Berserak segumpal daun dari beringin rindang bersiap untuk dibakar. Beberapa anak berlarian di area toko buku dan beberapa sibuk menyisir halaman per halaman buku yang haus terhadap informasi. Bau asap daun terbakar menambah syahdu sore itu di toko buku yang jadi sumber pengetahuan. Ada lima toko telah berdiri setelah puluhan tahun dibangun atas kesadaran meretas kejumudan berfikir.

Koleksi buku dari barang curian hingga koleksi pribadi yang sengaja dijual bisa ditemukan bila saja kesabaran dan fokus ada dalam diri pembeli. Kertas tanda peminjaman dari perpustakan X banyak ditemukan. Dijualkah? Atau pembaca frustasi tak punya uang lalu dilempar saja ke toko buku tua itu.

Berbagai genre buku dapat ditemui dengan mudah, dari mulai novel sastra hingga buku-buku propaganda Bakunin dan Kropotkin yang menjadi semangat perjuangan ala mereka. Buku dewasa dengan cover vulgar bisa ditemukan disana tapi harus memberi tahu kode kepada penjual, karena tak mungkin dipampang didepan toko.

Memang tak banyak sadar pentingnya literasi, karena sering direduksi pada hal ihwal materialistis saja. Tak kaget, hanya segelintir manusia saja berani betah berjam-jam mengamati dan melumat habis isi buku-buku. Beberapa memang sengaja dibuka agar tertarik dan tahu isi dalam buku dan harapannya bisa dikemas lalu dibawa pulang.

“Cari buku apa mas?” tanya bapak penjual buku pada Boim yang tengah asik mondar-mandir dari toko satu ke toko lainnya. Sudah 5 toko dilewatinya tapi tak satupun memikatnya. “Buku sastra pak. Ada?” Tanya Boim sembari meletakan buku yang telah dilihat sebelumnya. Boim tertarik sekali dengan Sastra, karena waktu itu tertegun hatinya karena Pram. Tanpa sastra seperti hewan yang pintar. Tertanam kuat di otaknya.

“Brak!” Diletakkan sebandel buku sastra komplit, Boim melihat ada karya sastra baik mancanegara sampai domestik. Paul Coelho, Vladimir Nabokov, Leo Tolstoy terlihat di bagian bawah setelah beberapa nama-nama sastrawan domestik seperti Mochtar lubis, Y.B Mangunwijaya dan beberapa karya sastra langka Abdoel Moeis.

Mata Boim berbinar-binar melihat harta karun sastra Indonesia yang hari ini banyak dicari pengaggum sastra. Cukup langka karya-karya para maestro itu, sudah jarang dan tidak semuanya terbit di Toko Buku ternama, dan beberapa bisa memainkan kelangkaan dengan menaruh harga mahal. Kadang tercekik dan meringis melihat harga buku seperti bayar satu semester kuliah.

Diambilnya satu buku karya Mochtar Lubis. Sudah lama Boim mengidam dan penasaran ketika temannya spoiler kisah Buyung dan mistisme Wak Katok dan Wak Hitam. Dibeberkan juga percintaan gelap yang membuat bulu kuduk bahkan birahi mencuat kala Buyung terkesima paras molek  nan cantik Siti Rubiyah. Rasa penasaran membuat semangat agar segera mengantonginya.

Sinar sore masuk kedalam sela-sela tembok yang bolong karena sudah tua tak dapat perhatian. Uang hasil jualan saja, hanya cukup untuk bayar sewa dan beli satu kantung singkong untuk menahan lapar. Kadang gemetar diganyang penjual lain yang melek teknologi dan –jelas mampu menguasai pasar.

Boim belum begitu puas, digapainnya lorong meja dengan bau kencing tikus yang menyengat. Nampak tak bersih, dan kurang dirawat, nampak basah dan lembab dengan bertumpuk-tumpuk buku di dalamnya. Ditemukannya buku besar sekitar tujuh ratus halaman Sejarah Filsafat Betrand Russell. Dia sering dikenal sebagai filsuf dan matematikawan cerdas dan beberapa masih memuja sampai hari ini.

