2 tahun lalu · 59 view · 4 min baca menit baca · Lainnya 89377.jpg

Cerita Tentang Purpple (Part 1)

Purpple itulah namanya. Purpple adalah peliharaan yang paling ku sayangi. Dia tidak memiliki ras, sertifikat atau apapun itu. Dia hanya seekor anjing kampung. Banyak orang yang masih memiliki pikiran bahwa tidak ada untungnya memelihara hewan, apalagi hanya seekor anjing kampung.

Aku akan bercerita tentang pertemuanku dengan Purpple. Waktu itu ulang tahunku yang ke-15. Keluarga besar dari mama memilliki kebiasaan bahwa setiap bulannya jika ada yang berulang tahun, maka akan dirayakan bersama-sama sekaligus akan diadakan ibadah dan arisan. Tujuannya adalah agar hubungan keluarga besar kami tetap terjalin baik dan kompak.

Hari ulang tahunku dirayakan di rumah adik sepupuku. Kebetulan 3 bulan yang lalu anjing adik sepupuku melahirkan. Seperti yang kalian ketahui bahwa sangat sulit menemukan orang yang mau mengadopsi anjing kampung. Sebenarnya anak anjing itu sangat menggemaskan, tetapi aku tidak berani menyentuhnya.

Aku memiliki kenangan buruk dengan seekor anjing. Semua berawal karena empat tahun yang lalu saat aku berjalan bersama saudara-saudaraku tiba-tiba ada anjing liar yang mengejar kami. Kami tak tahu dari mana asal anjing liar tersebut. Saat itu kami terkena cakaran dan sejak saat itu aku sangat takut dengan anjing, bukan hanya anjing dewasa tetapi aku juga takut dengan anak anjing. Karenanya aku hanya berani melihat anak-anak anjing yang lucu itu dari kejauhan.

Awal mula aku bertemu Purpple adalah saat kami sedang berdoa ucapan syukur. Saat itu terasa ada yang menyentuh tanganku. Saat selesai berdoa dan aku membuka mataku, aku melihat seekor anjing kecil berwarna putih kombinasi coklat duduk di depanku.

Aku melihatnya dan kebingungan dari banyaknya anak anjing hanya satu yang berani masuk. Mama yang melihatnya langsung menggendongnya. Mamaku berkata bahwa dia merasa ada yang menjilat tangannya saat berdoa tadi. “Anjing nakal!” kata mamaku sambil tertawa.

Keesokan harinya ketika mama pulang dari gereja (aku dan keluargaku biasanya gereja subuh, tetapi pulang gereja mama harus mengajar anak-anak sekolah minggu). Aku melihat mama membawa seekor anak anjing untuk dipelihara. Anak anjing yang mama bawa adalah anak anjing yang kemarin menerobos masuk ke dalam rumah saat kami sedang berdoa. Mama berkata bahwa sejak kejadian kemarin dia sangat ingin memelihara anak anjing yang nakal itu.

Hari pertama aku memeliharanya dia sungguh berisik dan tidak mau diam. Dia sungguh anjing yang nakal dan sangat lincah. Saat mama tidak ada kami yang ada di rumah kebingungan bagaimana caranya menenangkan Purpple yang selalu saja berlari dan bahkan mengejar aku, kakakku dan adikku. Kami ketakutan sampai naik ke atas kursi.

Bagaimanapun ini pertama kalinya kami memiliki peliharaan dan kami tidak tahu harus seperti apa. Papaku yang sering marah dengan keberadaan Purpple. Bagaimana tidak marah, sepatu yang baru dibeli digigit hingga rusak, charger handphone digigit hingga terputus, ujung meja kayu yang digigit hingga terputus dan juga mesin cuci yang kabelnya digigit hingga rusak. Papa benar-benar marah dan berkata akan membuangnya di jalan jika aku tidak dapat mengendalikannya.

Saat itu aku merasakan sedih. Aku menangis dan tidak mau makan. Aku tidak tahu apa yang membuatku begitu sedih, padahal aku masih takut untuk menyentuhnya. Papa yang tidak tega melihatku akhirnya mengizinkan aku memelihara Purpple dengan syarat harus mulai mengajarinya berbagai hal, terutama mencegahnya agar tidak lagi merusak barang yang ada di rumah. Sejak saat itu aku mulai belajar untuk berani menyentuhnya. Aku memberikan tanganku untuk digigit dan ternyata gigitan anak anjing tidaklah sakit.

Aku bertanya kepada mama kenapa anak anjing suka sekali menggigit, mama mengatakan bahwa itu dikarenakan giginya yang tumbuh dan terasa gatal juga seperti itu caranya untuk menunjukkan bahwa dia sedang ingin bermain. Sejak saat itu aku mulai membelikannya tulang-tulangan yang dijual di petshop, dan cara itu ternyata berhasil untuk mengalihkan perhatiannya agar tidak lagi menggigit benda-benda di rumah. Pernah sekali Purpple mencoba menggigit ujung meja, namun ketika diperingatkan dan memasang muka marah, dia berhenti.

Seiring berjalannya waktu, Purpple menjadi anjing yang penurut. Saat dia mendengar suaraku dia akan pergi berlari keluar, menggoyang-goyangkan ekornya dan kemudian menjilatku.

Aku pernah mengalami masa disaat hari kelulusan SMP seluruh teman-temanku sudah mendapatkan sms bahwa mereka lulus tetapi aku belum juga mendapatkan kabar. Aku hanya diam bersender di dinding dan terus memegangi handphone. Purpple duduk di sampingku dia menyatukan kedua tangannya dan meletakan kepalanya di atas kedua tangannya.

Saat aku mendapatkan pesan kelulusan, aku berdiri dan melompat kegirangan saat itu purpple langsung ikut berdiri dan menggoyang-goyangkan ekornya dan berputar seakan dia ikut merasa bahagia. Lalu aku masuk ke dalam rumah dan memberitahu mama tentang kelulusanku dan Purpple tetap mengikutiku. Mama yang tertawa melihat tingkah Purpple yang seperti mengikuti setiap pergerakannku.

Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai menyayangi Purpple, yang pasti Purpple mengubahku yang dulunya sangat takut anjing menjadi sangat menyukai anjing. Papa yang dulu tidak menyukainya kini juga menjadi sangat menyukainya. Bagaimana tidak, setiap malam saat kami tertidur purpple akan menemani papa menonton bola. Saat papa tertidur di sofa ruang tamu, Purpple akan menemani papa dan ikut tertidur di samping sofa.

Untuk kalian yang ingin memelihara anjing, ketahuilah bahwa setiap anjing memiliki karakter yang berbeda-beda. Mereka harus dilatih dengan kesabaran dan dicintai. Jangan hanya mengeluh betapa bandelnya mereka. Jangan memelihara hanya sebatas lucu lalu dibuang saat kalian merasa bosan. Jangan pernah membiarkan mereka dirantai seharian karena alasan nakal.

Mereka makhluk hidup dan memiliki perasaan. Hanya mereka tidak memiliki akal untuk dapat membedakan yang mana yang salah dan yang mana yang benar. Setidaknya jika kalian tidak menginginkan kehadirannya, jangan pernah mengganggu apalagi menyiksanya.

Artikel Terkait