63798_95421.jpg
Masyarakat di Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua (Foto: Harian Pagi Papua)
Lingkungan · 7 menit baca

Cerita dari Nduga
Bumi sebagai Ibu dalam Perspektif Orang Papua

Judul ini terinspirasi dari buku kumpulan cerita pendek Pramoedya Ananta Toer, Cerita dari Blora (Balai Pustaka, 1952). Cerita-cerita itu ditulis semasa dan selepas ia dipenjara Belanda di Bukit Duri, Jakarta pada rentang waktu 1945-1949.

Itulah masa-masa di mana kata Revolusi demikian bergema dengan hebatnya. Masa di mana semangat pembebasan terasa begitu dekat. Penjajah terusir. Bangsa sendiri menjadi pemimpin.

Sayangnya, yang dilihat oleh Pramoedya—dan kemudian tergambar dari cerita-ceritanya—adalah rakyat Blora yang tetap sengsara. Zaman berubah. Penguasa berganti. Tetapi kehidupan rakyat terus menderita.

Cerita dari Blora adalah kisah-kisah muram. Apakah cerita dari Nduga juga?

Cerita Nduga menurut Dinas Pariwisata 

Menurut situs resmi Dinas Pariwisata Provinsi Papua, Nduga adalah salah satu Kabupaten di Provinsi Papua. Ibu kotanya Kenyam. Sebelumnya pernah menjadi bagian dari wilayah administratif Kabupaten Jayawijaya. Ia resmi dimekarkan pada 4 Januari 2008.

Luasnya 2.168 km2. Ia berada di hamparan Lembah Baliem, sebuah lembah aluvial yang terbentang pada areal ketinggian 1500-2000 meter di atas permukaan laut (dpl). Temperatur udara di sini bervariasi di sekitar 14,5 derajat Celcius. Kabupaten Nduga terbagi dalam 36 desa dan 8 Distrik, di antaranya : Distrik Wosak, Distrik Kenyam, Distrik Geselma, Distrik Mapenduma, Distrik Mugi, Distrik Yigi, Distrik Mbua, dan Distrik Gearek.

Transportasi ke wilayah ini jelas merupakan urusan serius. Mengunjungi Nduga, menurut situs Dinas Pariwisata, hanya dapat dilakukan dengan transportasi udara (jenis pesawat Pilatus, Cessna dan Twin Otter) dari Wamena atau Timika.

Meskipun sulit untuk dijangkau, masih menurut keterangan situs Dinas Pariwisata, Nduga adalah surga wisata. Ia jadi tujuan menarik bagi mereka yang digolongkan sebagai turis dengan minat khusus. Mereka yang berminat melakukan studi penelitian (flora, fauna, sosbud) tertentu pada kawasan hutan hujan tropis yang masih belum tersentuh, Nduga-lah tempatnya.

Cerita Nduga menurut Presiden Jokowi

Bagi Presiden Joko Widodo, bukan 'surga' itu yang terutama ia kenang dari Nduga.  Seperti Pramoedya Ananta Toer dalam Cerita dari Blora, yang ia ingat tentang Nduga adalah kesuramannya. Tak ada jalan beraspal, bahkan satu meter pun.

"Itu kabupaten di Tanah Air ini yang aspal satu meter pun enggak ada. Itu ibu kotanya saja enggak ada aspal, dapat dibayangkan distrik-distriknya seperti apa," kata Jokowi di Jakarta pada Jumat, 6 April 2018 tatkala bertemu dengan sejumlah budayawan.

Jokowi pertama kali mengunjungi Nduga pada 31 Desember 2015. Dan dengan cepat ia menyimak ketiadaan infrastruktur menjangkau daerah itu.

"Butuh waktu empat hari empat malam, berjalan kaki, naik, turun gunung, masuk ke hutan, baru sampai dari Wamena, masuk ke Nduga," kisah dia. (Catatan: Presiden Jokowi ke Nduga ketika itu dengan helikopter).

Barang-barang kebutuhan pokok tentu mahal dengan keterisolasian demikian. Tetapi rakyat Nduga menyiasatinya dengan cara mereka sendiri. Bila di Wamena, kota terdekat, masyarakat terbiasa membeli BBM dengan harga Rp60.000 per liter, di Nduga masyarakatnya terbiasa hidup tanpa energi modern itu. 