Filsafat dapat membangun dan menguatkan kesadaran dan ketajaman berfikir. Gumam Boim sambil menepuk buku berat itu karena debu kental menyelimutinya. “Wah, menarik. Suka buku filsafat juga mas?” Timpal penjual buku. “Ya pak, sering juga konsumsi buku filsafat biar nambah wawasan pengetahuan.” Penjual itu pun duduk diatas meja dan memulai berbincang filsafat.

Didengarnya, petuah penjual buku dengan sangat lihai dan komunikatif dalam berbincang filsafat. Didengarnya petuah historiografi kebijaksanaan kaum Yunani Kuno mengamati realitas hidup pada waktu itu, untuk ditafsirkan melalui indra dan akal. “Filsafat itu jalan sebuah kebijaksanaan. Thales, Socrates, Anaximendes, Anaximender, parmanides berfikir atas kondisi yang ada atas penciptaan bumi. ” Jelas sedikit oleh penjual buku pada boim yang mendengar dengan baik.

Nampak berbeda, penjual buku satu ini dengan penjual buku lain yang jarang sekali mudeng perihal isi buku. Memang tak bisa menyalahkan. Kehidupan kompleks, tak bisa disamaratakan. Bisa jadi tujuan penjual buku murni kecintaan pada literasi. Penjual buku kembali menjelaskan pemikiran Aristoteles, dengan mengaitkan pengaruhnya pada kondisi barat dan Islam.

Pada waktu barat mengalami era kegelapan, dunia Islam sedang mengalami perkembangan luar biasa, melalui pengetahuan. Astronomi, matematika dan ekonomi. Orang-orang islam pada waktu itu di Anatolia, Bagdad sampai masuk di negara benar-benar cerah, sedangkan barat waktu itu, masih ingusan.

“Mengapa bisa terjadi demikian?” tanya Boim dengan rasa ingin tahu tinggi. Mereka itu haus pada pengetahuan. Filsafat dan mengamati kondisi alam adalah hal wajib dilakukan. Seperti Al-Farabi contohnya, dia dijuluki sebagai “guru kedua” setelah Aristoteles dengan karya seperti logika, politik, psikologi dan Al-Farabi sendiri juga interes pada musik.

Andai dirimu tahu, Al-Farabi membuat sistematika pemikiran politik juga didasari pemikiran Plato dengan karyanya politea. Luar biasa bukan? Boim masih termenung kenapa islam bisa segila itu dalam pengetahuan. Dia pun teringat omelan Mark Zuckerberg kala mendewakan Al Khawarizm, penemu angka matematika dan berpengaruh pada coding angka biner. Sungguh luar biasa ilmu itu. Merugi bagi mereka tak mau mengenyam ilmu. Renung Boim.

Bahkan Al Biruni dan Ibnu Sina berdebat kala keduanya, Al biruni mengkritikan fisika Aristoteles sedangkan Ibnu Sina membelanya. Dialektika dan benturan gagasan itulah yang melahirkan ilmu baru dan tindakan baru, sampai abad ke-20 ini, bahkan saintis pun bertepuk tangan dan mengangkat topi atas kejeniusannya.

Semakin tertarik Boim mengulas habis. Siapa si sebenarnya bapak penjual ini? Apakah murni penjual buku? Atau Filsuf yang nyambi jadi penjual buku? Sangat misterius. Perbincangannya boim lebih tertuju pada minat baca masyarakat yang semakin hari akan tenggelam. Bisa dilihat, hiruk pikuk di kompleks toko buku yang tak pepat padahal hari itu weekend. Pasti bertanya-tanya. “Apakah sudah usang membaca buku itu?”

