Paul Tillich pernah berkata, "Seseorang tidak dapat menghilangkan kecemasan dengan membantahnya."

Benar adanya. Tak perlu dibantah, terima saja. Kecemasan seperti rindu yang suka datang karena alasan tertentu, lama tak bertemu misalnya.

Dan setiap orang punya kecemasannya sendiri-sendiri yang tak bisa dihindari. Masalahnya adalah jika cemasnya terlalu sering, berlebihan, dan tanpa alasan yang kuat, itu berbahaya. Menurut para pakar itu namanya gangguan kecemasan alias anxiety disorder.

Saya nggak akan membahas apa dan bagaimana anxiety disorder, kalau mau tahu silakan tanya langsung kepada ahlinya. Hanya saja belakangan di era pandemi semakin banyak orang yang mengalami cemas berlebihan yang ujungnya bukan hanya stres tapi bunuh diri. Ngeri!

Bayangkan saja 3 bulan terakhir di lingkungan tempat tinggal ibu saya ada 3 orang yang memilih mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Kebetulan ketiganya berjenis kelamin laki- laki dengan masalah utama hutang, PHK dan cinta.

Jadi, apakah kebetulan ini membuktikan kalau perempuan lebih strong menghadapi tekanan hidup? Bisa jadi itu benar. Yang suka ngeremehin perempuan itu mahluk lemah, anda salah. Kalau menangis jadi patokan kelemahan, anda juga salah. Ada kan laki-laki yang nggak nangis karena gengsi tapi mabuk-mabukan terus ngromyang cecurhatan. Maka masalahnya bukan di nangisnya toh, tapi bagaimana cara meluapkan emosinya.

Baca Juga: Cemas Berlebihan

Bicara cinta nggak ada habisnya, merembetnya kemana-mana. Setuju tidak kalau saya bilang cinta itu sumber masalah sekaligus sumber bahagianya manusia? Hal sederhana yang jadi rumit di tangan manusia.

Pada kasus tetangga ibu saya, dia memilih menyelesaikan hidup karena sungguh menyakitkan tak bisa bersama orang yang paling disayang. Hidup terasa hampa tak berguna. Tiap hari bertemu tapi cinta tak bisa menyatu. Kesal, sedih, kecewa yang dirasakan setiap hari sungguh menyiksanya, mungkin lebih menyakitkan dari siksa api neraka.

Hebatnya sebelum 'pergi' dia berpamitan kepada perempuan pujaan hatinya itu lewat video call WhatsApp. Semacam pembuktian diri tentang cinta sampai mati. Padahal mbak pacarnya itu berstatus istri orang. Piye, Miris kan. Beban berat perselingkuhan.

Ehe.. jadi ingat lagunya Om Muchsin Alatas—Pasrah.

Lebih baik aku mati di tanganmu
Daripada aku mati bunuh diri
Lebih baik kau bunuh aku dengan pedangmu
Asal jangan kau bunuh aku dengan cintamu
Ku tak menyesali kalau diri ini
Engkau jadikan diriku cinta kedua darimu
Biarlah aku terima

Sayangnya masnya nggak mau begitu, keukeuh bunuh diri dan nggak rela menjadi nomer 2. Malah kabar terbaru dia jadi hantu yang suka mengganggu tetangga kiri kanan. Ketuk-ketuk jendela atau pintu atau duduk di antara pepohonan di dekat pos ronda. Duh, mas, kenapa sih nambahin cemasnya tetangga.

Sementara soal hutang, tak dipungkiri menghadapi ini tak mudah dan pandemi semakin memperparah. Kebutuhan semakin tinggi sementara pendapatan segitu-gitu aja malah cenderung berkurang atau malah nol karena PHK.

Nah di kasus tetangga ibu saya, yang satu putus asa nggak ngerti harus bagaimana setelah di PHK padahal dia tulang punggung keluarga. Satunya lagi hutang menumpuk karena menuruti semua permintaan kekasihnya. Kan, lagi-lagi karena cinta.

Permintaan demi permintaan sang pacar menggrogoti kantongnya. Hutang terooss, lama-lama menggunung lalu bingung dan super cemas tak bisa membayar lunas.

Kalau begini siapa yang disalahkan? Hati yang mengutamakan cinta, logika yang tak digunakan sebagaimana mestinya, atau Korona yang (katanya) hasil konspirasi para petinggi dunia?

Kita memang sedang tak baik-baik saja, kecemasan dimana-mana. Chaos. Covid-19, dolar yang sangat tak stabil, perekonomian amburadul, perpolitikkan yang semakin nganu, isu-isu sosial, kemanusiaan, sampai kabar tentang beberapa wujud manusia yang ber-attitude 'istimewa' dengan prank-prank ajaibnya, belum lagi serbuan kata-kata netizen.

Yang lucu ya menghibur, yang baik jadi penyemangat, yang menghujat, nge-bully dan nyinyir itu yang sangat disayangkan. Rasanya jadi susah untuk pura-pura tak khawatir, cemas jadi makanan sehari-hari selain nasi. Nggak kepo kok ya penasaran kabar terkini, baca berita kok ya malah gemes. Serba salah. Aku kudu piye.

Makanya anjuran social distancing itu perlu, menjauhi segala apa yang ber-poison. Mau bicara-bicara, sharing, ngomel, ghibah, atau menghibur diri dengan cerita-cerita lucu, aneh dan nggak penting-penting amat bisa dilakukan tanpa bertemu dan nongkrong bareng kok, di WhatsApp Grup misalnya.

Iya, kita ini sedang tak baik-baik saja. Tapi semoga segala hal buruk tak berlarut-larut, hidup tak semakin carut-marut. Mari bersama saling menguatkan di tengah kondisi yang semakin ambyar ini.

Jaga kesehatan. Jaga kebersihan. Cuci tangan pakai sabun. Jangan lupa pakai masker. Jangan berkerumun. Jangan sibuk memikirkan dia yang tak memikirkanmu. Jangan ribet mencintai dia yang blas tak mencintaimu balik. Pokoknya jangan. Singkirkan rindu-rindu yang berpotensi menyakiti hati, seperti rindu mantan yang sudah happy happy dengan yang lainnya misalnya. Cukup, di-cut saja ya.

Sate kambing warung pak Iwan
Tambah nasi dan lumpia
Stay safe everyone
Tetaplah waras dan bahagia