88508_86332.jpg
Foto: TripAdvisor
Puisi · 1 menit baca

Cemburu dan Cinta Tak Berlambang

Bedak dan Gincu

Di tengah terik matahari
dan kencang angin laut siang itu
aku tetap setia menunggu
kekasihku melambai di jalan Daendels

di antara bedak dan gincu
aku tetap tahu yang mana kamu
dengan senyum tak bergincu
dan bedak tak terusap di pipimu  

wajahmu memerah bukan karena panas
itu karena kau tahu aku menunggumu
dengan senyuman yang sama seperti
saat pertama kau tahu bunga itu bermakna 


Juwita

ketika juwita
sang penebar pesona kehilangan pesonanya
dan mulai jatuh cinta
pada pria gila yang tak paham
arti kata mesra
saat itu ...
tangisnya lebih syahdu dari derai tawanya
dan wajah paniknya lebih anggun
dari kecantikannya
dan lelaki manakah sanggup meredam asmaranya


Langit Sore

Langit sore seperti menyapa
Aku yang sendiri tak berarti
Menantimu datang penuhi janji
Dan burung pulang kembali
Aku tetap duduk menyendiri

 Ketika dingin Angin laut membelai
 Aku terjaga ada kamu dibelakangku
 Kau panggil aku hi....
 Adakah aku dilamunanmu tanyamu
 Kujawab dengan senyum dan kau pun tahu jawabku


Cemburu

Kau coba nyalakan cemburuku
Sedang baramu pun tak jua mampu
Membakar sudut hati
Mana mampu...

Jangan gila karena kebekuanku
Karena mencairkannya hanya butuh waktu
Yang aku pun tak tahu entah
Tak pula kamu


Cinta tak Berlambang

Aku iri dengan mawar
Meski berduri tapi jadi lambang cinta
Aku benci dengan jantung
Karena selalu jadi simbol cinta
Meski mematikan
Cinta itu tak berlambang
Karena bersumber darinya
Cinta tak perlu bukti
Karena ia tak pernah sembunyi
Dan ia hadir lebih dekat daripada urat nadimu