Nduga makin suram dengan sejarah gangguan keamanan. Nduga sejak dulu dicap sebagai zona merah. Wilayah ini terkenal sebagai basis Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB). Awal bulan ini, misalnya, TPNPB menyatakan tak akan mengendurkan serangan-serangan di Nduga. Mereka bahkan menyatakan siap meladeni bila pemerintah Indonesia mengirim pasukan tambahan.

“Kami dengar Bapak Presiden Jokowi hendak mengirim militer dengan jumlah besar. Silakan kirim. Kami TPNPB Kodap III Ndugama tetap membeli jualan yang Bapak presiden kirim. Engkau menurunkan pasukan banyak kami juga punya pasukan silakan datang,” demikian pernyataan Komandan Operasi lapangan TPNPB/OPM KodapIII Ndugama, Egianus Kogeya, yang dikutip berbagai media pada 5 Juli lalu.

Menurut Jokowi, saat dia berencana ke Nduga tiga tahun lalu, sempat dilarang oleh Panglima TNI. Tetapi ia mengabaikan larangan itu. Ia memutuskan tetap harus pergi.

Maka, seperti dilaporkan Kompas, kunjungannya itu diwarnai oleh ketatnya pengamanan. Ketika mendarat dengan helikopter dari Timika bersama Ibu Negara, Ny. Iriana dan dua anaknya, Kahiyang dan Kaesang, aparat keamanan berjaga di berbagai tempat, termasuk di semak belukar, pepohonan, bangunan kosong hingga di kerumunan warga.

Aparat tambahan menggunakan seragam militer juga tampak dengan posisi siap tembak. Kendaraan dobel gardan yang ditumpangi Presiden Jokowi dikawal tak hanya di bagian depan, tetapi juga di belakang. Walaupun tak ada anggota Paspampres bermotor di kiri-kanan mobil Presiden, sejumlah anggota Paspampres dan personel TNI lainnya berjaga-jaga.

Cerita Nduga menurut Ben Bohane

Jim Elmslie, dalam buku karyanya Irian Jaya Under the Gun: Indonesian Economic Development versus West Papuans Nationalism (University of Hawaii Press, 2002), menceritakan kisah perjalanan Ben Bohane ke Nduga.

Bohane adalah seorang wartawan foto yang telah berkeliling dunia untuk meliput sejumlah gerakan gerilya di berbagai belahan dunia. Dan perjalanan Bohane yang diceritakan di dalam buku itu bertujuan mewawancarai Kelly Kwalik, pemimpin OPM kala itu.

Lalu apa yang ia lihat di Nduga?

Menurut Bohane, Nduga tak ubahnya sebuah 'negara merdeka'. Dalam arti, tak ada ketergantungan sama sekali kepada pemerintah. Tak ada manfaat apa pun yang diterima rakyatnya dari negara yang disebut Indonesia. (Catatan: keadaan Nduga yang diceritakan oleh Bohane adalah keadaan sebelum tahun 2002, sebelum buku itu terbit).

Dalam soal pendidikan dan kesehatan, misalnya, masyarakat justru mengandalkan misionaris asing. Dan mereka yang disebut sebagai OPM tidak dapat dibedakan dengan masyarakat biasa. Dalam kata-kata Elmslie: budaya kontemporer suku Nduga dan suku Amungme bercampur menjadi satu secara utuh dalam kegiatan dan tujuan OPM.

Diakui juga bahwa ada satu-dua orang perwakilan pemerintah yang bertugas mengatur desa. Misalnya, untuk mengawasi lapangan udara.

Tetapi, menurut Bohane, tugas itu mereka lakukan lebih didorong oleh keinginan untuk membantu operasi Missionary Aviaton Fellowship (MAF) daripada menjalankan tugas pemerintahan. Bohane mengatakan, kecuali patroli ABRI (sekarang TNI) yang  datang sangat jarang, tidak ada orang Indonesia (maksudnya non-Papua) yang mengunjungi wilayah itu.

Alam Nduga sendiri, dalam pengamatan Bohane, adalah sahabat, pelindung, sekaligus guru bagi masyarakat Nduga, termasuk para gerilyawan OPM. Demikian kerasnya alam itu untuk bisa ditaklukkan, menurut Bohane, menjadi alasan tidak berhasilnya ABRI meringkus OPM di wilayah itu walaupun sudah 20 tahun mencoba.

Sebaliknya, orang-orang Nduga mengenal secara intim wilayahnya. Mereka akrab dengan jalan-jalan setapak yang sempit dan sulit dikenali. Alam adalah ibu bagi mereka. Ibu yang merawat dan memberi makan mereka.

