Pernah dengar istilah burnout? Bagi sebagian orang mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah ini bahkan mungkin sudah pernah mengalaminya. Apa kamu salah satunya? Sebagian besar orang yang masih awam dengan burnout beranggapan bahwa burnout sama dengan stres biasa. 

Padahal burnout berbeda dengan stres yang umumnya dialami kebanyakan orang. Stres adalah perasaan tertekan secara emosional dan fisik yang diakibatkan oleh faktor eksternal. Stres biasanya terjadi dalam waktu yang singkat tergantung dari tingkat tekanan yang dialami penderita. 

Seseorang yang mengalami stres biasanya masih mampu untuk memikirkan solusi untuk keluar dari kondisi ini sehingga dapat cepat teratasi. Burnout sendiri merupakan kondisi kelelahan mental yang terjadi pada individu diakibatkan oleh stres yang terus-menerus terjadi dalam jangka waktu yang lama.

Burnout adalah kondisi di mana seseorang merasa kelelahan secara emosional, mental, dan fisik dikarenakan stres berlebihan yang berkepanjangan. Burnout dapat terjadi karena kelelahan yang muncul di lingkungan kerja atau perkuliahan dalam jangka waktu yang panjang dan menumpuk terus-menerus tanpa diatasi. 

Burnout merupakan tingkat lanjutan dari stres yang bertumpuk-tumpuk. Burnout biasanya sering terjadi pada orang yang telah bekerja dan yang paling sering mengalami adalah pekerja kantoran. Pekerja kantoran cenderung memiliki resiko tinggi mengalami burnout karena pekerjaannya cenderung monoton. 

Pekerjaan yang monoton menyebabkan rasa jenuh. Apabila terus-menerus terjadi akan timbul rasa jenuh yang luar biasa dan beralih menjadi stres. Selain itu, juga dapat dikarenakan tuntutan dari atasan dan kritik terhadap pekerjaan yang tanpa apresiasi dan juga target pencapaian kerja yang tidak sesuai harapan.

Penderita burnout seringkali tidak menyadari bahwa mereka sedang berada pada fase ini. Hal tersebut dapat terjadi karena adanya pengabaian gejala-gejala burnout yang sedang terjadi dan berpikir bahwa gejala tersebut merupakan bentuk dari kelelahan fisik biasa atau mengonsumsi makanan yang tidak sehat. 

Ada juga yang beranggapan bahwa diri mereka sedang mengalami burnout padahal hanya menderita stres biasa yang dapat hilang dengan cepat setelah teratasi. Jadi, seperti apa sih gejala burnout yang harus diketahui? 

Gejala-gejala burnout yang dapat terjadi pada penderitanya, yaitu tubuh terasa lelah terus-menerus, mudah sakit, lelah secara mental, hilangnya motivasi pada segala aspek, dan sulit fokus pada hal-hal yang sedang dikerjakan. 

Jadi, jika kamu mengalami lelah fisik yang terjadi secara terus-menerus yang tidak mereda meski sudah beristirahat, stres yang terjadi di saat yang sama, dan mengalami masalah kesehatan, seperti sakit kepala, hipertensi, dan gangguan pencernaan maka kemungkinan besar kamu mengalami yang namanya burnout.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa akar permasalahan burnout, yaitu stres yang tidak teratasi dan berlangsung terus-menerus. Stres dapat diatasi dengan menerapkan pengelolaan stres yang tepat. Pengelolaan stres dapat dilakukan dengan mekanisme coping stress. 

Coping stress adalah upaya mengatasi kondisi penuh tekanan secara internal maupun eksternal. Coping stress ada dua jenis, yaitu problem focused coping strategies dan emotional focused coping strategies. 

Problem focused coping strategies adalah strategi mengatasi stres yang berfokus pada penyelesaian masalah yang menyebabkan stres. Strategi ini dilakukan dengan cara menghadapi secara langsung pokok permasalahan yang harus diselesaikan. 

Permasalahan diselesaikan dengan menentukan dahulu langkah-langkah terbaik yang akan diterapkan. Penentuan langkah-langkah dilakukan dengan mengenali pokok permasalahan. Cara yang dapat dilakukan untuk mengenali pokok permasalahan tersebut dengan mengerjakannya hingga selesai dan tuntas.

Emotional focused coping strategies adalah strategi mengatasi stres yang fokus pada pengendalian emosi akibat stres. Strategi ini dilakukan dengan rehat sejenak dari masalah dan fokus pada pengendalian emosi yang tidak stabil akibat dari belum menemukan cara yang tepat untuk menghadapi masalah. 

Cara-cara yang dapat dilakukan, yaitu curhat kepada keluarga atau sahabat, meditasi, liburan, olahraga, melakukan hobi positif yang disenangi, dan beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dua jenis strategi pada coping stress tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Coping stress hanya dengan strategi problem focused coping akan menyebabkan seseorang cenderung memiliki tekanan yang lebih besar. 

Hal ini dikarenakan stres di awal akan bertambah saat proses penyelesaian masalah berlangsung dengan memaksakan diri. Namun, sumber stres menjadi lebih cepat selesai sehingga tubuh dan pikiran dapat lebih santai setelahnya. 

Coping stress hanya dengan strategi emotional focused coping akan menyebabkan seseorang memiliki ketenangan emosi yang baik. Namun, apabila penerapan strategi ini terlalu lama dan berlarut-larut maka permasalahan yang harusnya diselesaikan akan tetap ada dan cenderung tidak kunjung selesai. 

Jika terus menerus berlanjut seperti itu maka hanya menunda stres yang lain muncul. Penerapan coping stress ini akan berjalan dengan baik apabila dapat menerapkan kedua strategi tersebut secara seimbang dan juga dengan durasi yang tidak terlalu lama. 

Penerapannya dapat dimulai dengan strategi emotional focused coping yang dapat dilakukan dengan tetap efisien waktu. Strategi coping stress yang dapat diterapkan selanjutnya, yaitu problem focused coping. 

Penerapan coping stress seperti ini diharapkan mampu mengoptimalkan fungsinya sehingga stres yang dihadapi dapat diselesaikan hingga tuntas dan mencegah terjadinya burnout. 

Meskipun demikian, penentuan strategi coping stress yang akan diterapkan tetap disesuaikan dengan kemampuan diri seseorang sehingga mampu menyelesaikan sumber stresnya dengan lebih baik.