Dampak pandemi corona bukan hanya mengubah tataran sosial, ekonomi dan politik, tetapi juga aspek psikologis masyarakat. Pasalnya, pandemi Corona telah memengaruhi mental (psikis) masyarakat, ditandai dengan kecemasan, khawatir hingga ketakutan.

Kecemasan berlebihan itu muncul bukanlah tanpa sebab. Setiap hari orang disuguhi berita corona lewat beragam media. Lalu timbul rasa cemas. Informasi yang berlebihan telah menyerang psikologis masyarakat. Begitu pula di media sosial, konten Corona menguasai lini masa.

Tanpa disadari, cemas telah menghantui kehidupan masyarakat sekarang ini. Penularan rasa cemas berlebihan tampak lebih cepat dan masif dibandingkan apa yang dicemaskan. Reputasi corona lebih menakutkan dari Corona itu sendiri. Rasa takut sampai pada prasangka buruk mendahului fakta, akibatnya kesadaran rasionalitas hilang.

Keadaan ini memunculkan pertanyaan, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa rasa cemas berlebihan itu hadir? Kenapa rasa takut itu muncul? Bagaimana ia bisa menghantui warga? Pertanyaan ini membawa diskusi panjang, setidaknya tulisan singkat ini menjawab pertanyaan itu.

Menurut Kaplan, kecemasan adalah respons terhadap situasi tertentu yang mengancam, dan merupakan hal yang normal terjadi menyertai perkembangan, perubahan, pengalaman baru atau yang belum pernah dilakukan, serta dalam menemukan identitas diri dan arti hidup.

Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan fisiologis dan psikologis.

Lebih lanjut Kaplan menjelaskan bahwa kecemasan adalah tanggapan dari sebuah ancaman nyata ataupun khayal. Individu mengalami kecemasan karena adanya ketidakpastian dimasa mendatang. Kecemasan dialami ketika berpikir tentang sesuatu tidak menyenangkan yang akan terjadi.

Cemas dan takut menimbulkan perasaan tak nyaman yang sama dalam diri, namun keduanya berbeda. Dalam banyak literatur, kecemasan lebih bersifat irasional karena tidak memiliki alasan ataupun objek ketakutan yang jelas, seperti mengawang-awang ataupun belum pasti keberadaannya. Sedangkan takut bersifat lebih rasional karena memiliki objek yang nyata.

Pandemi Covid-19 telah menjadi sebab kemunculan rasa takut dan kekhawatiran, sehingga dengan keadaan rasa takut itu mengacaukan pikiran dan tindakan masyarakat.

Memahamkan Hiperealitas

Situasi pandemi yang tercipta dinilai sebagai hiperealitas. Realitas yang ada tidak sesuai dengan realitas yang dikehendaki. Realitas baru di konstruksi sesuai selera. Sebagian orang mempercayai Corona dianggap sebagai propaganda dan konspirasi sehingga serupa misteri, pada akhirnya menghadirkan berbagai argumen sebagai percobaan jawaban.

Tidak hanya itu, mereka klaim Covid-19 tidak lebih dari hasil rekayasa media yang melakukan peliputan secara hiperbolik, menciptakan ketakutan. Efek dramatisme dan framing sengaja dibuat, dengan tujuan menebar kengerian, termasuk soal menyangkal kematian akibat Covid-19, sebagaimana yang ditampilkan selama ini. Kalkulasi bisnis dan mengejar rating penyebabnya?

Masyarakat bertanya-tanya, siapa sekarang yang bisa dipercaya? Benarkah konstruksi media sebagai konspirasi? Sejatinya, pilihan untuk percaya itu tergantung anda. Satu hal yang tidak bisa ditolak adalah keberadaan wabah yang memorakporandakan seluruh sendi kehidupan.

Cemas dan takut akan penularan wabah menciptakan ruang stigma. Problemnya, kita sibuk mencari cerita awal, tetapi tidak mencoba untuk mengakhirkan virus. Seluruh sumber daya dan konsentrasi sepatutnya ditempatkan pada upaya menyelamatkan nyawa, dibanding sekadar menebak motif.

Sebenarnya, sikap skeptikal adalah awal rasionalitas ilmu pengetahuan, yang mencoba mencari berbagai jawaban dari persoalan yang membekap manusia. Perbedaannya, terletak di aspek rasionalitas sebagai kesadaran hidup. 

