Apakah Anda yakin menginginkan cerita ini terjadi secara nyata? Ya—Tidak—Nanti dulu

     “Tunda dulu jawabanmu, dik,” suara lembut seorang gadis membuyarkan konsentrasiku di dalam bus. Dia berdiri kira-kira di arah jam sepuluh.

     “Apakah pemberhentian berikutnya menjadi tujuanmu?” tanyanya sambil menelengkan kepala ke layar informasi digital di sebelah atas.

     Aku mengangguk setelah melihat nama daerah tujuanku sudah muncul di sana. “Boleh nanti saya mengganggu waktumu sebentar?” pintanya dengan senyuman manis.

     Gadis itu menunjuk kumpulan batu besar di taman dekat halte tempat kami turun. Dia bilang tidak nyaman rasanya membahas hal penting di lokasi paling umum seperti halte.

     Dalam perjalanan kami menuju ke sana, dia mengulurkan tangan disertai dengan ucapan renyah, “Selamat ya atas terbitnya novelmu Topeng Setan di platform digital StoriKita, Aksan Langit.”

     Dalam sekejap membuncah rasa bangga dalam dada ini. Meski aku berusaha menyamarkan dengan senyuman spontan khas diriku, rupanya dia bisa membaca orang. Ditepuknya bahu kananku dengan satu tangan, dan senyumannya kali ini jelas-jelas memberitahu lawan bicaranya supaya mengantisipasi apa yang bakal disampaikannya.

     “Kau hebat, Aksan. Sesungguhnya pengalaman masa lalumu bisa mendorong kesuksesan dirimu di masa depan, khususnya sebagai penulis.”

     Aku tidak suka sikap sok akrabnya ini. Kalau dia cuma sebatas penggemar, tidak perlu bersikap layaknya sahabat dekat, terlebih dia masih belum memperkenalkan diri.

     “Tidak perlu menjadi tegang begitu, ayo kita duduk dulu dengan nyaman.”

     Kami pun duduk di ‘kursi’ batu secara berhadapan. Di taman ini, beberapa batu sengaja ‘ditanam’, lalu diukir membentuk tempat untuk bisa diduduki siapa pun dengan nyaman.

     “Saya memang bukan orang yang bisa dikenal berkat karya kisah fiksi sepertimu, Aksan. Saya orang biasa yang jauh dari situasi punya penggemar. Akan tetapi, tentang novelmu Topeng Setan itu, saya terpaksa harus berbicara terus terang pada penulisnya sekarang juga di sini,” katanya membuka percakapan.

     Aku jadi curiga—kenapa dia bisa tahu kalau aku dihadapkan pada kedua opsi di dalam bus tadi? Bukankah sampai detik ini, aku berhasil menutupi sumber inspirasi munculnya kisah perundungan yang kualami itu—tidak ada seorang pun yang tahu?

     Sebagai langkah awal, kuperlihatkan ekspresi kecurigaanku. Kupertajam dalam sorotan kedua mata dan bibir yang mengerucut, sebelum akhirnya kusemburkan, “Maaf, siapa Anda? Sepertinya Anda merasa lebih mengetahui kehidupan pribadi saya dengan niatan tersembunyi yang mungkin... busuk?”

     Gadis itu menjawab dengan tenang, bahkan cenderung santai, “Saya sudah siap dengan perlakuan awal begini. Orang asing yang tiba-tiba sok akrab padahal belum bertemu sama sekali sebelumnya. Kalau begitu, boleh saya memperkenalkan diri?”

     “Enggak usah!” semburku dengan kesal. “Langsung saja ke poinnya.”

     “Apakah kamu punya aplikasi Story-happens?”

     Sial! Dari mana dia tahu aku menyimpan aplikasi itu di perangkat pribadiku?

     Rupanya dia lagi-lagi mengantisipasi respons diriku dengan melanjutkan dalam ketegasan yang terasa lembut, “Jangan salah paham dahulu, saya bukanlah mata-mata. Silakan lihat berkeliling untuk memastikan apakah saya datang sendiri padamu. Inilah juga waktunya spy-searching punyamu bekerja.”

     Dia memberi waktu yang cukup bagi diriku untuk mengecek sekeliling dengan kacamata komunikasi pribadi. Kuturuti nasehatnya tentang spy-searching itu. Meski aku beraksi dengan sedemikian sigap dan cekatan, memang dia duduk dengan tenangnya—tanpa merasa tegang ataupun terganggu sedikit pun. Siapa dia?

     “See? Bukankah sudah saya bilang tadi kalau saya cuma orang biasa.”

     “Seberapa jauh Anda mengetahui aplikasi Story-happens?”

