diolok-olok; dengan demikian, dialah salah satu tauladan kerendahan-hati yang paling murni."

Tapi olok-olok yang panjang yang jenaka itu kemudian jadi serius.

Menertawakan Don Quixote telah jadi kelaziman berabad-abad. Tokoh ini seorang hidalgo, bangsawan kecil, yang jadi majenun karena terlampau banyak membaca cerita ksatria zaman lama. Kita kenal adegan lucu yang termashur ini: Don Quixote menaiki kuda kurus yang ia beri nama Rocinante, memakai panci sebagai tutup kepala, dan menyerang kincir angin karena ia yakin itulah gergasi.

Cervantes sadar kisahnya kocak. Tertawa pertama kita temukan di novel itu sendiri di bab ke-9.

Di sana mula-mula disebutkan bagaimana sang pengarang tak bisa menyelesaikan ceritanya: ia tak bisa menemukan bahan tertulis tentang petualangan Don Quixote. Untunglah pada suatu hari ia berada di alcaná, bagian pasar tua orang Yahudi di kota Toledo. Ia menemukan seorang anak yang menjual berkas kertas-kertas lama. Tertarik, Cervantes membelinya. Lembar-lembar itu bertuliskan huruf Arab. Penuh rasa ingin tahu apa gerangan isinnya, ia mencari seorang morisco untuk menerjemahkannya. Baru saja mulai membaca, si penerjemah terkekeh-kekeh...

Tapi bagian ini tak dilanjutkan dengan adegan lucu. Dengan segera lanjutan cerita menukik ke dalam sebuah narasi yang justru minta dihadapi dengan bersungguh-sungguh. Pada berkas kertas itu tercantum: "Hikayat Don Quixote dari La Mancha, ditulis oleh Sayid Hamid Bin Angeli, seorang sejarawan Arab"...

Don Quixote: ditulis seorang sejarawan? Sebuah cerita sejarah? Tak ada jawaban yang jelas. Dalam bahasa Spanyol-Castilia (setidaknya di abad itu), baik "sejarah" dan "kisah" disebut historia. Cervantes menggunakan dua arti dan dua sisi itu dengan menarik -- dan mungkin itu sebabnya Don Quixote dianggap model novel modern: ia membawakan pelbagai lapisan suara. Ia bahkan mempertanyakan "kebenaran"-nya sendiri.

Di bab ke-16 jilid kedua, seorang pelancong bertanya kepada sang tokoh utama yang menampilkan diri sebagai caballero erante itu: "Sekarang setelah saya tahu siapa tuan, saya makin heran. Benarkah masih ada ksatria pengembara di jaman ini?". Jawab Don Quixote : "Masih banyak yang harus dibahas, tentang benarkah sejarah kstaria pengembara itu fiktif atau tidak."

Jika sejarah adalah "kebenaran" dan kisah adalah "fiksi", Cervantes mendorong pembaca untuk percaya bahwa buku yang diikutinya itu kedua-duanya.

Tak ada batas yang pasti. Semuanya serba mungkin. Juga siapa sebenarnya yang mengarang novel ini: Cervantes sendiri? Sayid Hamid bin Angeli? Narasi Don Quixote, sebagaimana tokohnya yang gila, bergerak antara dunia nyata dan yang imajiner, antara fakta yang benar, verdades, dan dusta, mentiras. Don Quixote, tokoh fiksi ini, sadar bahwa ia memang "hidup" dalam fiksi.

Di situ pula Cervantes menempatkan Sayid Hamid Bin Angeli yang misterius itu sebagai pembentuk cerita. Sang Sayid juga sebuah ambiguitas: dua perspektif, dua wajah. Cervantes menganggapnya orang yang tak bisa dipercaya, sebab ia seorang Arab, dan, katanya, berbohong adalah "sifat umum bangsa itu." Tapi ia juga menilai orang ini "arif".