Menurut Ben Bohane, kendati OPM adalah kelompok gerilya paling primitif yang pernah ia kenal, determinasi mereka tidak perlu diragukan. Mereka, di mata Bohane, memiliki seluruh karakter dasar untuk perjuangan kemerdekaan sebuah bangsa yang sebelumnya dapat dtemukan di Kuba, di Vietnam maupun di Burma.

Apa yang membut perjuangan mereka demikian mendalam, kata Bohane, adalah karena hal itu dijalankan di sebuah wilayah yang sangat terpencil dengan akses yang minim ke dunia luar. Kenyataan bahwa OPM dapat menjalankan perjuangan mereka dengan topangan sumber daya yang sedikit, lanjut Bohane, menunjukkan adanya komitmen emosional yang sangat kuat.

Menurut Bohane, mereka tidak memiliki rasa takut. Mereka berani berhadapan dengan TNI hanya dengan panah dan senapan sederhana.

Cerita Nduga dan Kelly Kwalik

Semula Ben Bohale mengira misinya mewawancarai Kelly Kwalik akan dapat dia selesaikan dalam beberapa hari. Ia keliru. Sebulan lamanya ia harus menunggu dalam ketidak pastian.

Di situ ia menghayati apa yang disebut sebagai Melanesian Time. Jika Anda ragu, sebaiknya tunggu. Anda yang mengendalikan waktu. Bukan waktu yang mengendalikan Anda. Kelly Kwalik berjuang sampai 20 tahun, dan tak ada yang membuatnya perlu terburu-buru.

Akhirnya ia bertemu Kelly Kwalik. Di sebuah desa rahasia berpenghuni 100 orang di Geselema, setelah sebuah perjalanan yang sulit. Inilah wawancara pertama yang pernah ia berikan kepada wartawan setelah 20 tahun memimpin OPM secara gerilya.

Dari wawancara, Ben Bohale dapat mengambil kesimpulan bahwa Kelly Kwalik memimpin pemberontakan OPM dari perspektif hukum adat (suku) Papua. Dalam perspektif ini, mereka melihat kehadiran Indonesia dan Freeport telah melanggar hukum.

Jika seseorang datang ke kampung Anda dan mencuri babi-babi Anda, tanpa memberitahu Anda, dan tidak menawarkan kompensasi, Anda berhak membunuh mereka. Itulah hukum adat.

Menurut Ben Bohane, Kelly Kwalik dan OPM melihat Freeport dan Indonesia datang mengambil kekayaan Papua tanpa memberi kompensasi. Itulah alasan mengapa mereka membunuh. Itulah esensi dari legitimasi gerakan mereka.

Menurut Daniel Kogoya, salah seorang kepercayaan Kelly Kwalik yang mendampingi Ben Bohane sepanjang penantian wawancara, mereka telah mendata 43.000 orang Papua yang telah terbunuh sejak tahun 1977. Kehadiran Freeport dan Indonesia mereka rasakan sebagai ancaman atas tanah-tanah adat mereka.

Walaupun Freeport merasa tidak ada urusan dengan mereka, orang Nduga menganggap bumi Nduga adalah milik mereka. Bumi Papua ibu mereka, yang memberi mereka apa yang mereka butuhkan untuk hidup. Mereka, dalam kata-kata Emslie, rela mati untuk sang ibu.

Cerita Presiden Jokowi dan Nduga

"Saya yakin, seiring pembangunan di kawasan ini, kekerasan akan mereda. Model pendekatan ini bisa jadi solusi efektif meredakan kasus kekerasan yang kerap terjadi," kata Presiden Jokowi pada tahun 2015.

Beliau tampaknya sangat meyakini bahwa pendekatan pembangunan dan kesejahteraan adalah obat paling mujarab untuk merebut hati orang Papua, termasuk Nduga.

‎”Membuka jalan, jalan-jalan harus tembus semuanya. Distribusi barang harus masuk dan harga pasti jauh lebih murah,” kata dia.

Selain menjanjikan pembangunan jalan, Jokowi juga berjanji akan membangun pelabuhan besar Mumugu di Nduga. Dengan adanya pelabuhan dan jalan yang sudah tembus, harga-harga barang di Papua diharapkan turun.

Walaupun kesungguhan Presiden atas pendekatan pembangunan dan kesejahteraan ini tak diragukan, banyak pihak terutama di kalangan Papua sendiri beranggapan bahwa pendekatan semacam itu tidak cukup.

Kelly Kwalik telah mati. Tetapi apa yang disuarakannya masih bergema sampai saat ini. Tidakkah suara itu patut didengar?