Dosen
2 bulan lalu · 184 view · 4 menit baca · Saintek 24583_23831.jpg
http://francis-moran.com

Cegah Norak Upgrade Otak

Pertunjukan “norak” yang dilakukan oleh beberapa orang di Mass Rapid Train (MRT) di Jakarta yang sempat viral beberapa hari terakhir, mempertegas kembali bahwa perkembangan tekhnologi tidak selalu linear dengan perkembangan isi otak masyararakat. Dan sekarang ini, yang sering terjadi, perkembangan teknologi melesat lebih cepat dibanding kemampuan orang untuk mempelajari hal-hal baru.

Tidak hanya dalam kasus di MRT tersebut, namun banyak kasus serupa yang lain. Misalnya, di jalan raya, kita sering menemukan orang-orang yang mengendarai motor atau mobil bagus, namun kualitas perilakunya jauh menyimpang dari kebagusan mobil dan motornya itu.

Ada sebagian yang jadi sok jagoan di jalanan, merebut dan menerabas jalanan tanpa peduli hak dan keselamatan orang lain. Ada yang membuang sampah atau ludah dari jendela mobil. Sebagian lagi hobi menerabas lalu lintas, melawan arus, atau menggunakan handphone saat berkendara.  

Pun demikian yang terjadi pada banyak orang ketika menggunakan smartphone. Kecerdasan ponsel seringkali tidak merepresentasikan kecerdasan penggunanya. Untuk kasus ini, terlalu banyak contoh yang dapat disajikan. Maraknya berita-berita hoaks di media sosial hanya salah satu contoh kecilnya.

Bahkan bagi sebagian orang, kekalahan manusia dalam perkembangan kemampuan kognitif dan kemajuan tekhnologi itu begitu nyata. Banyak orang mengalami kesulitan untuk mempelajari tekhnologi baru. Termasuk untuk beradaptasi dengannya. Juga untuk memahaminya.

Usia nampaknya berpengaruh pada adaptasi orang-orang pada teknologi baru tersebut. Anak-anak lebih cepat untuk beradaptasi dibandingkan dengan orang yang lebih tua. Hal ini dapat dengan mudah dibuktikan.

Berilah sebuah aplikasi baru, misalnya game di smarphone pada anak-anak dan orang tua. Tunggu selama satu minggu atau satu bulan. Lalu lihat hasilnya. Hampir dapat dipastikan, anak-anak akan lebih cepat menguasai aplikasi itu dibanding orang tua.

Dan, mengapa hasil survey juga menemukan orang-orang yang lebih tua relatif lebih potensial untuk menjadi pelaku penyebaran hoaks juga kurang lebih karena sebab yang sama. Mereka memahami teknologi dengan asumsi-asumsi dan keyakinan-keyakinan yang sudah melekat dalam diri mereka sebelumnya.

Dunia sosial yang melebar sangat luas, melebihi batas-batas geografis, sosial, dan budaya; mereka lihat dengan kacamata sosial orang kampung atau wilayah sosial sempit lainnya. Prinsip-prinsip sosial yang mereka kadung pahami sebelumnya, dan sudah melekat kuat dalam benak, mereka gunakan untuk memahami kenyataan sosial yang sangat berbeda tersebut. Sehingga bias-bias pemahaman pun terjadi, dan hoaks merajalela.

Perilaku orang-orang yang mudah berbagi hoaks di media sosial itu sebenarnya sama noraknya dengan ulah para penumpang MRT tersebut. Hanya lokus kejadian dan wujudnya saja yang berbeda. Yang satu di dunia maya, sementara yang satunya di dunia nyata. Yang satu bergelantungan, yang satu menyebar berita palsu. Sama-sama perilaku yang tidak bermutu.

Dan kenorakan-kenorakan demikiaan akan menjadi perilaku yang akan lazim kita temui hari ini serta di masa yang akan datang. Karena, sekarang ini, memang laju perkembangan teknologi begitu cepat. Di seluruh dunia, hampir setiap menit selalu ada temuan baru. Sementara kemampuan belajar manusia tidak akan sanggup untuk mengimbangi itu.

Masing-masing kita dapat merefleksikan pengalaman kita sendiri-sendiri. Seberapa lama kita akan dapat menguasai sesuatu yang baru? Untuk kemampuan-kemampuan sederhana, mungkin kita dapat melakukannya dengan cepat.


Namun, kecepatan kita dalam mempelajari hal baru, saya tidak yakin akan dapat berjalan secepat perubahan-perubahan yang berlangsung di dunia. Bahkan, orang-orang yang paling cerdas sekalipun, mereka juga hanya memiliki kapasitas kognitif yang terbatas untuk menyerap isi dunia.

Pun demikian dengan anak kecil. Mereka dapat belajar lebih cepat karena fleksibilitas otak atau struktur kognitif mereka. Secara biologis, otak mereka masih ada masa pertumbuhan. Sehingga, hal-hal akan menjadi “pupuk” perangsang pertumbuhan tersebut.

Di sisi lain, otak-otak orang dewasa umumnya sudah terbentuk sekian lama, sehingga akan bertumbuh sekedar mengikuti pola-pola yang sudah ada sebelumnya. Selain, sebagian yang lain memang sudah uzur, tidak berkembang, atau bahkan mengalami penurunan fungsi.

Dari sisi kognitif yang berlaku hal yang sama. Seperti dikatakan Jean Piaget (1986-1980) sistem kognitif seseorang berkembang dengan pola tertentu. Pada anak-anak memulai perkembangan kognitifnya dari tahap sensori motorik. Pada tahap ini, anak-anak hanya mampu untuk memproses informasi-informasi yang bersumber dari indera dan aktivitas motorik.


Kemudian, setelah itu, perkembangan kognitif mereka melaju ke fase praoperasional, operasional konkrit, dan terakhir adalah operasional formal. Pada masing fase-fase tersebut, kemampuan berpikir seseorang bergerak dari berpikir konkret ke abstrak, dan dari berpikir sederhana ke kompleks.  Dan perkembangan kognitif masing-masing orang berbeda-beda, tergantung kemauan dan potensi kemampuan kognisi yang mereka miliki.

Dan, butuh tahapan-tahapan panjang bagi seseorang untuk mengembangkan kognisinya tersebut. Karena, ketika seseorang lahir, mereka tidak memwarisi pengetahuan yang didapat dari orang tuanya. Mereka harus belajar sendiri untuk memahami dan beradaptasi dengan dunia. Dan pada usia-usia tertentu dalam hidup seseorang, kemampuan kognitifnya mengalami penurunan fungsi dan kinerja.

Di sisi lain, tekhnologi berkembang tidak dengan urutan yang sama. Ia berkembang secara akumulatif. Temuan tekhnologi sebelumnya menjadi pondasi untuk tekhnologi selanjutnya. Semakin hari, tekhnologi akan semakin maju, canggih, dan kompleks. Selain jumlahnya juga semakin bervariasi.

Karenanya,  menjadi wajar ketika sebagian orang memunculkan “perilaku norak” ketika berhubungan dengan tekhnologi seperti yang diuraikan diawal. Hal itu muncul karena ketikasesuaian antara perkembangan kognisi dan realitas yang mereka hadapi.


Namun demikian, perilaku demikian tipis peluangnya untuk terjadi jika orang mau belajar, juga mengembangkan kapasitas otaknya. Apalagi bagi orang-orang yang masih muda. Karena, otak  dan sistem kognitif seseorang bersifat fleksibel dan kerkembang, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan. Karenanya,  orang mestinya mau mengupgrade otak agar tidak berperilaku norak.     

Artikel Terkait