21436_22511.jpg
Cerpen · 3 menit baca

Cerita Omong Kosong

Pagi yang tak biasa, aku berjalan sendirian dalam padatnya kendaraan kota. Linglung, tak sadarkan diri, kacau. Mendung menyelimuti langit, tampaknya hujan akan turun dengan deras atau hanya rencana Tuhan membuat langit jadi gelap tanpa menurunkan hujan. 

Aku masih saja kebingungan, mencari jas hujan dalam jok motorku, mempersiapkan segala kemungkinan yang terjadi. Melihat orang-orang dengan wajah murung. Aku menggerutu dalam hati; sial, hari yang tidak baik, bulan yang kacau, september yang gelap. Tak henti hentinya aku menggerutu dalam sendiri.

Hari ini sungguh berbeda. Tak ada kabar darinya, lelakiku yang selalu aku banggakan, ia menghilang dalam beberapa hari ini, tak ada pesan atau telepon yang masuk dalam ponselku. “Sungguh hari yang membosankan,” gumamku. 

Dia sungguh laki+laki yang amat aku cintai. Dan baru beberapa hari ini kami merayakan hari jadi yang kelima. Lima tahun lamanya kami bersama, merajut banyak peristiwa antara aku dan dia. Makan bersama, liburan bersama, nangis, bertengkar dan kami masih bisa bertahan sampai sejauh ini. 

Dia yang selalu ada, dia yang mengubah tangis jadi tawa, dia yang menjadi laki-laki tak pernah absen saat aku mengharapkannya, dia yang tak pernah hilang tapi kini aku merasakan hal yang aneh dari sikapnya. Ketika aku dalam keadaan kacau hari ini, ketika aku mengarapkannya dia hilang entah kemana. Tak tahu rimbanya.

Siang mulai menampakan diri. Mendung yang menyelimuti langit sudah hilang. Aku berbegas merapikan semua berkas-berkas kantorku. Lelah, panas, berantakan. Pikiran-pikiran negatif berjejal dalam kepalaku. Aku terus saja terbawa kenangan itu, ingin rasanya teriak ditengah keramaian, ingin rasanya membanting semua yang ada di meja kerjaku, ingin rasanya pulang lebih awal untuk menenangkan hatiku, ingin rasanya mencari tahu keberadaanya, ingin rasanya berkeluh kesah di sampingnya, menangis di pundaknya, bermanja-manja seperti dulu. Ah sial! 

Terlalu banyak yang hal-hal yang absurd yang terjadi beberapa hari ini dalam diriku.  Lelaki brengsek, dia yang mengawali lalu menghilang tak tahu rimbanya. Tanpa pamit, tanpa aba-aba yang membuatku nyeri tak tertahankan.

“Tak ada manusia tegar, yang ada hanyalah manusia yang pura-pura tegar” barangkali aku memang sedang pura-pura tegar dengan masalah ini. Sore hari telah mengambil haknya, awan kota mulai meneduhkan, menutup sinar matahari yang menyengat. 

Mendung itu kini telah benar-benar pergi. Tuhan selalu mengatur semesta ini sesuai dengan proporsinya. Semua urusan kantor telah usai, aku kembali seperti orang kehiangan arah. Menangis dalam hati, menahan nyeri yang dia buat. Lemas, kakiku gemetar saat berjalan menuju parkiran. Motorku kulajukan dengan sekencang-kencangnya berharap sampai rumah dengan tepat.

Kuhiasi wajahku dengan senyuman setibanya dirumah, berharap ibu tidak mengetahui yang kualami. Kubasuh muka, kuambil air putih tuk sejenak menghilangkan gerah di kulitku. Kurebahkan tubuhku di kasur, menangis sejadi-jadinya tanpa ada orang yang tahu, mengingat kembali kenangan-kenang bersamanya. Aku benar-benar wanita payah. Bodoh. Masih saja mengaharapkan laki-laki brengsek itu.

Kucoba berdamai dengan keadaan, berdamai dengan tangis. Teman yang biasanya bisa menghiburku kini seperti tak bisa lagi kuharapkan. Orang-orang yang kutemui seperti asing dalam duniaku. Apakah aku benar-benar sudah kehilangan arah? 

Apakah aku seperti burung yang terbang sendiri ditengah luasnya alam semesta ini?” “Apakah memang aku ditakdirkan harus menjalani hidup seperti ini? Tuhan memang maha tak terduga, ia memberiku cobaan yang cukup berat padaku.

Senja. Sinar kuningnya menyilaukan, masuk dalam daun-daun di halaman rumahku. Indah seperti yang tergambarkan dalam novel-novel cinta. “Cinta?” aku tersenyum kecut jika mendengar kata “cinta”. Jika cinta bisa membuat wanita setia pada satu laki-laki, lalu mengapa cinta tidak bisa membuat laki-laki setia pada satu wanita? Cinta. Absurd dan tidak masuk dalam logikaku.

Matahari sudah mulai bergegas masuk dalam peraduannya. Tampaknya malam mulai mempersiapkan diri untuk menggatikannya. Bulan dan bintang belum terlihat. Adzan maghrib menggema di seluruh Masjid. Aku bergegas mengambil air wudhu, bersimpuh, menangis, bercerita pada tuhanku. Aku tenang. Kembali seperti orang normal. Tak ada luka, tangis dan sedih, walau kadang sesekali aku ingat dia, berharap dia menghubungiku.

Dalam keadaan tenang dan damai, tiba-tiba ponselku berbunyi. Banyak pesan masuk yang mengabarkan bahwa dia (laki-laki brengsek) itu telah memilih calon istrinya. Tanpa kabar, tanpa aba-aba, lagi-lagi aku dibuat tak berdaya. Hatiku ngilu, menangis kembali sejadi-jadinya, berteriak sekeras-kerasnya. Aku lemas, gemetar. Duduk dan menangis kembali. Mencoba menenangkan diri. ada ratusan pesan yang masuk; bersimpati padaku, iba terhadapku.

Malam yang gelap semakin gelap. Pekat, seperti jiwaku yang terguncang tak berdaya, memberontak terhadap nurani, memberontak terhadap logikaku. Memberontak terhadap nasibku. Aku menangis dalam pelukan ibu, mencurahkan air mata yang tak tertahankan, mengemis perhatian dalam dekapannya. Ibu, Lagi-lagi engkau hadir dalam gelapnya diriku.

Dalam keadaan berantakan aku mencoba mengihlaskan dia. Kini, semua telah kurelakan berharap wanita yang dia pilih bisa menjadi yang terbaik dan tak akan membuatnya kecewa. 

Percayalah, mungkin saat ini aku benar-benar kehilangan arah tapi waktu akan menyembukannya, waktu akan memainkan perannya kembali. Memberikan orang-orang kesempatan untuk memperbaiki diri, memberikan orang-orang kesempatan untuk belajar dari pahitnya perjalanan hidup.