Berdasarkan data yang dikutip dari komunitas anti-pelecehan Hollaback yang juga punya cabang di Jakarta bahwa 84 persen perempuan dari 42 negara pernah menjadi objek pelecehan di jalan, bahkan sebelum menginjak 17 tahun. Bentuk pelecehan di jalan mayoritas berupa ‘catcalling’. 

Kita bisa bercermin dari hasil presentase tersebut bahwa kasus catcalling di dunia semakin marak terjadi. Di Indonesia sendiri, kasus catcalling ini masih menjadi hal yang lazim untuk ditemukan di kenyataan.

Pelaku catcalling di Indonesia mayoritasnya adalah laki-laki sebaliknya, kaum wanita yang menjadi objek catcalling. Padahal secara teori mereka tahu di Indonesia ada yang namanya emansipasi wanita. Di mana merupakan suatu proses pelepasan diri para wanita dari keterpurukan kedudukan sosial ekonomi. Namun, mirisnya pelaku catcalling kurang mengindahkan hukum-hukum emansipasi wanita tersebut.

Catcalling ini terjadi karena adanya presepsi mayoritas yang menganggap bahwa perempuan itu lemah. Presepsi seperti ini muncul karena adanya stigma masyarakat Indonesia yang menganggap bahwa laki-laki lebih superior daripada perempuan. 

Maka dari itu, catcalling terhadap perempuan masih dipandang sebelah mata dan dianggap wajar. Sehingga hal itu membuat para pelaku catcalling merasa berhak dalam menjadikan perempuan sebagai objek dalam konteks seksual.

Terkadang pelaku catcalling melakukan aksinya hanya untuk mencari-cari perhatian saja. Ditambah ada faktor dari pandangan masyarakat yang masih menganggap bahwa catcalling bukanlah suatu pelecehan. Melainkan hanya dianggap sebagai sebuah komentar dengan maksud gurauan atau dengan maksud iseng belaka. Pemikiran kuno seperti ini yang harus dihilangkan dari mindset seseorang.

Pelaku catcalling menjadikan perempuan menjadi sexual objectification, yang merupakan suatu tindakan yang menjadikan seseorang menjadi objek pemuas nafsu seksual orang tersebut seperti mulai berfantasi akan lekuk tubuh perempuan tersebut. Padahal realitanya salah satu korban catcalling juga ada yang merupakan wanita berhijab dan memakai pakaian yang menutup aurat mereka. 

Seperti yang telah dikatakan oleh Peneliti Lentera Sintas Indonesia, Rastra, yang mengatakan bahwa 17 persen itu korbannya memakai hijab dan masalah catcalling tidak ada hubungannya dengan baju. Hal ini sangat menyangkal stigma masyarakat yang masih menyalahkan baju korban seperti ‘salah sendiri pakai baju terbuka’.

Lalu, bagaimana caranya agar Indonesia bebas catcalling? Cara mengatasi catcalling bisa dimulai dari diri sendiri yaitu dengan cara mengubah dan membuka pola pikir kita, yang mulanya menganggap catcalling adalah hal biasa dan menjadi hal tidak sepatutnya digubris oleh kalangan masyarakat. 

Maka sekarang sebaiknya kita harus memulai untuk memperhatikan apa catcalling itu? Apa sebab dan akibatnya? Apakah sudah ada solusi yang tepat dari pemerintah, masyarakat dan Lembaga-lembaga lainnya?

Mungkin seiring dengan berkembangnya teknologi dan media massa kita bisa lebih update lagi mengenai catcalling. Dengan begini kita bisa menambah wawasan kita mengenai catcalling ataupun mengenai pelecehan. Bisa juga dengan lebih ke menanamkan jiwa saling menghargai sesama, tanpa mengenal gender orang tersebut.

Jikalau dilihat dari sudut pemerintahan Indonesia hal yang harus dilakukan adalah lebih banyak mengadakan sosialisasi atau sejenis champaign mengenai catcalling. Mungkin dalam menjalankan sosialisasi dan champaign, pemerintah bisa meminta bantuan kepada Komnas perempuan, Kementrian Pendidikan dan Budaya atau bisa saja dengan cara bekerja sama dengan tokoh yang ahli di dalam bidang ini seperti kak Seto sebagai psikolog anak yang terkenal. 

Menyebarkan informasi mengenai catcalling lewat media massa, media elektronik, dan media sosial contohnya seperti di televisi, papan reklame jalan, youtube, Instagram, twitter dan sebagainya. Atau pemerintah lebih memperdalam, memperketat atau bahkan memperbaiki undang-undang mengenai segala jenis pelecehan.

Upaya untuk tidak terjadi catcalling kalau dilihat dari sudut pandang Lembaga Pendidikan adalah dengan menyantumkan materi mengenai buruknya catcalling di buku pembelajaran siswa. Peran guru sebagai pendamping sekaligus pembimbing di sini juga sedang diuji. Di mana guru sebagai orang yang ahli dan dewasa harus bisa memberi penjelasan kepada para murid mengenai buruknya catcalling. 

Dan cara penyampaiannya harus benar-benar ditata dengan hati-hati agar mudah dicerna dan tidak menimbulkan presepsi lainnya di pikiran sang murid. Hal ini juga membantu pemerintah dalam mensosialisasikan akan buruknya catcalling.

Pentingnya pendidikan moral dimulai sejak dini juga patut untuk dijadikan sebagai solusi Indonesia bebas catcalling. Peran orang tua sebagai orang terdekat yang dipercaya anaknya dalam mempelajari hal baru juga diperlukan. Anak butuh tuntunan sang orang tua dan orang-orang sekitar dalam mengenal hal baru yang menurut mereka asing dipikiran mereka. Karena pada usia dini anak cenderung mulai mengamati dan meniru keadaan di sekitar dia.

Sayangnya, himbuan dan upaya pemerintah seperti sosialisasi, champaign, dan iklan mengenai catcalling di negara Indonesia terutama di bidang pendidikan sendiri masih belum berjalan dengan baik. Kurangnya hal seperti ini pun yang membuat masyarakat menjadi kurang sadar mengenai catcalling. Tidak hanya pemerintah respect masyarakat Indoensia terhadap sesama saja juga belum terbentuk secara matang.

Sebagai korban catcallling terutama kaum wanita, jangan mau dipandang lemah dan jangan takut untuk melawan pelaku karena sebagai wanita juga memiliki hak untuk hidup dengan tenang. Segala jenis street harassment baik catcalling atau berupa sentuhan kepada fisik adalah hal yang tercela dan harus dicegah. 

Sehingga, ayo mulai hari kita dengan berjalan yang aman dan nyaman tanpa gangguan seperti yang kita diidam-idamkan selama ini sebagai pengguna nyaman.