Sabtu lalu (28/09/2019) di Kedai Enin 87, Jl. Soekarno Hatta No. 725 Bandung, Mutti Institute (Lembaga Pencerahan Pemikiran Perempuan) kembali mengadakan diskusi rutinannya yang diadakan setiap dua minggu sekali. 

Jika pada minggu pertama Mutti Institute membahas tema “Perempuan Tangguh Yang Mampu Membangun Peradaban”, maka minggu ini yang menjadi topik bahasan adalah tentang “Depresi dan Cara Penanganannya”. Diskusi ini dinarasumberi oleh Ir. Nina Sintarijana (Pendiri Mutti Institute & Praktisi Pendidikan Keluarga) dan Bunda Latifah (Praktisi Penyembuhan Spiritual).

Salah satu urgensi pembahasan tentang depresi ini adalah karena, menurut data WHO tahun 2017, sekitar 300 juta orang mengalami depresi, dan hanya kurang dari 25% orang yang berupaya mau menyembuhkannya. Tingkat orang yang mengalami depresi di Rumah Sakit Jiwa Jawa Barat pun kian meningkat. Bahkan diperkirakan pada tahun 2020, depresi ini akan menjadi kondisi medis terpenting kedua setelah penyakit jantung.

Nah, berbicara soal depresi, tentunya berbicara soal rasa. Depresi tidak lain merupakan kondisi di mana jasmani dan rohani kita mengalami kelelahan dan rasa lemah berlebih. Dalam istilah lain, depresi ini sering juga disebut sebagai gangguan jiwa ringan. 

Jika kita identifikasi pada diri kita sendiri, ciri-ciri orang depresi itu ada. Misalkan suasana hati buruk, kehilangan minat, atau lesu.

Sebenarnya depresi ini merupakan gabungan dari stress dan kecemasan. Stres tidak lain merupakan tekanan yang kita terima, bisa berasal dari dalam maupun dari luar. Sedangkan kecemasan adalah reaksi dari stres tersebut, sehingga terjadi cemas tanpa alasan.

Perlunya memahami apa itu depresi dan bagaimana cirinya sangat dibutuhkan bagi kita yang sering kali tanpa kita sadari pernah atau bahkan sering mengalami depresi, karena depresi ini bisa menyerang siapa pun, latar belakang apa pun, usia berapa pun, gender bagaimana pun, dan kondisi bagaimana pun. Lalu bagaimana sih jenis-jenis depresi itu?

Pertama, ada Depresi Ringan. Ciri-cirinya, ketika kita mengalami depresi ringan adalah mengalami kegalauan yang panjang atau bahkan sulit didiagnosis. Bayangkan, ternyata galau yang berkepanjangan saja sudah masuk pada tahap depresi ringan loh.

Kedua, ada Depresi Sedang. Orang yang mengalami depresi sedang adalah ketika rutinitasnya mulai terganggu. Misalkan, kita yang tadinya rajin kuliah, rajin ngaji, rajin membaca, menjadi tidak rajin lagi, karena ada faktor-faktor yang menjadikannya seperti itu.

Ketiga, ada Depresi Berat atau depresi akut ya. Depresi akut ini terjadi ketika kita mengalami kesedihan berlebih secara konstan, minimal 6 bulan. Wahhh.. hati-hati ya.

Kita harus pandai-pandai mengontrol diri dan mengidentifikasi diri. Ketika ada ciri-ciri di atas, berarti kita harus segera mengaturnya dengan baik. Ketika kita tidak bisa mengontrol diri kita, maka akan banyak dampak negatif yang akan terjadi pada diri kita sendiri. 

Misalnya, kita dihantui perasaan bersalah, menjadi gampang panik, gampang jatuh sakit, bahkan bisa sampai pada keinginan untuk bunuh diri atau membunuh orang lain. Semua itu menjadikan hidup kita sangat tidak optimal, karena kita terus berkutat dengan permasalahan yang tidak bisa kita kendalikan sendiri.

Lalu apa sih yang menjadi penyebab depresi? Ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi. Pertama, faktor fisik. 

Menurut medis, ketika kita mengalami depresi, neurotransmitter kita, atau pengatur suasana hati kita sedang tidak berfungsi dengan baik. Selain itu, penyakit yang sedang diderita pun bisa saja menjadi penyebab kita depresi, karena ketidaksabaran menghadapinya.

