56275_38116.jpg
Koleksi Pribadi
Gaya Hidup · 3 menit baca

Cerita Pengalaman Hijabku

Berawal dari peraturan sekolah yang sedang menjalankan program pesantren Ramadan, yang kemudian semakin termotivasi oleh aktris yang berhijrah mengenakan kerudung terlihat lebih anggun dan menawan. Terlebih, lingkungan di keluarga yang mayoritas berbasis religius juga sangat mendukung saya untuk berhijab. 

Namun demikian, dukungan yang banyak tidak lantas jauh dari cobaan. Karena hakikat segala tindak memiliki dampak dan setiap aksi ada konsekuensi.

Keluhan panas karena kain kerudung sering terlontar tanpa sadar. Kekhawatiran tinggi dijauhi teman, perasaan ragu dan terpaksa pun kerap kali datang tanpa henti. 

Tapi di sisi lain, ada hal yang membuat saya semakin tertantang menunjukkan keteguhan saya mengenakan hijab. Salah satunya adalah celetukan dari seorang teman yang mengatakan bahwa percuma berprestasi di kelas tapi usia baligh tidak memakai kerudung. Ucapan tersebut menjadi pemacu saya untuk selalu tahan terhadap keputusan saya mengenakan hijab.

Beranjak ke bangku Sekolah Menengah, saya masuk ke sekolah swasta yang berada di bawah naungan yayasan pondok pesantren, sehingga tantangan berjilbab sedikit terminimalisasi, meskipun hanya lingkungan di sekolah saja. 

Namun di sisi lain, ada hal yang memicu. Di bangku kuliah, saya bertemu dengan mahasiswa yang heterogen. Awal masuk kuliah, rasa takut untuk bergaul kembali muncul, karena meskipun mayoritas muslim, keberadaan muslimah berkerudung masih minoritas.

Berbeda dengan tantangan sebelumnya, di kampus tempat saya menimba ilmu sangat rentan terjadi rasis, karena perbedaan yang ada tidak hanya berkaitan dengan berhijab atau tidak, tapi lebih dari itu. Perbedaan agama, ras, budaya dan sosial menjadi warna yang nyata keberadaannya. Saya merasa harus lebih bisa menjaga kehormatan seorang muslimah tanpa harus menunjukkan sikap membeda-bedakan satu sama lain.

Saya harus menunjukkan bahwa perempuan berhijab tidak sekaku yang diasumsikan. Karakter supel, ramah, dan mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan adalah hal yang sudah sewajarnya dilakukan. Sebab saya meyakini bahwa Islam hadir membawa risalah bukan untuk pemicu perselisihan, tapi justru pembawa kedamaian, termasuk keberadaan muslimah berhijab di lingkungannya.

Suatu ketika, saya ingin membuktikan bahwa hijab bukan penghalang dalam bergaul, berkarya dan berkontribusi. Hijab merupakan mahkota keindahan yang hanya bisa dipakai oleh perempuan sebagai bentuk ketaatannya terhadap Sang Pencipta. 

Untuk membuktikan keyakinan tersebut, saya pernah berkontribusi dalam event Pemilihan Duta Hijab di tingkat Universitas. Dengan modal nekat dan sedikit bekal ilmu yang pernah saya dapatkan, saya memberanikan diri untuk menjadi peserta event tersebut hingga akhirnya menuai hasil menjadi Juara 1 Favorit.

Saya sangat bersyukur pada Allah, sebab dari keistiqomahan saya memakai kerudung sedikit demi sedikit mengubah karakter saya menjadi lebih baik dan selalu berusaha memantaskan diri. Selain dampak internal, dampak eksternal pun mulai bermunculan, seperti sikap teman-teman yang sangat menghargai dan menghormati saya ketika sedang berada di tengah-tengah mereka. Berkali-kali ungkapan bangga akan status muslimah juga semarak diucapkan.

Penghargaan dan penghormatan ini sungguh tidak pernah saya minta sebelumnya, justru Allah yang memberi penghargaan ini melalui ciptaanNya. Maha Suci Allah yang telah membolak-balikkan hati makhluk dengan mudah. Ketika kehendakNya sudah dalam genggaman, apa pun bisa terjadi dalam hitungan detik. 

Segala proses yang saya alami menyadarkan akan urgensi sabar. Saya juga meyakini bahwa ujian sabar tidak hanya datang dari hinaan, tapi juga pujian. Dibalik hinaan ada cobaan, dibalik pujian ada ujian.

Seiring berjalannya waktu, saya mulai terbiasa mengenakan jilbab. Akal pun mengalami fase kedewasaan berpikir. Awalnya, saya hanya memahami bahwa berjilbab adalah kewajiban menaati aturan agama Islam yang bernilai ibadah. Tetapi lambat laun, saya semakin sadar bahwa memakai jilbab bukan hanya sebatas penggugur kewajiban, melainkan harus dianggap sebagai kebutuhan. 

Untuk itu, sudah sepantasnya sebagai seorang muslimah, kita tidak perlu takut kecantikan kita terhalang oleh jilbab, karena sudah terbukti bahwa kecantikan seorang wanita tidak hanya dilihat dari lahiriah saja, melainkan dari sisi batiniah dan kecerdasan akalnya.

So, show up your bright!