1 tahun lalu · 480 view · 4 menit baca · Media 17706_22234.jpg
Ilustrasi: tirto.id

Cemburu? CELUP-in Saja

Berbahagialah mereka yang gemar cemburu; bahagia sebab sudah punya aplikasi khusus untuk men-CELUP-kan siapa saja yang membuatnya jadi begitu.

Kemarin, 27 Desember 2017, netizen Twitter ramai membicarakan sebuah gerakan berlabel “Kampanye Anti-Asusila”—cuitan tentangnya bertengger lama jadi trending topic. Namanya unik sekali: CELUP, akronim dari Cekrek, Lapor, Upload.

Sesuai namanya, gerakan ini memfasilitasi orang-orang yang merasa diri dirugikan oleh kemesraan sepasang kekasih di ruang publik. Mereka, yang benci melihat jalannya ekspresi rasa sayang orang lain, diberi keleluasaan untuk melaporkannya sebagai tindak asusila.

“Kalau menemukan tindak asusila (orang pacaran) di ruang publik, masyarakat bisa foto, kirim ke kami, lalu di-upload ke media sosial.” Begitu terang Koordinator CELUP, Fadhli Zaky, di Jawa Pos.

Tak perlu takut atau ragu, katanya. Pihaknya mengklaim, dasar hukum yang digunakannya sangat jelas, yakni Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Pasal 76E. Para pelaku dapat dijerat sanksi hukum yang sesuai.

“Jangan ragu. Pelakunya dapat dikenakan pidana kurungan penjara 5 tahun atau denda sebanyak 5 miliar.”

Usut-diusut, gerakan ini ternyata dipelopori mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jawa Timur. Pantas saja jika kemasannya tampil begitu apik. Suguhan ilustrasi-ilustrasinya sangat memukau mata. Indah.

Adapun alasan mengapa konsentrasi mereka tertuju ke ruang publik, karena anggapan bahwa ruang bersama kini sudah kurang perhatian. Mungkin tak peduli lagi pada perasaan kaum jomblo. Mereka menilai bahwa ruang publik telah beralih fungsi jadi tempat baku cumbu pasangan kekasih secara berlebihan.

“Pasangan kekasih yang pacaran berlebihan dapat ditemui di taman, bioskop, angkutan umum, parkiran, dan mereka tidak merasa malu atau sungkan jika dilihat oleh orang lain.”

Maka mereka pun menggerakkan CELUP guna mengembalikan fungsi ruang publik. Inginnya adalah ruang publik sesuai khitah menurut standar mereka sendiri. Pun sekaligus hendak mencegah tindak asusila di kalangan remaja usia SMP hingga SMA lantaran dinilai sebagai laku yang tak beradab.

Untuk itulah CELUP hadir dengan penegasan: Selamatkan ruang publik kita. Pergoki mereka! Laporkan kepada kami. Bahkan ada hadiah bagi mereka yang berhasil mengumpulkan banyak poin karena laporannya, mulai dari merchandise, key-chain atau voucher, serta t-shirt. Semuanya mewah.

Untuk sarana yang digunakannya, selain media sosial, di antaranya adalah pemutaran film, sosialisasi langsung di pusat-pusat keramaian (kantin, masjid, dan Car Free Day), hingga membuat stiker khusus di LINE berlabel “Potrait Report Upload”. Dari stiker inilah diketahui bahwa CELUP, bisa dikatakan, khusus jadi medianya orang-orang pencemburu memang.

Have you ever been jealous with somebody in love?” Demikian deskripsi singkat stikernya yang bisa dibeli seharga 10 koin LINE atau Rp 3.000. Relatif murahlah.

Hebatnya, gerakan ber-tagline “Pergokin Yuk! Biar Kapok” ini direstui penuh oleh Pemerintah Kota Surabaya—entah itu klaim sepihak atau tidak. Better Youth Project pun ikut jadi pelopor utamanya. Sementara dukungan lainnya datang dari TV9, Radiogasm Surabaya, C2O Library, Aiola Eatery, serta media massa Jawa Pos dan Detik.

Belakangan, C2O Library dan Detik memberi konfirmasi bahwa namanya dicatut begitu saja. Mungkin CELUP sengaja menjual nama besar mereka demi meraup dukungan sebesar-besarnya. Sangat mungkin.

Kami dari detikcom tidak pernah melakukan kerja sama untuk kegiatan ini. Saat ini, kami sedang mencoba meminta klarifikasi dari pihak penyelenggara. @detikcom

Wah, kami baru tahu juga bahwa ada aplikasi & kampanye seperti ini. C2O tidak terlibat dalam kampanye ataupun aplikasi CELUP. Tidak ada komunikasi ataupun persetujuan dari pihak CELUP ke C2O untuk pencantuman logo C2O dalam kampanye CELUP. @c2o_library

Meski pernah meliput kegiatan CELUP, tapi Jawa Pos mengaku tidak menjalin kerja sama khusus dengan gerakan ini, termasuk memberi izin pencantuman logo medianya dalam kampanye “mulia”. Pun demikian dengan pihak Aiola Eatery. Pihaknya juga mengakui hal yang serupa. Bahwa CELUP asal comot tanpa permisi. CELUP mencuri. Hematnya begitu.

Neo-Penggerebekan

Benar kata Detha Prastyphylia, aksi CELUP tak lebih dari “neo-penggerebekan” belaka. Dengan hanya bermodalkan kamera (HP) dan media sosial saja, setiap orang sudah bisa ikut melakukan aksi penggerebekan gaya baru ini dengan mudah.

Caranya? Tinggal scan barcode dari OA LINE kampanye CELUP. Potret mereka yang pacaran di ruang publik sebagai “tindak asusila”. Kirim foto yang sudah memenuhi kriteria itu untuk mendapatkan poin (setiap foto bernilai 100 poin). Lalu, terakhir, tukarkan poin itu dengan hadiah yang tersedia sesuai ketentuan. Mudah dan bermanfaat, bukan?

Tentu saja. Jika dulu para pencemburu hanya bisa memendam sendiri saja perasaan sakitnya dalam hati, atau setidaknya men-curhat-kannya dalam bentuk status di media sosial, kini perasaan sakit mereka itu bisa terbalaskan. Dapat poin dan hadiah menarik lagi. Benar-benar banyak manfaat.

Tapi, yang tak habis pikir, motor penggeraknya adalah kelompok masyarakat yang selama ini orang kenal sebagai kaum terdidik: mahasiswa. Tentu hal ini sangat disayangkan, sebab bukannya memberi pencerahan, yang tampak darinya justru menebar-luaskan perilaku ndeso alias kampungan. Miris.

Tak salah kemudian jika sutradara kenamaan Joko Anwar pun ikut mencuitkan gerakan recehan mereka ini di akun media sosialnya.

Sementara mahasiswa dari negara lain berinovasi di teknologi untuk kemudahan hidup umat manusia, beberapa mahasiswa Indonesia bikin campaign untuk memotret orang pacaran. Di situ saya berpikir we are doomed. @jokoanwar

Lalu apa? Anda sendiri, si pencemburu, ingin bagaimana sekarang? Men-CELUP-kan siapa saja yang beradu kasih di ruang publik agar dapat hadiah, atau beralih melawannya sebagai bentuk pelanggaran hak paling asasi dari manusia? Bisa juga malah memilih untuk berdiam saja pada kebanalan model ini. Ya, bukan masalah.

Artikel Terkait