Beberapa waktu lalu saya sempat membaca dua artikel tentang kecemburuan seorang  cewek terhadap sahabat cewek pacarnya, dan saya jadi ikutan latah ingin menceritakan sesuatu. Kali ini coba kita balik situasinya. Bagaimana jika tokoh utama yang kita bahas ada seorang cowok yang cemburu pada sahabat cowok pacarnya?

Biar imbang gitu, jangan cewek saja yang disalah-salahkan.

Di artikel yang saya baca itu dijelaskan bahwa rasa nyaman kita saat sedang bersama seorang sahabat, baik itu sesama atau lawan jenis, kadang memang tidak bisa disamakan dengan kenyamanan saat bersama pacar. 

Apalagi kalau tempo pacarannya masih dalam hitungan minggu atau bulan, pasti masih ada rasa jaimnya dan segala macam. Bersama sahabat tentu kita sudah tidak saling jaga image dong, mau sekonyol dan segila apapun ya fine-fine saja.

Ini yang membuat dalam beberapa hal kita juga jadi lebih terbuka pada sahabat dibandingkan dengan pacar, ada beberapa hal yang lebih enak didiskusikan dan dilakukan dengan sahabat.

Saya sendiri sejak kecil punya banyak teman cowok, bahkan lebih banyak yang cowok daripada cewek. Saya juga tidak tahu kenapa, mungkin karena saya sedikit tomboi dan kurang suka dengan geng cewek-cewek yang doyan berkelompok dan saling nyinyir.

Awalnya biasa saja sampai akhirnya saat di SMA dan saya punya pacar yang lebih tua beberapa tahun dari saya. Karena tidak menjalani hari-hari dalam circle yang sama, dia kurang tahu bahwa di sekolah saya punya banyak sahabat cowok. Ada satu orang sahabat yang hampir setiap hari mengantar saya pulang ke rumah dengan vespanya, sebenarnya hanya karena ingin nebeng makan siang lalu tidur sampai sore di sofa sih. 

Tapi pacar saya cemburu. Dia mulai over posesif, beberapa kali dia memaksa diri menjemput saya pulang sekolah, padahal itu masih jam kerja di kantornya. Saya mulai dilarang menerima tamu sahabat-sahabat cowok yang setiap malam minggu suka nongkrong di rumah saya beramai-ramai. Saya tentunya mulai risih karena apa-apa dibatasi. Akhirnya saya lebih memilih mempertahankan sahabat saya daripada si mas pacar yang resek itu.

Kejadian ini berulang dengan mantan pasangan saya, semenjak bersama dia saya total hampir tidak punya teman. Teman, sahabat, sekaligus musuh saya tumplek blek ada di diri dia. Saya dibatasi segala sesuatunya, termasuk dengan teman kerja. Tentu hubungan ini tak awet.

Nah dari sini saya coba menyimpulkan,

Pertama, bahwasanya cowok bila sudah punya sahabat cewek cenderung akan lebih sayang dan menganggapnya saudara. Tentu gestur tubuh dan sikapnya juga ajan sedikit berbeda dibandingkan dengan teman biasa. 

Ini yang bikin para pacar biasanya cemburu karena merasa hak menyayangi ceweknya adalah hak asasi mereka sepenuhnya, seratus sepuluh persen. Jadi tidak boleh ada orang lain apalagi yang sesama cowok pakai acara sayang-sayangan sama ceweknya, walaupun cuma sebagai sahabat.

Kedua, karena rasa nyaman untuk saling bercerita dan bertingkah konyol  jugalah akhirnya sahabat cowok ini kena imbasnya lagi. Si pacar yang otoriter tentu maunya ceweknya hanya cerita dan bertingkah gila bersama mereka, nggak usah sama orang lain. 

Padahal memang ada beberapa hal yang lebih enak dilakukan bersama sahabat cowok. Tanpa jaim, tanpa baper, tanpa caper, dan tanpa sibuk jaga perasaan.

Ketiga, cewek secara otomatis tentu 'mempelajari' beberapa sikap dan sifat cowok dari sahabat cowoknya sendiri. Tak jarang kami para cewek juga menanyakan beberapa hal yang kurang kami pahami dari pacar pada sahabat cowok. Padahal tidak semuanya klop, kadang sahabat cowok yang kurang suka dengan pacar pun bisa saja mengarang-ngarang jawaban.

Keempat, cowok beranggapan kalau pacarnya punya sahabat cowok maka resiko tikung-menelikung akan semakin besar. Kans untuk kehilangan pacar semakin lebar. 

Sebisa mungkin mereka akan jadi sangat posesif dan over protective pada pacarnya, salah satu caranya adalah dengan membatasi gerak si pacar bersama sahabatnya. Semakin jarang mereka bertemu maka semakin berkurang pula kesempatan adanya tikungan.

Tak jarang, rasa cemburu cowok ini mereka tunjukkan dengan sikap balas membalas. Ingin membuat ceweknya balas cemburu lalu jadi lebih sering dekat dengan sahabat ceweknya, padahal ini salah. Nanti kalau ceweknya sudah cemburu betulan, eh malah nyolot terus dijadikan bahan tulisan artikel. Kok ribet men lho uripmu ki, mz?!

Inti dari semuanya adalah sama-sama pengertian dan menghilangkan egosentris. Sama-sama tahu bagaimana menjaga perasaan pasangan, sama-sama paham kalau sebagai makhluk sosial kita dan pasangan itu juga tetap butuh komunikasi dan interaksi dengan orang lain, sama-sama mengerti bagaimana memperlakukan pacar dan sahabat, jangan dipukul rata. Kalau ini sudah bisa dijalankan kayaknya bakalan aman jaya kok, percaya deh.

By the way, saya akhirnya memang menikah dengan sahabat cowok saya itu lho.