Hari Jumat 30 Juli 2021, saya bersama bung Misbah akan balik ke kampung yang kebetulan sudah berhari-hari di tinggal Majene. Tempat kami tinggal di Majene tidaklah semewah rumah para pejabat yang ber-AC dan fasilitas lengkap lainnya, hehehe. Tak lain ialah sebuah gubuk sederhana namun punya catatan sejarah bernama 'Gubuk Marhaenis,' ia bagian dari rumah juang kami di organisasi GMNI Majene. Emmm, saya dan kawan karib bung Misbah termasuk kader yang sering juga menetap termasuk bermalam di Gubuk Marhaenis. Namun sebenarnya Gubuk Marhaenis mesti menjadi tempat untuk menggali Ilmu pengetahuan, membaca buku dan berdiskusi, apalagi harus  mengamalkan ajaran Bung Karno sebagai ideologi GMNI. Walaupun ngobrol santai dan humor juga tak kalah penting menjadi bagian dari hidup saat di Gubuk Marhaenis.

Ohh iya, karena kondisinya kami sudah lama tidak balik kampung, akhirnya hari itu pun menjadi moment yang tepat untuk berpulang dan merindukan orang-orang tercinta di rumah. Tidak banyak cerita yang ternguak pagi itu, hingga sampai pada pukul 11.10 Wita, akhirnya kami mulai berangkat dengan mengendarai motor Force milik kebanggaan saya yang satu-satunya.  

Perjalanan sama seperti umumnya, saya menancapkan gas motor dengan santai menuju ke rumah bung Misbah. Saya mengantar bung Misbah ke rumahnya terlebih dahulu sebelum saya juga balik ke kampung, mengingat tempat kami beda kecamatan, wkwkwk. Terlebih lagi karena sebelumnya memang ada niat untuk berkunjung, apalagi sudah berbulan-bulan rasanya tidak pernah nongol lagi di rumah itu.  

Ketika tiba di rumah bung Misbah, kami baru saja saja duduk di kursi tamu dan tidak lama setelahnya suguhan kopi hitam pun siap santap di meja. Duduk bersantai sambil minum kopi masih didapatkan sebelum berangkat shalat Jumat. Ya, sebelum itu juga keluarga bung Misbah menyuguhkan makan siang saat kami baru saja tiba, dengan rasa bangga saya sangat menikmati.

"Mai dolo ande." Ajakan makan dari ibu bung Misbah dengan penuh keramahan memakai bahasa daerah.

Kami makan hanya berdua saja (saya dan bung Misbah), namun keluarganya tetap menemani kami di ruang makan itu. Tidak lama berselang, saatnya siap-siap berangkat ke Masjid untuk mengikuti shalat Jumat. Hari itulah sebagai hari pertama saya shalat di Masjidnya desa Lego kecamatan Balanipa, tempat bung Misbah tinggal.  

Kembalinya kami ke rumah bung Misbah saat usai shalat Jumat. Karena suguhan kopi yang tadi belum habis, kami pun menikmatinya kembali bersama dengan beberapa deretan kua di dalam topples yang tersedia di meja tamu. Duduk sambil ngobrol santai dan kadang juga ngobrol terkait progres organisasi kami.  

Banyak yang jadi bahan perbincangan, mulai dari mengangumi sosok ketua GMNI Majene Periode 2021-2023 (bung Agung) yang telah membuktikan ketotalannya pada organisasi. Walaupun kadang ada masalah pribadi yang dipertontonkan di dalam organisasi.

Dalam cerita kami, bung Agung selaku ketua cabang telah banyak bekerja untuk persiapan pelantikannya yang segera akan dilaksanakan. Posisi beliau sebagai ketua cabang, ehh tetapi malah beliau juga yang banyak kerja pada tugas kepanitiaan. Kek tidak ada panitianya, hahaha.

Itu yang menjadi obrolan kami memuji bung Agung sebagai ketua yang progresif dan memang total pada organisasi. Bahkan beliau berhasil membangun jejaring pada organisasi luar dibanding dengan pengurus sebelumnya. Obrolan itulah yang tersaji sebelum teman-teman bung Misbah yang di kampung datang menghampiri dan menemani bercerita.

Saya, bung Misbah dan juga kakak bung Misbah tengah asyik ngobrol di ruang tamu. Duduk santai di kursi yang sederhana dan sesekali pun kami menghirup sebatang rokok. Tidak lama berselang teman-teman bung Misbah berdatangan, sehingga di ruang tamu itu pun kami bercerita enam orang.

Obrolan menghebohkan terjadi, pengalaman dan masa lalu menjadi bahan tawaan dalam cerita unik itu. Menceritakan kembali masa-masa kebiasaan para pemuda Galung Lego termasuk bung Misbah, kebiasaan begadang sepanjang malam, bercerita perempuan (namun bukan pelecehan seksual) dan hal aneh lainnya yang dianggap tak ada moral oleh orang-orang.  

Apalagi kalau ada acara pernikahan, maulid nabi dan aktivitas ramai lainnya, pasti para pemuda hadir dengan menggores cerita kocak. Beda halnya kondisi sekarang, anak-anak muda Galung Lego kini semuanya pada asyik bermain game, aktivitas para pemuda terdahulu tidak ada generasi yang melanjutkan, perubahan terjadi karena zaman yang berbeda. Cerita-cerita itulah yang tersaji dalam obrolan kami dan terus mengalir sampai jam 3 sore.  

Higga akhirnya, saya pun memutuskan untuk balik juga dan meminta kepada bung Misbah dan teman-temannya itu untuk pamit duluan pulang. Bahkan dari mereka pun meminta kepada saya agar bermalam saja. Ya, mungkin belum saatnya sehingga waktu itu saya tidak punya niat untuk bermalam.