4 minggu lalu · 594 view · 3 min baca · Perempuan 36692_69595.jpg
Pexels

Celoteh Mama tentang Perempuan

Kata mama, perempuan itu kuat; ia adalah pasak yang kokoh berdiri meski kehilangan dari teman-temannya. Meski ia tak lagi bersama rusuknya yang hilang, entah pergi ke mana, toh dia akan selalu berlalu ke mana-mana. 

Tidak, sungguh perempuan pada dasarnya, jika menghidupkan raganya sendiri, cukup mampu untuk berdiri di atas kakinya sendiri.

Boleh jadi, katakan perempuan tidak bisa mengangkat beban yang puluhan kilogram lebih banyak dibandingkan lelaki. Namun, untuk urusan beban hidup yang tak kunjung akan usai, ia jagonya. 

Perempuan adalah jagoan, begitu kata mama. Masalah harga diri, perempuan selalu mengangkat dengan kepala tegak dan pongah! Lihatlah, lelaki tak akan pernah menjadi hebat tanpa memijak ke badan perempuan.

Kehidupan manusia pun, demikian semuanya berawal dari perempuan. Adam meminta perempuan, bukan perempuan yang meminta diciptakan. Adam yang syahwat kepada Hawa, hingga rela lepas status surga yang tersemat di bajunya. Seorang nabi, yang taat kepada Tuhan, bisa tergoda (ya, meski memang tak sepenuhnya karena Hawa).

Secara biologis, sebelum lelaki menjadi lelaki dalam seksualitas, ia terlebih dahulu menjadi perempuan; lelaki dan perempuan berasal dari organ seks generik yang sama. Organ-organ seks spesifik berkembang karena pengaruh hormon dan genetik (XY atau XX). 

Perlu dicatat bahwa klitoris dan penis muncul dari tempat yang sama. Pada bayi XY (laki-laki) menjadi kepala penis, sedangkan pada bayi XX (perempuan) tidak berkembang sepesat laki-laki dan menjadi klitoris. 

Mesti, pada akhirnya lelaki yang terkadang lebih sombong. Padahal tititnya dulu adalah klitoris, dan memanjang karena hormon lelaki lebih kuat.


Tapi, di negeri kami, perempuan menjadi objek. Ia diperalat, dipekerjakan dengan hina, dipukul karena salah, dan dicaci saat diperkosa. Entah, bagaimana nalar lelaki yang tidak pernah selaras dengan otaknya. 

Lahir dari mana konsep lelaki di atas perempuan? Sedang dalam agama apa pun, perempuan selalu diceritakan adalah harta yang mesti diperlakukan dengan baik.

Dalam Kristen, kita mengenal Bunda Maria. Dalam Islam, kita mengenal Khadijah, seorang janda yang menyongsong Muhammad dalam dakwah. Tubuh dan pikirannya menjadi salah satu penunjang Muhammad menyebar Islam. 

Dalam Hindu, kita melihat bagaimana Rama patah hati dan menyesali perbuatannya yang tidak mesti baik kepada Sinta, yang sudi menunggu dengan tabah tapi malah dicampaki dengan nista.

Lelaki memang memiliki sifat dasar yang bajingan. Nafsuan, cabul, patriarki, berhati dingin, dan tak tahu diuntung. Sudah tahu, diajarkan kalau perempuan juga manusia, tapi dipandang sebelah mata. Sekalinya melihat, malah pakai berahi. 

Enak saja, nanti setelah itu bilangnya: 'namanya juga laki-laki, nafsuan'. Heh, memang itu benar. Tapi kalau mau begitu, lihat dulu perempuannya, siapa orangnya, dan kalau bisa izin dahulu. Melecehkan itu butuh izin.

Nafsu perempuan memang lebih besar, tapi ia juga punya malu yang tinggi. Dasar goblok. Kalau tidak bisa dapat izin dan melakukan dengan cara halal, ya jaga pandangan. Puasa kek atau berbuat positiflah! 

Kalau memang bukan seorang yang menganut asas moral agama, ya onani sana sendiri. Jangan dilampiaskan ke perempuan. Ingat, meski ia seorang lonte, tidak sekonyong-konyong kau boleh grepe.

Mesti ya, nanti dengan segala dalil digunakan untuk melegitimasi perbuatan laki-laki. Bajunya kebukalah, terlalu cantiklah, seksilah, dan bla bla bla lainnya. 

Bos, kalau memang begitu alasannya, jaga mata. Itu namanya Anda sangean, tidak pakai otak. Kalau memang bajunya seksi, nasihatilah! Suruh pakai baju yang baik-baik. Bukan dilecehkan. Bodoh.


Mama juga bilang kalau pada dasarnya perempuan bukanlah pencinta, tapi ia dicintai. Namun, terkadang karena hati yang lebih mengena, ia akan memberikan apa pun. Itulah mengapa kadang perempuan lebih naif dari lelaki. Sudah dikasih hati, jantung, kasih sayang, sampai selangkangan, tapi malah membuat lelaki jadi jumawa. 

Astaga, kok tidak mikir ya? Memang kau pikir perempuan bahagia karena cuma perkara cinta dan penis?

Tanpa kelamin para lelaki, perempuan masih bisa hidup. Paling menyebalkan lelaki yang mengeluh masalah hubungan badan, tapi ia tidak tahu untung untuk memikirkan kondisi perempuannya. 

Toh, pujilah ia dan kasihi dengan lembut. Itu manusia, bukan mainan seks. Kalau mau instan, ya ke pelacur sana.

IG: @aykutaydogdu


Terkutuklah lelaki yang menyuap cinta pada awal kisah romansa, namun ia menguap kasih sayangnya dengan jumawa. Yang sudah sudi diurus, diberikan suapan setimpal, tapi kemudian diludahi dengan dalih agama. Yang berjanji untuk tidak lagi menyakitkan hati, tapi, ketika ia sembuh, berbalik menginjak dengan hati.

Oh tentu, bukan berarti perempuan itu baik semua. Kepada perempuan pun, janganlah mesti karena posisinya dimuliakan menjadi tinggi hati. Jagalah diri, jadilah manusia yang baik. Jangan terlalu naif. Kerana kadang jika jahat, perempuan mesti lebih bengis daripada perbuatan lelaki.

Untuk menutup tulisan ini, mari kita yakini bahwa yang terhebat bukanlah lelaki maupun perempuan. Tetapi, manusia yang memperlakukan satu sama lain dengan hati dan pikiran.

Artikel Terkait