Kertas telah menorehkan goresan tebal dalam perjalanan sejarah evolusi manusia. Fungsinya memberikan sumbangsih yang besar, setidaknya sejak zaman sejarah dimulai yakni ketika manusia menemukan berbagai jenis cikal bakal tulisan dalam bentuk berbagai simbol dan guratan. Salah satunya sebut saja hieroglif di peradaban Mesir.

Ketika zaman sejarah dimulai, manusia masih cukup puas dengan fungsi dinding goa, batu, dan tulang sebagai tempat mengabadikan momen-momen, ilmu pengetahuan dan cerita tentang kehidupan mereka dengan berbagai macam ragam tulisan dan simbol. 

Saat itu, bisa jadi penemuan tersebut, yakni meninggalkan catatan pada tulang, dinding goa dan batu sudah serupa teknologi canggih. Catatan yang mereka tinggalkan mampu bertahan tetap ada hingga jauh setelah si penulisnya meninggal dunia.

Namun, seiring perkembangan manusia, penemuan itu menjadi usang dan menimbulkan ketidakpuasan. Ketidakpuasan ini muncul karena manusia merasakan  ketidakefektifan serta keterbatasan alat-alat itu. Mereka pun membuat penemuan baru, yakni kayu, kulit pohon, yang kemudian dievolusikan menjadi kertas.

Di sinilah cerita tentang kertas bermula. Manusia dengan evolusi dirinya yang semakin melesat membuat pula penggunaan kertas menjadi sangat digemari. Kertas jauh lebih efektif jika dibanding alat-alat lama yang digunakan untuk mencatatkan tulisan.

Kertas menjadi naik daun karena keefektifannya dibandingkan dengan alat-alat lama. Jika batu, tulang dan dinding goa sulit untuk disimpan karena memerlukan ruang yang besar, kertas menawarkan keefektifan penyimpanan. Kertas lebih mudah untuk disimpan.

Belum lagi, kertas juga menawarkan ruang yang lebih tak terbatas untuk mendokumentasikan tulisan. Jika satu batu hanya bisa menuliskan satu dua kalimat saja, maka kertas dengan ukuran sebesar batu berisi berlembar-lembar yang bisa memuat ratusan, ribuan bahkan lebih banyak lagi kalimat. 

Kertas pun semakin naik daun. Keberadaannya membuat, penggunaan alat-alat lama, batu, tulang apalagi dinding goa ditinggalkan hingga menjadi hampir nihil sama sekali.

Keefektifan kertas makin digemari seiring evolusi manusia yang awal mulanya hanya hidup dengan menghabiskan sumber daya makanan di satu tempat berubah. Manusia berpindah, nomaden. Hingga kemudian pula berkelana, ditemukan banyak pulau baru, tempat tinggal baru. 

Satu dua keluarga lama, suku, perkumpulan, kawanan lama ditinggalkan. Kertas sebagai pencatat momen menawarkan pula satu keefektifan lagi mengiringi evolusi manusia ini, yakni: kertas lebih mudah dibawa. Bahkan juga lebih gampang untuk dipindahkan dari satu tempat-ke tempat lain, serupa cikal bakal pengiriman dokumen atau surat menyurat.

Evolusi manusia sampai sekarang belum selesai. Seiring dengan itu pula, evolusi kertas belum berakhir. Kertas yang awalnya sebagai pencatat sejarah, kemudian muncul dalam berbagai nilai guna lain. 

Nilai guna yang sampai sekarang masih ada di rumah-rumah kita, seperti tisu, kantong belanja, pembungkus serbaguna hingga cangkir kopi. Namun kertas tetaplah meniliki nilai guna yang dianggap paling mulia, yakni sebagai sebagai dokumentasi tulisan yang berisikan banyak ragam catatan.

Evolusi manusia masih melesat, serupa berlari. Sekarang evolusi itu sedang berestafet pada perkembangan teknologi. Disinilah perjalanan evolusi kertas mulai dipertanyakan: Akankah kertas masih menjadi primadona sebagai pencatat, penyimpan keabadiaan catatan yang akan menjadi nilai sejarah? A

palagi di saat sekarang ini, cukup dengan hanya satu USB driver, ribuan bahkan jutaan bentuk kertas, buku bahkan kitab digital bisa tersimpan. Dibandingkan dengan ini, maka kertas sudah seperti dinding goa, batu dan tulang yang dulunya digunakan untuk menulis pada zaman manusia yang lebih purba. 