     Melihat bagaimana aku merespons dengan kecurigaan yang demikian agresif, dia malah tertawa—selera humornya yang sedemikian aneh justru bangkit.

     “Dengar, saya ini seorang peramal,” dia berbicara seolah aku ini anak tiga tahun. “Berita-berita kecil dan remeh tentang aplikasi misterius itu di masa sekarang barulah permulaan. Story-happens akan menjadi sebuah blunder yang semakin hari kian membesar. Banyak novel jadi terseret gara-gara para penulis semua judul itu mendaftarkan karyanya ke sana, kemudian mereka juga menjadi sekelompok orang pesakitan yang viral setelah menjawab “ya” hanya untuk memuaskan nafsu dendam mereka.”

     “Pasti kau mengerti maksudku,” sahutnya lagi, mengamati sikapku yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Memang aku langsung merenungkan niatan untuk memilih kisah itu terjadi secara nyata, seperti kata para pendahuluku yang merasa puas dendamnya terbalaskan berkat Story-happens. Akan tetapi, logikaku masih bekerja.

     “Tunggu dulu. Dari mana Anda tahu kalau kisah Topeng Setan terinspirasi dari kisah nyata penulisnya yang dirundung beramai-ramai oleh semua pelaku bejat itu?”

     “Gampang saja. Aksan Langit ikut terseret dalam pusaran kasus Story-happens berkat Topeng Setan. Kenapa kau enggak terpikir sampai ke situ sih?”

     Spontan aku berpaling padanya dengan ekspresi serta emosi yang sulit dijabarkan, membuat dirinya juga spontan berkata, “Saya tidak pernah meremehkan dirimu dan kisahmu itu. Suatu hal baik yang layak dikerjakan dan diperjuangkan—it’s okay not to be okay. Akan tetapi, Story-happens-lah yang akan menjerumuskan kalian.”

     “Katamu menjerumuskan?”

     “Iya. Awalnya satu-dua kematian misterius yang tak terpecahkan. Terjadilah kematian kesekian—entah yang ke-berapa—membuat semuanya menjadi jelas. Semuanya itu adalah ‘pembunuhan’ yang tersamar dan berhasil mendobrak wilayah teoritisnya.”

     “Saya ikut tersangkut?” entah bagaimana aku menjadi percaya—diriku sendiri jadi bertanya karena terkejut.

     “Tentu saja. Sekali lagi, gara-gara kau menjawab “ya” di hari ini. Mungkin kalau akhirnya kau tidak percaya toh enggak apa-apa, setidaknya saya sudah menyampaikannya pada sosok novelis Topeng Setan.”

     Gadis itu lalu menguap lebar. Dia segera menutup mulut dengan satu tangan. “Rasanya pagi ini saya belum minum kopi. Ngantuk banget, saya tidur dulu ya.”

     Tanpa aba-aba, dia langsung menghempaskan tubuh ke sandaran batu di belakangnya. Dia mengembuskan napas panjang tiga kali sebelum kepalanya terkulai ke samping.

     Aku yang terkaget-kaget spontan beranjak dari tempatku duduk, dan langsung berusaha membangunkan si gadis aneh nan misterius. “Hei, kenapa kau jadi tidur? Ayo bangun!” seruku sambil menepuk-nepuk pipi dan mengguncangkan badannya.

     Secepat dia tertidur, secepat itu juga tersadar. Karena kaget, dia menjauhkan diri dariku untuk sesaat, sebelum sepertinya menyadari dengan siapa dia sedang berhadapan. “Aksan Langit?” tanyanya sambil mengamat-amati sosok diriku, seakan baru saja mendapat lotere.

     Tak lama kemudian, Delva memutarkan pesan suara yang sengaja dibuat oleh dirinya sendiri kemarin sore di ponsel pribadi. “Itu saat aku yang masih berusia remaja ini tertidur,” katanya memberitahuku.

Besok pagi naiklah bus pukul tujuh di Halte Seringai. Jangan minum kopi supaya bisa tertidur di dalam bus dan telah menanti bonus bertemu Aksan Langit di sebuah taman. Tunjukkan pesan ini padanya, dari Destwelva masa depan.

     Menurutmu, mana yang harus kupilih?

***

☆ Untuk lebih jelasnya, Story-happens adalah nama aplikasi fiktif yang berfungsi sebagai perwujudan terjadinya cerita fiksi ke dunia nyata.

Spy-searching adalah jenis aplikasi di perangkat digital untuk mendeteksi para pengintai (spy-search) di lokasi sekeliling keberadaan si gawai. Kacamata komunikasi pribadi juga termasuk gawai. Lalu, setiap aplikasi di perangkat digital mana pun sudah memakai mode memberikan jawaban dalam bentuk suara. Cerita ini memang berlatar di masa depan.