Ilmu pengetahuan menegakkan rasionalitas sebagai kesadaran. Memahami persoalan dengan mengurai unsur-unsur utama yang membentuknya, lantas menyusun jawaban yang dimungkinkan untuk menuntaskan masalah di setiap bagian tersebut.

Situasi kegelapan pengetahuan akan virus baru ini membuat masing-masing pihak menciptakan rasa tidak percaya, membangun narasi konspirasi, melontarkan tuduhan kepada pihak lain, dibanding harus bersatu serta bekerja sama dalam kepentingan yang sama untuk untuk mencari solusi bersama menanggulangi penyebaran wabah ini.

Realitas di atas realitas menghadirkan realitas baru. Realitas yang terjadi ini adalah hasil campur aduk antara yang fakta dan faktoid -diyakini sebagai seolah-olah kebenaran. Sosial media yang tidak terverifikasi memegang peran dan ikut andil dalam kekacauan tersebut.

Kini dengan sekejap mata, viralitas berita mudah terjadi, dalam hitungan detik menjangkau lokasi sedemikian jauh, karena bentuk masyarakat jaringan yang disebabkan koneksi teknologi internet. Kondisi tersebut menciptakan half truth atau kebenaran setengah, tetaplah tidak mencerminkan fakta, bisa juga disebut half lies -setengah bohong.

Dalam pandangan Jean Baudrillard, filsuf kontemporer, hiperealitas merupakan ruang simulasi, yang menggantikan realitas sebenarnya menjadi ilusi kebenaran. Istilah citra mengemuka, sebagai bagian dari perangkap dari situasi hiperealitas.

Maka dalam pandemi ini, kita belum sampai pada substansi realitas, ketika hanya membicarakan citra semata pada apa yang tampak terlihat. Lebih jauh Baudrillard mengemukakan, sekurangnya ada beberapa kondisi yang menjelaskan sebuah citra.

Keberadaan citra, di antaranya; (i) merefleksikan realitas, (ii) memutar balik realitas, (iii) menutupi realitas, hingga (iv) tidak berhubungan dengan realitas itu sendiri.

Jadi, bagaimana memahami pandemi dalam sudut pandang konstruksi hiperealitas? Boleh jadi sebagian orang telah masuk dalam perangkap simulasi. Termasuk pada soal konspirasi dan propaganda, sebagai jawaban atas situasi pandemi.

Bukankah media berperan mengonstruksi hal tersebut? Tentu saja, terlebih bila konsumsi media yang rutin dilakukan adalah pada media yang tidak melakukan proses kurasi dan verifikasi. Sosial media saat ini menghasilkan keberlimpahan informasi, dan tsunami sampah digital berisi kebohongan.

Situasi overload informasi terjadi di jagat maya membutuhkan kesadaran rasional. Tingkatkan kemampuan literasi, untuk memilih dan memilah informasi yang disuguhkan. Check fact, itu dasarnya.

Tapi sekali lagi, ruang digital memang menggunakan algoritma filter bubble atas kegemaran pada tema tertentu. Lalu keyakinan itu diamplifikasi, mengalami penguatan pesan dalam format ruang gaung -echo chamber. Resonansi emosi tercipta, membentuk homogenitas serta mengelompok.

Makin meyakini hal tersebut, maka makin dalam jerat perangkapnya. Maka kita kemudian gagal untuk memahami realitas yang sebenarnya, karena kita tengah berada di ruang simulasi. Citra yang mengelilingi kita sudah terlepas dari realitas.

Satu-satunya jalan keluar dari jebakan tersebut adalah dengan membangun kemampuan berpikir kritis, agar kita tidak menjadi manusia satu dimensi sebagaimana Herbert Marcuse, filsuf Mazhab Frankfurt, yang menyebut bahwa manusia modern telah kehilangan kemampuan untuk menguatkan daya nalar dan rasionalitas.

Sebagai penutup, melawan kecemasan dan ketakutan pandemi ini hanya bisa kita lakukan dengan kesadaran rasionalitas pendekatan ilmu pengetahuan, dan tindakan kedisiplinan diri; kedisiplinan kesehatan, kedisiplinan kebersihan hingga kedisiplinan mematuhi segala bentuk aturan-aturan protokol kesehatan untuk pencegahan Covid-19. Dan senantiasa berusaha mendapatkan asupan informasi yang valid dan terverifikasi tentang Covid-19.