Keefektifannya pun dinilai berkurang. Kertas dalam tumpukan dokumen dan buku dianggap tak lagi lebih efektif dibandingkan kecanggihan teknologi yang menggantikannya.

Bukan hanya dalam ketidakefektifan ukuran, kertas menjadi seolah purba karena tidak lebih efektif untuk dipindah-pindahkan dibandingkan dengan dokumen dalam bentuk digital. Sebanyak apapun dokumen digital, dengan satu kali tekan tombol pada keyboard, bisa dikirim dalam hitungan satu menit, detik atau lebih cepat lagi dari itu.

Begitulah evolusi manusia telah pula menggiring pertanyaan tentang keberlangsungan pemanfaatan kertas. Di saat sekarang evolusi manusia telah mencapai kecanggihan teknologi, apakah di saat ini pula kita mempertanyakan: 

Apakah evolusi kertas dengan fungsi mulia: penyimpan sejarah, berbagai catatan dan ilmu pengetahuan akan berakhir? Apakah kertas akan ditinggalkan hingga tingkat yang paling nihil seperti layaknya penulisan pada dinding goa, batu dan tulang-tulangan?

Evolusi manusia tidak memiliki arah yang selalu meninggalkan penemuan lama. Keefektifan menjadi pertimbangan yang paling berarti. Maka penggunaan kertas setidaknya belum akan berakhir. Kertas masih menyimpan keefektifan yang memaksa manusia belum bisa atau tak boleh berpaling total.

Kertas masih memiliki keefektifan dalam fungsi pengabadian, pencatatan momen, ilmu dan sejarah. Bukankah inilah awal mula fungsi cikal bakal tulisan serupa hieroglif diciptakan? Yakni demi meninggalkan catatan sejarah, momen dan ilmu pengetahuan menjadi lebih abadi daripada si penulisnya sediri, atau bahkan lebih abadi daripada momen terjadinya hal yang  dituliskan itu.

Keefektifan kertas dalam menjadi abadi masih bernilai lebih. Bayangkan jika semua virus menjangkiti sistem penyimpanan data dokumen, maka tak ada lagi yang akan tersisa untuk diwariskan ke masa depan. 

Bukankah virus lebih mudah tersebar daripada membakar ribuan dokumen, kertas dan buku yang masih bisa diseleundupkan dan tak bisa terdeteksi keberadaannya karena tak tersimpan pada komputer yang akan terhubung oleh penghubung paling cangging saat ini : internet.

Jika pun diantara kertas dan dokumen digital tak bisa dikatakan mana yang lebih baik satu sama lain, setidaknya keduanya bisa saling melengkapi. Kertas harus tetap hadir, digunakan untuk memastikan agar dokumen tidak benar-benar raib karena bencana teknologi serupa virus internet dan komputer.

Memang benar kertas bisa pula hilang dengan cara terbakar atau basah. Namun ibarat prinsip investasi : kita tak boleh menyimpan telur dalam satu jenis keranjang yang, harus ada beberapa jenis agar setidaknya salah satu bisa menyelamatkan jika satu yang lain ‘binasa’.

Namun, satu pertanyaan lagi muncul, jika pada zaman dulu para arkeolog merasa betapa beruntungnya para manusia purba meninggalkan batu-batu, dinding goa dan tulang berisi tulisan-tulisan dan simbol,  bisa jadi di masa yang akan datang, di waktu yang masih sangat jauh di depan, mereka juga akan sama gembiranya saat menemukan dokumen berupa kertas, buku atau kitab kuno. 

Kedua fungsinya masih sama, mengabadikan cerita, catatan sejarah, dokumen dan ilmu pengetahuan.

Hingga saat ini kita masih belum bisa membayangkan bagaimana para arkeolog mesti mencari peninggalan dokumen sejarah dengan target pencarian dokumen digital. Prinsip kerja arkeolog selama ini terkadang berlandaskan pada pencarian sesuatu yang sama sekali tak diketahui wujud atau jenis objeknya. 