Penjual buku menjelaskan bahwasannya sepi dan heningnya karena memang dunia telah mengalami perubahan. Dimulai dari sistem penjualan hingga berubahnya buku cetak ke buku elektronik merubah situasi penjual buku bekas. Mereka mengaharpakan buku bekas yang mau dijual. Tapi. Semua berubah, buku-buku beralih semua ke penjualan online, penjual buku hanya bisa melompong. kadang kekurangan buku-buku dengan pengarang bagus karena mereka sudah tahu harga pasarnya.

“Kenapa bapak tak coba jual online juga?” sambil mengencangkan celananya yang melorot karena lupa tak memakai sabuk. “Sebenarnya sudah mas. Permintaan pasar ingin buku-buku seperti YB. Mangunwijaya, Mochtar Lubis, sampai NH. Dini. Kami tak punya stok. Buku-buku itu semua sudah ditimbun jauh-jauh hari, oleh persekongkolan besar penjualan buku bekas. Kami kadang diberi stok –sisa.”

“Mereka itu semua memang cerdas. Kita saja kurang begitu piawai untuk menyelami pasar.” Penuh pasrah dan harapan nampak wajah pada penjual buku itu. Baru-baru ini, buku bekas naik daun, banyak mencari kembali karya-karya klastik nan luar biasa coretan diksinya, hingga terbuai pada retorik cerita. Apakah harus menjualnya seperti bayar satu kuliah semester di universitas tanpa subisidi?

Kadang tak bisa disalahkan, buku orginal itu bermarwah. Parah lagi bila buku-buku repro atau KW menjamur di toko-toko buku bekas. Saya sebut sebagai kejahatan intelektual. Boim masih berfikir masalah perbukuan yang baru diperbincangkan. Tere Liye salah satu nama novelis di Indonesia dibuat geram dan menunjuk kata “Goblok” pada pencetak buku repro yang membuat tercekik penulisnya. Lebih baik membeli buku bekas asli dibandingkan membeli buku repro dengan harga murah. Membeli buku repro sama dengan kriminal intelektual.

“Bila saja kaum muda atau bocil sudah memulai kebiasaan membaca, nampak cerah dan gemilang hidup ini.” Sambil menyalakan korek dan menyumat ujung rokok yang digigitnya. Aroma kretek gurih masuk ke dalam hidung Boim, tetapi tak tertarik bagi boim untuk mencoba.

Dilihatnya di bawah pohon beringin yang membuat teduh bertahun-tahun komplek toko buku, seorang gadis belia berjoget riang di depan gadget yang sekarang tak nampak dianggap (gila) karena sudah biasa. Tak hanya itu, pemuda klimis berwajah kotak memiringkan gadget nya tak tau apa yang ia sedang lakukakan, tapi terdengar lumayan keras enemy has been slain.

Penjual buku menunjuk gadis belia dan pemuda dengan sebatang rokok masih digiti dibibrnya sebagai contoh keresahannya. “Itulah yang aku resahkan. Mereka sebenarnya sedang dipenjara dan sedang tak sadar, berapa jam waktu yang dihabiskan terpaku layar dengan mengikuti budaya baru menampakan kemontokan diri rela dikonsumsi secara global. Ditambah rela gelontorkan duit makan untuk permainan maya itu.” Jelas penjual buku.

Burung-burung pipit riuh bercicit bergerombol diatas pohon beringin, sanset sore mewarnai langit menjadi keemasan menandakan sore akan tenggelam digantikan malam yang sunyi. Boim segera membayar tiga buku pilihannya karena setelah mahrib ada diskusi sastra di balai desa. “Terima kasih pak, sudah diberi ilmu dan bisa ngobrol ngalor ngidul.” Memasukan buku kedalam tasnya yang sempit. “Iya, dik jangan sungkan-sungkan main kesini.” Sanset tenggelam Boim dengan motor tuanya kembali dan  memencet klakson yang kehabisan accu sebagai lambaian terima kasih.