Bahkan di jilid kedua Don Quixote, di adegan akhir hayat Don Quixote, Sayid Hamid disebut sebagai pemegang kunci kebenaran riwayat hidup lelaki kurus tua yang sebenarnya bernama Alonso Quixano itu. Orang La Mancha itu wafat seraya meninggalkan keinginan agar tak ada pengarang lain, "kecuali Sayid Hamid Bin Angeli", yang bisa menghidupkan kisahnya kembali.

Pertalian antara mereka berdua dikukuhkan, dengan mengharukan, beberapa baris sebelum buku tutup yang dinyatakan sang Sayid: "Hanya untukku Don Quixote dilahirkan, dan sebaliknya, aku dilahirkan untuknya."

Olok-olok itu tak terasa lagi di sana...

Yang terasa adalah pertemuan-pertemuan panjang. Don Quixote terbit pertama kali di awal abad ke-17. Jilid keduanya beredar 15 tahun kemudian., 1615. Di antara itu, jejak sejarah-lah yang mempertalikan Cervantes dan Sayid Hamid yang fiktif itu.

Jejak sejarah itu bernama "Islam". "Islam," tulis Frederick Quinn dalam The Sum of All Heresies: The Image of Islam in Western Thought (2008), "dulu jadi sebuah topik bukan hanya dalam tulisan-tulisan politik, agama, dan kebudayaan di Prancis dan Inggris, tapi juga merupakan fokus pengarang besar Spanyol abad ke-17, Miguel de Cervantes".

Cervantes memang hidup dalam bayang-bayang pertautan dan konflik antara Islam dan Kristen seperti yang tercermin dalam sejarah Spanyol antara abad ke-12 dan abad ke-15. Perang antara Spanyol di bawah dinasti Habsburg dan Turki di bawah daulat Usmani di abad ke-16 tentu juga membekas. Kita merasakannya ketika kalimat-kalimat Cervantes menyentuh tokoh Sayid Hamid: sikap yang ambivalen.

Kita telah melihat bagaimana Cervantes menyebut sang Sayid bagian dari "bangsa Arab" yang gemar berdusta. Tapi ia juga mengatakan bahwa siapapun yang menikmati kisah Don Quixote patut berterima kasih kepada Sayid Hamid, untuk ketelitiannya menelaah. "Ia gambarkan apa yang dipikirkan, ia ungkapkan khayalan, ia jawab pertanyaan yang tersirat, bersihkan keraguan..."

Pada akhirnya Don Quixote memberi makna bukan dengan menggambarkan sebuah kehidupan, melainkan dengan mengekspresikan laku yang menerobos garis-garis demarkasi. Islam, Kristen, Arab, Spanyol,, fiksi, non-fiksi, humor, tragedi, realitas, waham dan ilusi. Tokoh itu majenun, ia tak menghitung untung atau rugi, aneh atau tak aneh. Ia pemberani.

Dalam hal itu Cervantes punya sebuah peninggalan yang penting. Ada satu kalimat yang datang dari Milan Kundera di tahun 2011. Di zaman ini, kata sastrawan Polandia itu, ia tak mempertautkan diri kepada Tuhan. Tidak juga kepada tanahair. Atau rakyat. Atau individu. "Aku hanya bertaut kepada peninggalan Cervantes yang disepelekan." "I am attached to nothing but the depreciated legacy of Cervantes."

Bagi Kundera, novel dua jilid dengan puluhan tokoh yang terbit di awal abad ke-17 itu memaparkan apa yang kemudian jadi watak modernitas: "dunia sebagai ambiguitas." Dalam dunia itu manusia diharuskan menghadapi "bukan satu kebenaran yang mutlak, melainkan seombyok kebenaran yang saling bertentangan". Maka satu keberanian tersendiri untuk mempunyai sebuah kearifan lain -- yakni "kearifan tentang ketidak-pastian", the wisdom of uncertainty.

Dalam "kearifan" itu kita juga bisa memutuskan, bahwa ketidak-pastian itu juga bukan sesuatu yang pasti: selalu ada saat ketika kepastian datang -- biarpun tak selama-lamanya. Selalu ada saat ketika kebenaran mendapatkan sifatnya yang universal.