Mahasiswa
1 bulan lalu · 123 view · 6 min baca menit baca · Budaya 56096_40539.jpg
Dok. Pribadi

Cerita Waria dari Tanah Yogyakarta

Cerita tentang waria merupakan cerita pilu. Bagaimana tidak? Kehadiran waria selalu menjadi perdebatan banyak kalangan, mulai dari masyarakat awam, intelektual, bahkan ulama juga turut berkontribusi meramaikan jagat perdebatan tentang waria. 

Waria jadi bahan debat. Bahkan hasil debat selalu tidak menguntungkan keberadaan waria. Debat-debat itu muncul dari pendapat orang tentang waria. Pendapat waria sendiri sering diabaikan. Waria diwakili oleh pendapat orang lain. Waria punya cita dan asa, tapi tidak kesampaian.

Kisah waria tidak hanya berhenti di dunia debat dan pendapat, waria juga disingkirkan pelan-pelan dari realitas nyata. Waria tidak dianggap ada. Beberapa memberi penilaian waria sebagai manusia yang menyimpang. Beberapa lagi mempersamakan waria dengan benda dan binatang. Tapi kesemuanya itu bermuara pada laku diskriminasi terhadap waria.

Padahal waria juga manusia, sama dengan pria dan perempuan yang mendaku dirinya lebih baik dari waria. Waria butuh kasih sayang. Waria juga butuh rasa aman. Hak dan kewajiban waria pun sama dengan pria dan perempuan. Bahwa ada waria yang melakukan perbuatan tidak senonoh, itu memang iya. Tapi itu tidak bisa dijadikan legitimasi untuk mengeneralisasi bahwa semua waria itu buruk.

Menjadi waria juga bukan pilihan, sama dengan pria dan perempuan. Meski dalam dunia wacana dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, proses menjadi waria bisa dimungkinkan adanya faktor-faktor tertentu. Bisa faktor teman sepermainan, misal pria berteman dan (sering) bermain dengan perempuan. Bisa juga faktor keluarga, misal ingin anak perempuan tapi lahir pria, kemudian didandani dengan pakaian perempuan. Bisa juga karena kecewa, dan faktor-faktor lainnya.

Sama seperti teman-teman waria yang berkegiatan di Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta. Pondok pesantren ini beralamat di Jagalan RT/RW 09/02 Banguntapan, Bantul. Sekitar dua bulanan, saya dan beberapa teman di sana menjadi relawan dan turut berkegiatan. Menjadi pengamat dan wawancara juga tidak ketinggalan untuk ditunaikan. 

Baca Juga: Islam dan Waria

Saya berangkat dengan rasa ketidakpercayaan dan penasaran dengan kehidupan waria. Sebelum berkontribusi di sana, saya berharap bisa menemukan satu dua hal yang bisa saya tulis untuk meramaikan perdebatan tentang waria. Tujuannya tidak lain untuk memberi alternatif penilaian bahwa waria juga punya potensi kebaikan.

Simak pernyataan Sinta Ratri (57 tahun), Ketua Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta ketika ditemui Jum’at (26/4/2019). “Kalau saya boleh memilih, saya tidak mau dilahirkan sebagai waria. Saya memilih menjadi manusia normal. Menjadi waria itu berat, banyak tantangan dan cobaan. 

Tapi bagaimana lagi, saya (dan teman-teman di pondok ini) sudah ditakdirkan menjadi waria”. Mereka pasrah menjalani hidupnya sebagai waria. Waria mendapat banyak perlakuan diskriminasi dan cibiran. Istilah ‘takdir’ digunakan untuk sekedar mengobati rasa ketidaktenangan menghadapi berbagai cobaan.

Pondok pesantren ini sudah berdiri hampir dua dasawarsa. Santri-santri waria datang silih berganti, total ada sekitar 40 waria yang turut berkegiatan aktif di pondok pesantren. Mereka berasal dari berbagai daerah. Mereka juga memiliki ragam latar belakang, pendidikan, dan kisah pilunya masing-masing. Salah satunya Jamilah.

Kisah Mbak Jamilah

Begitu ia akrab disapa. Pawakannya tinggi, agak gemuk, dan berkulit hitam. Sorot matanya yang tajam kadang membuat lawan bicaranya canggung untuk langsung menatapnya. Rambutnya panjang sampai pinggang. Ia jadi salah satu santri di pondok pesantren ini. Bahkan ia menjadi satu diantara beberapa waria yang ikut kegiatan sejak awal mula. 

“Dulu tempatnya tidak di pondok pesantren ini, mas. Tapi di Notoyudan, ketuanya almarhumah Bunda Maryani,” katanya ketika ditemui sepekan usai perhelatan pemilu tahun 2019.

Jamilah berasal dari Kebumen. Di usianya yang sudah menginjak 52 tahun, ia sudah nyaman dengan menjadi waria. Ia sudah tidak memperdulikan lagi penilaian orang lain tentang dirinya. ”Selama saya enjoy, nyaman, ya saya jalani mas,” jelasnya. 

Saya rasa, mungkin porsi hidupnya lebih banyak untuk mendengar dan menerima bentuk diskriminasi dibanding kasih sayang dan penghargaan. Ia mendaku, masyarakat (di kampung) dan keluarga, awalnya tidak menerima kehadirannya. Meski sekarang sudah diterima, tapi tentu proses yang dilalui teramat berat.

