28427_45751.jpg
Tribunnews.com/bomsurabaya
Keluarga · 3 menit baca

Celah Generasi Radikal

Berapa hari ke belakang, banyak terjadi insiden di negeri ini yang membuat miris dan menggugah keprihatinan kita semua. Kerusuhan yang menewaskan 4 orang anggota Brimob masih menyisakan duka yang mendalam bagi keluarga almarhum dan kita semua.

Seakan luka belum kering, terjadi lagi tragedi kemanusiaan. Tepat Minggu, 13 Mei 2018, terjadi ledakan bom di tiga Gereja yang berbeda di Kota Surabaya, Jawa Timur. Gereja Santa Maria, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja Patekosta. Tercatat 11 korban tewas dan 41 orang luka-luka.

Insiden-insiden tersebut menambah daftar catatan kelam aksi teror di Indonesia. Upaya pemerintah membentuk Densus 88 dan menghukum mati terduga teroris seakan belum mampu membungkam jaringan teroris di Indonesia. Mereka yang menyebut dirinya melakukan aksi berlandaskan agama selalu mempunyai anggota dan tersebar di beberapa wilayah di Indonesia mungkin ratusan bahkan ribuan.

Hal ini mengingatkan saya 2011 silam saat masih duduk di sekolah menengah aktif di berbagai organisasi di sekolah maupun luar. Saat itu masih ingat saya bertemu saat acara mabit (Malam bina iman & Taqwa) seorang kakak pembina yang berasal dari luar sekolah mengisi materi tentang "Jihad fii sabilillah".

Dia mengemukakan pendapatnya tentang jihad di masa kini, yaitu menghancurkan tempat tempat hiburan di sekitar kota tempat sekolah berdiri salah satunya saat itu ada pusat olahraga billiard yang letaknya tak lebih  satu kilometer dari sekolah. Dia mengutarakan ambisinya bahwa kita "halal" menurut agama untuk meledakkan bom atau membuat kerusuhan. 

Peserta yang saat itu masih kelas 10 antusias memberikan dukungannya seakan tahu bahwa itu yang dibenarkan agamanya. Tak hanya itu, kita juga diajarkan untuk tidak melakukan hormat pada saat Merah Putih dikibarkan di upacara hari besar ataupun upacara rutin hari senin dan juga tidak boleh menyanyikan lagu "Mengheningkan Cipta" karena katanya bendera tidak perlu diberi hormat dan sarat makna agama lain. Dan banyak saat itu anak-anak yang mengikuti untuk tidak hormat pada bendera ataupun tidak mengheningkan cipta.

Meskipun sampai saat ini tidak terjadi insiden keji teror bom atau kerusuhan di tempat yang saya sebutkan di atas, namun seakan memperlihatkan bahwa generasi Indonesia di usia sedini itu banyak yang mudah terpengaruh dan menganggap aksi teror yang menurutnya dibenarkan oleh agama sebagai ambisinya. Saya tidak tahu di daerah lain seperti apa. 

Saat itu, saya sendiri juga belum tahu arti sebernarnya dan hanya ikut-ikutan. Hingga tak lama saya mulai menyadari, kemauan saya membaca buku-buku sejarah seakan membuka mata saya tentang arti toleransi dan nilai nilai Pancasila di negara penuh keberagaman ini. Semua itu juga tak lepas dari dukungan ayah saya yang mengajari banyak hal tentang sejarah, dan tentang nasionalisme.

Masih ingat dari saya SD ketika upacara peringatan detik detik Proklamasi, saya selalu diajaknya menyaksikan langsung di Alun-alun kota rutin tiap tahun hingga saya aktif dalam organisasi Paskibra di sekolah menengah. Hal ini menjadi pondasi nasionalis yang kuat yang membuang jauh pemikiran intoleran dalam diri saya. 

Lewat ayah, saya juga belajar dari untuk menjadi nasionalis yang tidak bertentangan dengan agama, tapi menjadi kesatuan utuh, menjadi nasionalis agamis. 

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengatakan, Indonesia memiliki ulama yang nasionalis dan nasionalis yang berjiwa agama. Sehingga Indonesia mampu mensinergikan nilai-nilai kebangsaan dengan nilai-nilai agama. Kedua kekuatan ini menjadi pondasi yang kuat menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Menurut Kiai Said, para ulama NU, pendiri NU KH Hasyim Asy’ari berhasil mensinergikan nilai-nilai agama Islam dengan nasionalisme. Sehingga beliau mengeluarkan pernyataan, “Mempertahankan tanah air sebagian dari iman.”

Namun, banyak yang tidak menyadari melalui pemahaman yang benar tentang jihad fii sabilillah sehingga menimbulkan pemikiran radikal. Mengutip peneliti LIPI Anas Saidi, ia mengatakan bahwa radikalisme ini terjadi karena proses islamisasi yang dilakukan di kalangan anak muda ini berlangsung secara tertutup, dan cenderung tidak terbuka pada pandangan Islam lainnya, apalagi yang berbeda keyakinannya.

Dia mengatakan, jika pemahaman ini dibiarkan bisa menyebabkan disintegrasi bangsa karena mereka menganggap ideologi pancasila tidak lagi penting.

"Proses islamisasi ini terjadi secara monolitik dan terjadi masjid yang dikuasai kelompok tertentu yang konsekuensi ikutannya adalah sikap intoleran, dan jika nanti mereka kemudian menjadi pejabat menjadi menteri menjadi apa saja, kalau tidak punya toleransi dan masih punya benak untuk mengganti pancasila, itu yang saya kira ada kecemasan itu," jelas Anas.

Lewat cerita saya, saya tidak berusaha menyinggung satu agama apa pun. Saya hanya bercerita tentang pengalaman saya bagaimana akar gerakan radikal itu ada di sekeliling kita.

Sebagai orangtua, kita dituntut untuk memberikan pantauan tentang kegiatan anak-anaknya di sekolah atau di luar dan membekali mereka tentang indahnya toleransi di dalam perbedaan. Semoga tidak ada lagi anggota baru jaringan gerakan radikal di negeri ini dan generasi yang teracuni.