Ada badai dalam diri Son sejak ditinggal mati oleh Alberth—anak lelakinya yang berumur delapan tahun. Kehilangan orang yang dicintai membuat Parkinson Ward atau Son tak bersemangat melakukan apa pun. Ia depresi dan menjadi tukang mabuk setiap malam.

Aku selalu memperhatikan Son sejak ia mulai minum di Bar Parlette tempatku bekerja. Namaku Aracis Pintoi pelayan di bar itu. Setiap malam Son selalu ada di tempatku bekerja. Ia mabuk dan menumpahkan segala masalahnya dalam bir. Sungguh kasihan. Son akan pulang sampai bar kami tutup. Dia tak mau di rumah. Rumah menginggatkan pada anaknya.

“Kau tahu Tuhan sungguh kejam. Ia mengambil anakku satu-satunya. Orang yang paling kusayangi di dunia” ucap Son saat aku memapahnya pulang. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik. Mendengar setiap keluh dan caci makinya pada Tuhan. Aku mencoba menjadi pundak yang disandarkan walau tanpa memberi solusi.

Son sang pemabuk. Itu julukan baru yang disematkan orang-orang padanya. Dia tak mempedulikan itu. Bahkan ia tak mempedulikan lagi hidupnya. Ia begitu frustasi dan jauh dari Tuhan. Ia tak lagi berdo’a dan berubah menjadi Son yang menyedihkan.

Ada sisi dimana aku harus berbuat sesuatu kepada Son tapi aku juga sama sepertinya. Aku yang sekarang adalah hasil kerapuhan ditinggal orang yang aku sayangi. Kami sama. Kami senasib dalam hubungan dunia yang kejam ini.

“Kau harus kuat Son. Hidup kadang tidak adil tapi begitulah kehidupan. Kitalah yang harus menyesuaikan diri, bukan kehidupan yang menyesuaikan pada kita” bisikku pada Son saat aku memapanya di hari berikutnya.

“Kau percaya Tuhan Aracis” balas Son. Aku diam setengah berpikir. Tak tahu harus menanggapi pertanyaan Son. Aku percaya Tuhan tapi kadang aku menghianatinya. Aku juga mengalami dilema berat. Hidup membuatku tak mempercayai apapun. 

Kata orang, ikuti alur saja. Tapi alur mana yang harus diikuti? Aku banyak mempertanyakan sesuatu. Banyak sekali keluhan dan belum menemukan jawaban yang pas terhadap pertanyaan-pertanyaanku. Itulah kenapa aku menepi. Menyudutkan diri dalam kehidupanku yang sempit.

Di bar parlatte kutemukan hidupku. Melayani berbagai macam orang untuk minum dan bersenang-senang. Dalam secangkir minuman kau bisa temukan bayanganmu. Merefleksi kehidupan usang kita. Dari banyak orang yang datang, Son adalah juara satu di Bar Parlette. Dia tidak pernah berbuat rusuh meskipun mabuk. Dia selalu sopan meski hidup memberinya beban. 

“Tuhan memang tidak adil” celetuk Son di tengah mabuknya. Ia selalu mengatakan Tuhan tidak adil. Dan itu membuatku bertanya apakah benar Tuhan tidak adil. Karena aku juga sempat merasakan kondisi dimana semua hidupku berantakan dan kacau.

“Apa kau bahagia Aracis” celetuk Son ketika sadar masih merengutnya. Ia terlalu banyak minum. Kata-katanya bebas keluar. Tapi semua kata-kata itu jujur dari hatinya. Ada semacam kemurnian gejolak perasaan. Aku mendengar ucapan Son seperti ditusuk duri. 

“Ya, aku bahagia” balasku sambil memberinya tambahan minum di gelasnya. “Kau bohong. Aku melihatmu. Kau sama sepertiku. Apa masalahmu?” tanya Son sambil memandangku. Aku tak ingin menjawab. Mendiaminya sejenak.

Son mengajakku minum. Ia mentraktirku. Sekarang terbalik. Dia yang menemaniku.. Kami berdua adalah pecundang di ujung dunia. Kami terbenam dan menumpahkan masalah-masalah yang ada. Di taman setelah pulang dari bar parlete kami memandang bulan purnama. Menikmati air mancur dan resonasi bunyi yang dihasilkannya. Kami diam dalam hening. Berdamai dengan diri kami sejenak.

“Apa waktu bisa merubah kenangan Son. Aku ingin sekali melenyapkan memori” ucapku pada Son yang sedang diam. “Entahlah Aracis. Aku bahkan tak mempercayai waktu. Bagaimana aku bisa menjawabnya” balas Son. Dia tertawa dalam balutan sedih. 

Kami tergenang dalam lautan cahaya purnama. Aku tersenyum menerima jawaban Son. Kami benar-benar pecundang diatas dunia. Kami menyadarinya dan kami adalah rajanya.

“Kau tahu semakin kau ingin melupakan, semakin kuat ia dalam bayangan. Mustahil. Memori apa yang ingin kau hapuskan?” celetuk Son menyadarkan aku dari diamku. Iya benar. Memang aku tak bisa melupakan Elisabeth tunanganku. Sejak kami mengalami kecelakaan dan dia meninggal membuatku frustasi. 

“Tapi yang jelas waktu juga yang akan menyembuhkan kita. Kematian akan mempertemukan kita lagi dengan orang yang kita sayangi” tambah Son. 

Ia lebih bijak malam ini. Aku tak tahu apa yang merasuki Son yang jelas ada cahaya yang tiba-tiba hinggap dipikiranku. “Ya” balasku dengan suara rendah. Aku tersenyum pada Son. Dan dia juga tersenyum seolah mendapatkan karunia dari Tuhan.

“Apakah dia mabuk” pikirku. Atau jangan-jangan alkohol telah merubah otaknya menjadi religius. Aku binggung sambil memandangnya. Ia terus melihat ke arah pancuran seolah ada surga dibalik tabir air itu. Dia tersenyum. Di bawah halusinasinya yang putih ia  merasa menjadi Yesus. Dan aku menjadi muridnya dalam kegelapan malam itu.