Persentase penemuannya pada suatu  lokasi pun masih sangat kecil. Bahkan sering pula penemuan terjadi tak terduga karena tidak direncanakan. Namun penemuan seperti ini lebih memungkinkan terjadi karena objeknya memiliki bentuk fisik yang bisa dipegang, berwujud lebih nyata, memiliki ruang dan memiliki volume. Misalnya seperti artefak kuno, prasasti, dokumen atau kibat kuno.

Lalu bagaimana nantinya cara arkeolog menemukan dokumen digital yang lebih tak berwujud nyata, tak memiliki fisik yang memiliki ruang dan volume? Apakah akan dicari satu pers satu pada setiap USB driver, hard disk atau komputer-komputer lama. 

Apalagi jika sebelumnya kita tak mengetahui dokumen digital itu ada. Seperti mencari akun facebook, namun arkeolog sama sekali tak tahu bahwa aplikasi facebook pernah ada. Wujudnya tak bisa muncul tiba-tiba tanpa dicari dengan jelas pada jagat dunia internet yang teramat luas.

Bagaimana pula jika dokumen itu hilang seiring dengan komputer tempat satu-satunya rusak dan sama sekali tak bisa diperbaiki lagi?

Kita memang belum bisa membayangkan teknologi yang nantinya akan ada untuk menemukan dokumen digital di masa yang nantinya akan menjadi masa lampau serupa itu. 

Tapi bisa jadi akan ditemukan nanti. Teknologi selalu memberikan sesuatu yang tak terbayangkan oleh manusia di zaman ini. Teknologi selalu selangkah lebih maju dibanding pemikiran atau imajinasi kebanyakan manusia.

Namun hingga sistem teknologi itu akan ditemukan nantinya, cerita evolusi kertas belum bisa dikatakan berkahir. Keberadaan kertas, bagaimana pun mereka berkata sudah mulai ditinggalkan, tetap masih akan digunakan, mau tidak mau. Kertas masih harus ada demi menjaga keefektifan menyimpan keabadiaan catatan. Cerita kertas masih belum berakhir.

Bisa jadi evolusinya telah berhenti sampai pada satu titik saat ini, yakni sebagai dokumen, buku, dan beberapa alternatif alat kebutuhan sehari-hari manusia. Bisa jadi nanti akan muncul fungsi-fungsi baru dari kertas. Kita tak pernah tahu, karena evolusi manusia, pemikiran dan penemuan manusia itu sendiri belum berakhir.

Walaupun tak ada penemuan fungsi baru, dengan fungsi yang saat ini saja, kertas belum bisa ditinggalkan hingga titik nihil. Perkembangan evolusi manusia bukan hanya bergerak melaju ke arah modern yang mengharamkan hal tak modern atau tak muthakir. 

Evolusi manusia juga melaju ke arah merindukan masa-masa lebih minim teknologi dan sampah modern seperti plastik yang terlalu abadi dan merusak ekosistem di bumi. Di sini peran kertas dinilai lebih efektif untuk melindungi penghuni bumi.

Mengkaji perkembangan itu, kita menjadi boleh optimis bahwa industri kertas masih belum akan kehabisan nafas. Fungsi utama kertas sebagai dokumen dan buku masih menwarkan keefektifan. Belum lagi dengan semakin tingginya kesadaran untuk menggunakan berbagai hal berbasis kertas yang lebih ramah lingkungan daripada penggunaan alternatif lain berupa plastik.

Kertas bisa jadi dipertanyakan keramahannya terhadap populasi pepohonan. Namun kebengisan sampah plastik dalam merusak kehidupan penghuni bumi, terutama hewan-hewan, tak bisa dikesampingkan. Bisa jadi penggunaan plastik yang dibiarkan semakin membengkak akan lebih merusak daripada penggunaan pepohonan untuk bahan baku kertas. 

Justru dengan tingginya kebutuhan akan pohon untuk membuat kertas, kita akan lebih banyak menanam pohon dan terciptalah bumi yang lebih hijau seperti sedia kala. Evolusi manusia tak berarti harus meninggalkan masa lalu dan berlari terus ke arah modernisasi. Evolusi pada hakikatnya adalah untuk mencari opsi terbaik bagi manusia dalam menjalani kehidupan di bumi.