Rasa Cinta adalah hal normal yang dimiliki oleh setiap individu, namun walaupun begitu cinta perlu dipelajari, ibarat seni siapapun yang ingin memahami seni maka terlebih dahulu ia belajar tentang seni, siapapun yang ingin paham memainkan gitar maka terlebih dahulu ia harus berada dalam tahapan "proses" belajar.

Sejak kita lahir di muka bumi ini, kita sudah merasakan nikmatnya cinta yang ibu ikhlaskan berikan kepada kita, pada saat itu kita hanya mampu merasakan cinta yang diberi, bahasanya Erich Fromm karakter aktif cinta dapat digambarkan dalam pernyataan bahwa cinta itu "memberi" bukan menerima.


Namun sedikit cerita asmara yang tak ku sangka menghampiriku, sosok perempuan yang ku pertanyakan dalam sepi, dia sosok perempuan yang ku kagumi dalam diam, dia sosok perempuan yang membuatku terbawa gelombang rindu, hingga dalam benak ku ini perlu diabadikan dalam karya....


Sosok perempuan yang ku kagumi panggil saja dia Wanti, dialah dalam semua ini yang membuat hati terasa senang, yang mengada rindu. Hari-hari pun seperti biasanya aku yang tiap harinya merasa ada yang terlewatkan apabila dalam sehari tak mengambil ponselku lalu membuka aplikasi dan yakin saja jutaan orang pasti memilikinya aplikasi tersebut namanya "WhatsApp" di aplikasi tersebutlah banyakan remaja menghabiskan sebagian waktunya menanyakan kabar kekasihnya tentang "Bagaimana kabarmu?, kamu sudah makan?, kamu lagi nngapain?". Wajar saja jika itu terjadi toh keduanya saling merawat cinta. 


Tak terduga sewaktu itu kira-kira jam 20:00 Wita, aku membuka ponselku lalu mengklik "WhatsApp" tak heran jika aku langsung menonton "Story WhatsApp" teman-teman ku, lalu melihat beragam kebahagiaan yang ditayangkan dan caption-nya yang bijaksana, membuat diri ini ikhlas tersenyum, aku pun sudah melihat lebih dari lima saat yang ke-enam ada yang lain dari biasanya disinilah awal kisah  mengagumi ku timbul kepadanya, tak pikir panjang aku langsung mengomentari postingan temanya wanti yang ku sebutkan di awal namanya, aku yang kurang paham bagaimana merayu perempuan agar memberikan No WhatsApp-nya Wanti pada saat itu aku memintanya kepada temannya si wanti yang akrab di sapa Dinda, yang sudah lama berteman WhatsApp dengannya


"Din... wanita yang di samping kamu itu namanya siapa" dengan rasa penasaran ku menanyakannya

"Kepo amat sih kamu sama teman aku, nih aku kasi tau itu namanya wanti teman satu jurusan aku" Jawab Din dengan nada kesal

Lalu aku jawab dengan sedikit rayuan "Hehehe aku kan cuman bertanya Din... lagian bertanya soal biasa, aku boleh nggak minta No WhatsApp-nya, biar aku tanyakan saja sama dia lebih lanjut"

"Emangnya kamu mau tanya tentang... apa yaa khem-khem"  ujar Din... dengan sedikit ejekan 


Aku pun tak memperdulikan ejekannya itu yang pastinya dia memberikan Kontak si Wanti, syukur saja dengan rayuan yang ku berikan akhirnya percaya laku memberikan kontaknya si Wanti kepada ku, dengan perasaan yang bercampur bahagia tak asing menghampiri ku, bagaimana tidak sosok waniti yang kelihatan di Foto terlihat sangat baik, dan sepertinya dia tipe orang yang tak pandai mempermainkan perasaan lawan jenisnya, semoga saja tebakan ku tepat tentang dirinya hehehe


Tak berselang lama setelah Din... memberikan Kontak si Wanti kepada ku dengan bermodalkan tekad ku beranikan diri ini untuk mengirimkan pesan Via WhatsApp padanya


"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh kak" aku yang seolah-olah tak kenal namanya

lalu beberapa menit kemudian dijawab oleh Wanti "Waalaikumsalam warahmatullahi Wabarakatuh kak, ada apa yaa kak?" 

aku yang senang karena respon yang baik di berikan kepada ku, langsung saja aku seolah-olah menanyakan namanya padahal terlebih dahulu aku sudah menanyakan kepada Din... dan Din memberitahukan ku namun aku memperolok kemudian pura-pura tidak tau apa-apa


"Kak klo boleh tau nama kakak siapa yaa biar aku Save kontak kakak" Tanyaku padanya

"Ohh nama saya Wanti" jawabannya singkat

Chat pun berlanjut hingga aku menanyakan lebih lanjut tentang nya, sampai kemudian aku bercerita panjang lebar bersama dia, di temani secangkir teh membuat suasana menjadi lebih hangat, sampai kemudian aku menceritakan hal yang pernah ku alami saat tersesat di jalan


"Wanti kamu mau berkenaan mendengarkan cerita ku beberapa bait" tawar ku padanya


"Iyya boleh tu"  


"Begini wanti pernah sewaktu saya ketika pergi mengantarkan pesanan teman ku ketika galdan dan saat itu saya menggunakan maps sebagai penunjuk arah jalan namun, kamu tau nggak hal yang tak terduga menghampiri yang "maps" arahkan tidak sesuai atau dengan kata lain aku tersesat sampai kemudian aku berpikir, untuk saja ketika jalan kehatimu itu  tak perlu menggunakan "maps...." dan harapku kau mau membukakan pintu hati mu untuk ku hehe"

Wanti pun tertawa dengan sedikit gombalan ku, sampai ketika aku membuat kan puisi untuknya 


Tentatang Engkau...

Engkau akan menjadi bait puisiku saat ini

Yang dalam benak ku setiap saat

Ku harap engkau tak keberatan Wanti....