Profesinya sebagai pengamen tidak lantas membuat Jamilah minder. Ia berkaca dengan pendidikan sederhana yang diperolehnya, pengalaman kerja hampir tidak ada, dan kesempatan kerja yang diskriminatif, tentu sulit untuk memperoleh pekerjaan layak bagi seorang waria seperti dirinya. 

Biasanya ia ngamen di sekitar Rumat Sakit Bathesda Yogyakarta, berjalan menyusuri trotoar. Arahnya ke mana dan berhenti ngamen di mana, ia sesuaikan dengan mood dan situasi pada hari itu. Meski tidak jarang ia diciduk oleh petugas Dinas Sosial, diberi pengarahan dan pelatihan keterampilan lainnya agar mentas dari profesi pengamen. 


“Iya saya sering, mas (diciduk kemudian), dapat pelatihan di dinas-dinas itu. Tapi ya gimana, hanya pelatihan. Harusnya kan kerja sama dengan pabrik atau toko mana. Nanti hasil pelatihan waria terbaik dimasukkan ke situ,” gerutu dan harapnya.

Ketika saya tanyai, bagaimana responsnya (Jamilah) ketika ada teman waria yang punya sifat menjengkelkan dan tidak kooperatif? Ia mengatakan langkah pertama dengan teguran. Kalau pun nanti tidak ada perubahan, ya didiamkan. “Saya tidak mau menambah masalah lagi mas. Lha wong jadi waria saja masalahnya sudah banyak kok,” ucapnya diiringi senyum tipis.

Waria memiliki agama. Waria juga menjalankan ibadah seperti pria dan perempuan. Kalau Islam, ya melaksanakan ibadah sholat, berpuasa, membayar zakat, dan laku-laku di dalam Agama Islam lainnya. Begitu pun dengan Jamilah. Ia beragama Islam. Ia menjalankan ibadah sholat, belajar membaca Alquran, dan belajar ilmu-ilmu agama lainnya di pondok pesantren ini. 

Kegiatan yang digelar di Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta, memberi kontribusi positif terhadap perkembangan pribadi Jamilah. Ia (dan teman-teman waria lainnya) merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk belajar agama dan peduli kepada sesama waria.

Kegiatan Waria di Pondok Pesantren Waria Al-Fattah Yogyakarta

Selain sisi agama, pondok pesantren ini juga menggarap sisi sosial, ekonomi, dan politik. Seperti yang saya katakan di awal, bahwa waria juga memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan manusia lainnya. 

Bahkan saya menemukan, relasi antara satu waria dengan waria lain bisa dibilang lebih erat. Solidaritasnya dibangun atas azas kekeluargaan. Ya tentu ada faktor musababnya, diantaranya ada kesamaan perasaan senasib sepenanggungan, dan juga ada orientasi sama untuk menaikkan status sosial waria.

Ketika ada salah seorang waria ditimpa musibah, teman-teman waria lainnya turut berduka mendengarnya. Seringnya tidak berhenti di situ, dukanya diejawantahkan menjadi laku seperti membesuk, membantu dengan doa dan materi, serta mengupayakan hal-hal yang memang bisa diupayakan.

Ketika saya di sana, salah satu teman waria di daerah Purwakarta mengalami musibah sebagai korban praktik ilegal produk kecantikan, hingga wajahnya membengkak dan harus masuk rumah sakit. “Dulunya ia santri di pondok pesantren ini. tapi karena suatu hal, ia pindah domisili di Purwakarta,” ucap Sinta Ratri dengan tidak memberitahu namanya. 

Keesokan hari, teman-teman waria di pondok pesantren ini datang ke Purwakarta. Sembari mengusahakan kasus ini dibawa ke jalur hukum, agar tersangka memperoleh hukuman karena tindak lakunya.

Di sisi lain, keterampilan dan ragam laku produktif juga dilakukan waria di pondok pesantren ini. Berbagai ahli di bidang keterampilan tertentu diundang untuk membekali waria. Salah satunya bercocok tanam dengan hidroponik. Waria antusias dan banyak yang datang. Menyimak dan mendengar secara seksama. Mungkin kegiatan bercocok tanam hidroponik merupakan hal baru. 


“Ya semoga dengan banyak kegiatan, termasuk (bercocok tanama dengan) hidroponik ini bisa memberdayakan waria di pondok pesantren ini mas,” kata Sinta Ratri. Harap dan asa memberdayakan waria ada pada laku produktif. Saya rasa memang ada benarnya, sebab streotipe yang berujung pada diskriminasi waria, salah satunya disebabkan dari profesi waria yang remeh temeh.

Kalau untuk aktivitas politik, waria di pondok pesantren ini turut memberikan hak pilihnya ketika pemilu serentak kemarin, 17 April 2019. Beberapa yang punya ongkos memilih untuk pulang, memilih dari kampung halaman. 

Beberapanya lagi memilih memberikan hak pilihnya di Yogyakarta dengan bantuan sosialisasi dari KPU setempat. Dengan memberi hak pilihnya, waria berharap haknya sebagai manusia bisa dilindungi melalui regulasi.

Begitu cerita waria dari Yogyakarta. Saya rasa masih banyak hal yang belum ditulis. Begitu pun tulisan ini hanya mewakili salah satu cerita tentang waria, bukan seutuhnya. Karena bisa jadi, waria di tempat lain punya kisah unik yang patut untuk dibagikan. Agar saya, kita, dan masyarakat bisa menghargai keberadaan waria sebagai salah satu bentuk ciptaan-Nya. Demikian.

Artikel Terkait