Kedua, faktor psikologis. Memelihara kecemasan terus menerus, membiarkan energi-energi negatif yang ada dalam tubuh kita ternyata sangat tidak baik. Kita yang tidak memiliki kepribadian khusus masih bisa melawannya dengan energi-energi positif yang kita ciptakan sendiri. Sedangkan bagi kita yang memiliki sifat kepribadian khusus, akan cukup rumit untuk menanganinya.

Ketiga, faktor lingkungan. Adanya tekanan dari berbagai lini, seperti tempat kerja, masalah keuangan, masalah keluarga, masalah pernikahan, trauma cinta, atau ketidaktercapaiannya tujuan bisa menjadi penyebab terjadinya depresi.

Kita sebagai manusia, yang terdiri dari 3 unsur, yakni jasad, otak (nafs), dan jiwa (ruh), harus bisa mengoptimalkan ketiganya. Tiga unsur tersebut harus kita manfaatkan sebagai sarana untuk memproduksi energi-energi positif agar hidup kita berjalan penuh kebahagiaan. 

Jangan sampai kita tidak menyadari bahwa kita sedang mengalami depresi. Kita harus mengenali gejala-gejala depresi agar kita paham betul apa yang seharusnya kita lakukan untuk diri kita.

Nah, biasanya, secara psikologis, ketika kita mengalami depresi, biasanya sering mengalami mood yang tidak baik (cenderung memburuk secara drastis), mengalami kesedihan yang terus-menerus, merasa putus asa, tidak berharga, tidak berdaya, sehingga diri kita kehilangan motivasi dan minat. Hidup ini di pikiran kita akan menjadi tidak berguna. 

Secara biologis, biasanya terjadi ketika misalkan gerak atau bicara kita melambat, nafsu makan bertambah atau berkurang (sehingga terjadi perubahan berat badan), sembelit, sakit pada tubuh yang tak bisa dijelaskan, lemas/lesu/lelah, gairah seks menurun menstruasi tidak teratur, atau sulit tidur. Sedangkan secara sosial, gejalanya adalah kita tidak bisa beraktivitas secara optimal, sehingga kita tidak bisa fokus, kita cenderung menutup diri, dan mengabaikan hobi.

Itulah beberapa ciri-ciri orang yang sedang mengalami depresi. Pasti, secara tidak sadar, kita sering mengalami depresi, hanya hanya kita tidak mau menganggapnya sebagai depresi. Ya, kan? Iyalah, Ngaku aja hayoo.. 

Lalu gimana kalo kita sudah terlanjur terindikasi gejala depresi? Ada cara menanggulanginya. Misalkan, kita harus mulai membuka diri. Mulailah hilangkan stigma-stigma dalam hidup kita, dan mulailah produksi energi-energi positif. 

Kita juga bisa menyalurkan stres yang kita alami dengan benar. Misalkan kita menyalurkannya lewat bernyanyi karena kita suka bernyanyi, bermain gitar, dsb. Bahkan yang lebih ampuh lagi adalah menjadikan Tuhan kita sebagai pegangan dan tempat bergantung. 

Tetapi ketika sudah terjadi depresi akut, kita bisa mencari bantuan orang lain, misal dengan mendiskusikannya kepada orang terdekat, psikolog, psikiater, atau ulama, sehingga akan ada pendampingan intensif melalui pendekatan spiritual.

So, mari kita cintai diri kita lebih dari apa pun, karena ketika kita mencintai diri kita, dengan selalu merawat dan mengisi diri kita dengan hal-hal positif, maka tiada lagi yang kita pancarkan selain cinta itu sendiri. Jadilah pribadi memesona, yang selalu menebarkan cinta dan kebermanfaatan pada sesama. Dan ingat, semua itu tidak akan bisa kita lakukan apabila diri kita sendiri tidak bisa menebarkan cinta dan kebermanfaatan pada diri kita terlebih dahulu.

Sesungguhnya setelah kesulitan akan ada kemudahan. Setelah kesulitan, ada kemudahan. Tuhan menegaskan itu dalam firman-Nya, QS. Al-Insyirah ayat 5-6. Yakinlah!