Dahulu kala sekitar tahun 1500-an di Desa Tasik Agung, Rembang, hidup seorang janda etnis Tionghoa bernama Mai Lae, ia mempunyai 3 anak laki-laki, si sulung bernama Dampo Awang, anak kedua bernama Dampo Awung, dan anak ketiganya bernama Dampo Awing.

Mai Lae dan ketiga anaknya hidup serba kekurangan, Mai Lae hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang rendah, dengan susah payah Mai Lae mendidik dan menghidupi ketiga anaknya, suami dari Mai Lae sendiri telah lama meninggal dunia karena tenggelam saat berangkat melaut.

Mai Lae mendidik ketiga putranya dengan penuh kasih sayang dan disiplin tinggi hingga membentuk karakter ketiga anaknya, si sulung Dampo Awang memiliki karakter pekerja keras dan ambisius, Dampo Awung memiliki karakter penyayang, dan Dampo Awing memiliki karakter bijaksana, ketiga bersaudara itupun mampu hidup rukun dan saling menyayangi, mereka juga sangat menyayangi ibu mereka, Mai Lae.

Meski Keluarga ini hidup serba kekurangan, namun ikatan kekeluargaan diantara mereka mampu terjalin begitu erat. Mereka juga saling menguatkan satu sama lain ketika cibiran-cibiran pedasw para tetangga menghampiri mereka.

Ketika menginjak dewasa, tiba saatnya bagi ketiga putra Mai Lae tersebut untuk menentukan hidupnya, Dampo Awang memilih merantau demi mewujudkan ambisinya menjadi orang kaya, Dampo Awung memilih bekerja didekat rumah agar bisa merawat ibunya, sedangkan Dampo Awing mecoba meniti karir menjadi pedagang dengan berjualan kue.

Ketika Dampo Awang hendak pergi merantau ia pun berpamitan dengan ibu dan kedua adiknya, saat berpamitan dengan ibunya Dampo Awang berkata :

Ibu doakan aku ya agar menjadi pelaut yang berhasil dan kaya raya, aku tidak akan pulang sebelum bisa menjadi saudagar kaya” sang ibu menjawab “Iya nak doa ibu selalu menyertaimu, ini aku berikan cincin emas satu-satunya milik ibu pemberian ayahmu dulu untuk bekal mu  merantau”, “Terimakasih ibu aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa mu dalam hidupku” ucap Dampo Awang.

Singkat cerita, pergilah Dampo Awang merantau bersama beberapa pemuda Tasik Agung. Saat Dampo Awang pergi merantau Mai lae sang ibu tak henti-hentinya selalu mendoakan kerberhasilan Dampo Awang, peluh air mata selalu keluar saat Mai Lae mendoakan Dampo Awang, Mai Lae yakin Dampo Awang akan berhasil mengingat Dampo Awang adalah sosok pekerja keras dan ambisius.

Benar prediksi Mai Lae, dalam perantauannya, Dampo Awang selalu bekerja keras dan tidak mudah menyerah, hingga 20 tahun kemudian Dampo Awang telah menjadi sosok yang kaya raya berkat usaha dan kerja kerasnya, setelah kaya raya Dampo Awang pun pulang ke Tasik Agung untuk memamerkan keberhasilannya menjadi orang kaya kepada para tetangganya.

Dampo Awang pergi menuju Tasik Agung dengan mengajak istrinya yang cantik dan juga para pengawalnya yang berjumlah belasan orang, Rombongan Dampo Awang berangkat menggunakan kapal pesiar mewah miliknya, setelah 2 hari 2 malam menumpuh perjalanan sampailah rombongan ini ditempat tujuan.

Sesampai di dermaga pelabuhan Tasik Agung, para tetangga pun riuh menyambut kedatangan Dampo Awang yang kini telah menjadi orang kaya raya, pakaian Dampo Awang terbuat dari lapisan emas, sepatu Dampo Awang terbuat dari berlian, beberapa tetangga pun memberitahu Mai Lae bahwa anak sulungnya Dampo Awang telah kembali dengan keberhasilannya menjadi orang kaya.

Mai Lae yang telah berumur 60 tahun pun bungah dan dengan tergesa-gesa mengajak dua adik Dampo Awang untuk menyambut kakaknya. “Ayo kita sambut kakak kalian nak” ucap Mai Lae kepada Dampo Awing dan Dampo Awung. Singkat cerita mereka bertiga pun bergegas menuju dermaga yang berjarak tak jauh dari rumah mereka.

Ketika Mai Lae sampai di dermaga dan bertemu Dampo Awang, Mai Lae langsung memeluk Dampo Awang, namun yang terjadi Dampo Awang justru menghindar dan menghina Mai Lae, Dampo Awang berkata “Hey kau siapa ? sudah tua lusuh, jelek, kotor mau memelukku yang ganteng dan kaya ini”.

Mai Lae pun kaget dengan respon Dampo Awang, kemudian Mai Lae membalas dengan disertai isak tangis “Nak aku ibumu nak aku ibumu”, Dampo Awang Menyahut lagi “Ibu ku telah lama mati, dan aku tidak mungkin memiliki ibu jelek sepertimu”.

Istri Dampo Awang pun mengingatkan suaminya “Suamiku tercinta apakah dia itu ibu kandung mu, akui dan peluklah dia jika memang iya”, Dampo Awang membalas perkataan istrinya “Tidak istriku dia bukan ibuku, ibuku telah lama mati”.

Kedua adik Dampo Awang pun sakit hati dengan perkataan Dampo Awang tersebut dan berkata “Kakak kau benar-benar durhaka kepada ibu, dulu kau merantau diberi bekal cincin emas satu-satunya milik ibu tidak ingatkah kau dengan jasa ibu”, Dampo Awang menyahut lagi dengan ketus “Wanita tua bangka dan lusuh itu (sambil menunjuk Mai Lae) bukan ibuku, kalian juga bukan adik-adik ku”.

Melihat sikap angkuh Dampo Awang, Mai Lae pun murka dan mengutuk Dampo Awang “Hey kau Dampo Awang yang angkuh, kau sudah kelewatan tidak mengakui ku sebagai ibumu dan juga tidak mengakui Dampo Awing dan Dampo Awung sebagai Adikmu, kau ku kutuk semoga tenggelam dilautan dan tewas bersama gulungan ombak”.

Setelah peristiwa itu, Dampo Awang pun memutuskan kembali pulang, benar saja, saat Dampo Awang kembali pulang, tiba-tiba hujan deras dan badai datang, dan menghantam kapal yang ditumpangi oleh Dampo Awang, kapal Dampo Awang pun pecah karena hantaman ombak, Dampo Awang akhirnya tewas tenggelam ditengah lautan beserta rombongannya, hanya sang istri yang selamat.

Hikmah yang bisa dipetik dari cerita ini adalah janganlah kita durhaka terhadap orang tua kita, apalagi kepada ibu, ibu adalah orang yang seharusnya kita sayangi dan kita hormati, jika kita durhaka kepada ibu dan ibu murka, niscaya murka ibu itu akan menjatuhkan azab yang pedih kepada kita, karena murka ibu adalah murka tuhan.