Kau melihat jam tanganmu. Kukira benar, untuk apa manusia membuat jam bila kebahagiaan dan kesedihan tak pernah tepat waktu. ~ Agus Noor dalam Cerita Buat Para Kekasih (2014)

Cerita buat Para Kekasih adalah sebuah buku yang (mungkin) terakhir karya Agus Noor selama empat tahun terakhir ini. Membaca buku yang berisi 31 cerpen ini—yang konon untuk 18+—sepintas dari judulnya seperti cerita-cerita percintaan seorang wanita (galau) ataupun cerita-cerita picisan murahan. 

Padahal ketika membaca (dari) Seorang Wanita & Jus Mangga sampai Memorabilia Kesedihan, sebagian besar temanya adalah wanita, tragedi kematian, dan kondisi sosial politik. Sebagai terdapat pada kutipan berikut:

“...... Wanita memang selalu berbahaya, karena kita tak pernah tahu apa yang ada di pikiran nya..... Penderitaan membuat wanita semakin kuat, kesedihan tak pernah membuat wanita kehilangan harapan...."~ Seorang Wanita & Jus Mangga

" ........ Kami menulis pesan ini setelah mati. Di antara kami bertiga, rupanya ada yang berkhianat, dan lolos dari kematian........" ~ Pesan Terakhir

Dalam buku Cerita buat Para Kekasih ini—seperti sudah sebagian karya Agus Noor lainnya—menulis ceritanya dengan gaya liris dan surealis. Agus Noor dalam bercerita dalam buku ini begitu mengejutkan; dari membuat metafor-metafor unik sampai ide penyampaian cerita yang mengerutkan dahi pembaca. Dari mulai cerita-cerita pendek paling pendek sampai cerita pendek seperti sebuah novela. Dari mulai ceritanya agak realis sampai cerita sangat surealis.

***

Dalam cerita pendek pertamanya—Seorang Wanita & Jus Mangga—Agus Noor dalam rangkaian ceritanya meminjam efos cerita Yusuf dan Zulaikha. Akan tetapi, dalam lakon ceritanya diputarbalikan, sang wanitalah yang dipuja oleh seorang pria dan ketika seorang prianya memotong mangga, sang pria baru menyadari ketika pulang menuju mobil melihat satu jarinya tiada.

Walaupun alur ceritanya mudah ditebak, tetapi Agus Noor mengemas ceritanya dengan metafor-metafor; diksi-diksi yang liar. Sehingga pembaca tidak merasa bosan dibuatnya.

Model tragedi pun ada dalam kumpulan cerita pendek Agus Noor ini, terdapat pada cerita pendek berjudul Pulang. Dalam cerita tersebut, seorang istri mendapa kabar tentang suaminya yang diculik dan kemudian seorang istri mencarinya sampai kembali tanpa jasad. Padahal suami tersebut masih hidup dan tidak diculik. 

Dengan berjalannya waktu dan mengikhlaskan ketiadaan istrinya, tak dinyana—menurut kabar tetangga—bahwa setiap ulang tahun pernikahannya, seorang wanita (istrinya) selalu membuat kue tar untuk suaminya sebelum lekas pulang. Sungguh ironi.

Ada juga cerita pendek yang unik, yang memiliki subjudul yang saling menyambung ceritanya. Cerita pendek tersebut berjudul Cerita Pengantar Tidur. Cerita tersebut adalah (mungkin) sebuah kegelisahan Agus Noor terhadap kondisi sosial-politik yang dilihatnya. Seperti terdapat pada kutipan berikut:

"...... Saya dan Thomas selalu bermain...." Tapi kenapa ketika pelajaran agama, kelas kami berbeda?" "Ya, memang begitulah peraturan sekolah...." "Kenapa belajar agamanya dikelas yang sama saja?" "Kan beda." "Beda apanya?" Seorang ayah bingung untuk menjawab gadis 7 tahun ini."

Makna dari kutipan tersebut adalah kegelisahan dengan sistem pendidikan di Indonesia yang selalu memisahkan perbedaan mengenai agama, padahal agar agama tidak salah paham dan bentrok satukanlah perbedaan tersebut dari mulai sejak kecil, pendidikan. Agar perbedaan tersebut saling memahami.Dan kegelisan Agus Noor diperjelas dengan subjudul Dua Wajah Kekasih. Seperti dalam kutipan berikut:

"Kalian lihat bangunan gereja dan masjid itu?.... Pada saat itu, para penduduk yang mayoritas agama Islam ikut bekerja membantu membangun gereja. Sementara ketika perdagangan makin maju, orang-orang Eropa yang beragama Kristen ikut menyumbang pembangunan masjid itu.... Kedamaian selalu dimulai dari saling pengertian....."

Ada yang unik dari cerita Agus Noor yang berjudul Matinya Seorang Demontrans. Mengapa demikian? Sebab ketika membacanya seperti membaca kehidupan Eka (Kurniawan) dan Ratih (Kumala) ketika sedang masih pacaran dan kuliah di Yogyakarta, yang pada saat itu terjadi pada keadaan krisis moneter Indonesia tahun 1998. 

Mungkin ada benarnya, sebab Agus Noor mengenali Eka Kurniawan sebagai seorang sastrawan dari Tasikmalaya ini. Yang cerita tersebut diakhiri dengan sad ending, Eka diceritakan menjadi seorang demonstran yang menghilang tanpa jejak, sedangkan Munarman pengganggu hubungan asmara Eka dan Ratih kena tembak polisi yang nyasar.

Yang menjadi anehnya, malah Munarman yang tidak ikut berjuang sebagai demonstran dianggap pahlawan, malah saking dianggap pahlawan nama Munarman dijadikan nama jalan;

"Dulu ia mengenal jalan ini sebagai Jalan Sutowijayan. Kini bernama Jalan Munarman. Pecundang memang sering kali lebih beruntung." ~ Matinya Seorang Demonstran

Dan masih banyak lagi cerita-cerita menarik sekaligus memberikan sudut pandang baru bagi pembaca dari Agus Noor, yang sarat memberi makna kehidupan bagi pembaca yang budiman.