Jika berbicara sosok perempuan tangguh, kuat, dan berani, saya lebih tertarik menceritakan tokoh perempuan fiksi yang digambarkan Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya “Midah si Manis Bergigi Emas.”

Kendatipun fiksi, namun Pram secara apik mengimajinasikan bagaimana sosok perempuan di tahun 50-an. Perempuan yang tak kenal rasa lelah dalam berjuang, melawan ganasnya kehidupan di Jakarta, Cibatok.

Midah sendiri gemar mendengarkan musik. Selera musik bapaknya adalah salah satunya. Karena, semenjak kecil ia selalu didengarkan musik Umi Kulsum oleh bapaknya Haji Abdul. Tak heran jika bakatnya adalah tarik suara –jangan tanya sebagus apa suaranya.

Sosok keibu-ibuannya dimulai ketika ia dijodohkan oleh bapaknya dengan Hadji Terbus, sosok kaya raya yang berpenampilan alim. Namun nahas, pernikahannya hanya berumur jagung. Ia kabur saat tahu bahwa Hadji Terbus punya istri selain dia. Ironisnya, ia kabur dalam kondisi mengandung.

Di sinilah perjuangan Midah dimulai sebagai seseorang Ibu yang tak kenal rasa lelah. Bakatnya menyanyi dijadikannya alat untuk mencari nafkah, bersama gerombolan keroncong yang ia temui di jalanan Jakarta.

Pernah salah satu dari gerombolan musisi keroncong itu menyebut anak yang dikandung Midah dengan sebutan ‘anak haram’, seketika Midah pun marah. Untungnya ada ketua keroncong --Mimin Kurus namanya-- yang memisahkan peselisihan itu.

Tampaknnya, menerima hinaan dan cacian lebih baik daripada tak makan. Ia tetap mencari nafkah dalam kerasnya jalanan Jakarta. Sambil mengandung anaknya, ia persembahkan suara merdunya dari satu tempat ke tempat lain.

Tak pernah ada niatan sekalipun dalam dirinya untuk menggugurkan kandungannya. Sampai akhirnya si anak yang dikandung itu lahir, dinamainya Djali.

Singkat cerita, ia berpisah dengan gerombolan keroncong karena satu masalah dan lainnya. Sambil menggendong Djali yang masih kecil, ia bernyayi dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu resto ke resto lainnya.

Begitulah penggalan perjuangan yang digambarkan Pram dari sosok Midah. Begitu keras jalanan Ibu Kota, hingga memaksanya berjuang sendiri.

Sosok Midah di Sekitar Kita

Belajar dari kisah Midah, perempuan yang digambarkan Pram di zaman sekarang ini juga mungkin kerap kita temukan. Perempuan tangguh, kuat, tahan banting diterpa kerasnya kehidupan jalanan.

Yang dilakukannya tak hanya untuk dirinya semata. Ia berani bertarung untuk menghidupi anaknya seorang diri. Tak peduli siapa bapaknya, tak peduli anak yang dilahirkannya haram/halal. Yang jelas, anak adalah manusia yang harus dan layak untuk hidup.

Kisah Midah mengingatkan saya pada Ibu Arin (nama samaran). Ibu dua anak yang menghidupi keluarganya tanpa sesosok laki-laki. Salah satu anaknya kebetulan sekolah di tempat di mana saya mengajar. Kehidupan ekonominya sulit. Untuk menghidupi keluarganya, ia harus berjualan menjajakan kue/gorengan setiap harinya.

Itulah sebabnya biaya SPP anaknya harus banyak menunggak. Ibu Arin juga bercerita bahwa salah satu penyebabnya adalah kegagalan pernikahannya untuk ketiga kali. Yang ketiga kali, suaminya pergi entah ke mana, meninggalkan anak ketiga yang sedang ia kandung. Sempat terucap kata dari mulutnya, kira-kira begini:

Yah bapaknya gak tau ke mana, biarin ajalah, yang di atas lebih tau jalannya ke depan yang terbaik buat saya dan anak-anak,” katanya begitu. 

Ketiadaan sosok laki-laki di sampingnya tak membuat dirinya lantas putus asa. Tak terlihat dalam raut wajah Ibu Arin keinginan menyerahkan kedua anaknya ke panti asuhan. Padahal itu bisa saja. Ia tetap berjualan menjajakan kue/gorengan setiap pagi hingga siang, bahkan dalam keadaan bunting sekali pun.

Kisahnya sontak membuat saya tersentuh. Hati saya seolah berkata, “Ibu ini wanita kuat, tahan banting, mungkin saja kasus seperti Ibu Arin banyak di luar sana.”

Gambaran Ibu Arin, sosok wanita kuat, mungkin saja banyak di luar sana yang harus berjuang sendirian. Apalagi di jalanan Ibu Kota. Namun masih saja persepsi masyarakat kita yang membuat perempuan seolah lebih lemah, hina, dan tak berdaya.

Kendati sudah banyak sosok wanita-wanita karier dengan kesuksesan mendulang tinggi, baik di desa maupun di Ibu Kota, namun tetap sosok seperti Ibu Arin masih bertebaran di mana-mana.

Coba kita lihat misalnya dengan data perceraian di tahun 2018. Menurut Website Mahkamah Agung sebagaimana dikutip news.detik.com, ada sekitar 419.268 pasangan. Inisiatif perceraian paling banyak dari pihak perempuan, sekitar 307.778. Sedangkan dari pihak laki-laki 111.049.

Ini yang terdata di Mahkamah Agung. Bisa dilihat dari sini ada berapa jumlah perempuan yang harus banting tulang menafkahi, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk keluarganya?

Saya yakin walaupun ini hanya spekulasi, di antara angka perceraian di atas ada orang-orang yang sebetulnya menikah untuk mengurangi beban ekonomi keluarga, terutama di pihak keluarga perempuan. 

Alih-alih mendatangkan kesejahteraan, perceraian membuat seseorang terbebani, baik secara jasmani maupun ruhaninya.

Kembali pada sosok Ibu Arin. Beliau mungkin bukan sesosok seperti RA Kartini, Rohana Kudus, Cut Nyak Dien, dan lain-lain. Namun, nilai perjuangannya tetap menjadi kemuliaan tersendiri.

Jadi ukuran kuat seseorang itu bukan terletak pada materinya, tetapi  kuat itu bagaimana seseorang mampu bertahan hidup di tengah-tengah budaya materialistik masyarakat kita.

Seperti Ibu Arin yang tetap menjajakan gorengannya untuk tetap hidup dan menghidupi keluarganya. Seperti cerita Midah digambarkan Pram dalam novelnya yang bertahan hidup dalam biadabnya jalanan Ibu Kota.