Maraknya tindakan kriminal di zaman yang kian modern masih kerap terjadi. Bahkan jumlah angka kasus kriminal makin hari malah makin bertambah. Salah satu bentuk kasus yang sering kita jumpai ialah kasus pelecehan seksual.

Ada banyak bentuk kasus pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan masyarakat. Saking banyaknya, ini membuat ‘pelecehan seksual’ menjadi hal yang tidak tabu lagi bagi masyarakat. Pada dasarnya, stigma seperti ini menandakan telah terjadinya pergeseran moral masyarakat tersebut.

Salah satu bentuk kasus pelecehan yang kian dipandang remeh bahkan dinormalisasi oleh masyarakat adalah catcalling yang merupakan tindakan di mana seorang atau sekelompok orang (biasanya laki-laki) mengomentari tubuh atau berusaha menggoda wanita yang berjalan melewatinya (Stop Street Harassment Organization, 2015).

Fenomena catcalling biasanya terjadi di ruang publik, seperti jalan, angkutan umum, dan lain-lain. Bentuk dari catcalling ini sendiri bermacam-macam, mulai dari bersiul, memanggil lalu tertawa, mengedipkan mata, dan tindakan verbal lain yang serupa. Dan hal ini disbut juga dengan pelecahan jalan atau Street Harassment.

Pada dasarnya, banyak dari kaum laki-laki yang tanpa sadar melakukan tindakan catcalling ini. Bahkan sebagian besar dari mereka menganggap bahwa fenomena catcalling ini adalah hal yang biasa dan bisa ‘dimaklumi’. Mereka hanya mengatakan bahwa hal sebatas demikian adalah candaan semata. Namun tidak bagi wanita.

Berjalan sendiri melewati kaum lelaki lalu diimbau dengan cara yang sangat menggelitik tersebut sangat menganggu bagi wanita. Hal ini dapat menyebabkan turunnya kepercayaan diri mereka, bahkan membuat mereka merasa ada yang salah pada diri mereka.

Di beberapa negara, tindakan catcalling dinilai cukup serius bahkan merupakan tindakan pelanggaran hukum hingga dilakukannya ancaman denda dan hukuman penjara bagi yang melakukan tindakan ini. Sejauh ini, terdapat enam negara yang sudah memiliki undang-undang yang mengatur pelecehan jalanan, yaitu Belgia, Portugal, Argentina, Kanada, New Zealand, dan Amerika Serikat.

Selain itu, terhitung sejak 1 Januari 2018, Belanda telah memberlakukan undang-undang yang menyatakan bahwa pelaku catcalling adalah perbuatan kriminal, dan akan dikenakan denda maksimum sebesar 8.200 euro (Rp130 juta) atau tiga bulan penjara.

Di Indonesia sendiri, peraturan mengenai tindakan catcalling belum diatur sedemikian seperti yang dilakukan negara lain. Untuk itu, tindakan catcalling masih dianggap hal yang biasa yang menjadi kebiasaan sosial dalam lingkungan masyarakat. Selain itu, tindakan ini juga dinilai sebagai suatu resiko terhadap kaum wanita yang beraktifitas di ruang publik. 

Untuk itu, solusi secara logic yang timbul di tengah masyarakat salah satunya adalah doktrin yang menyatakan bahwa untuk melakukan aktivitas di publik, wanita harus mengenalan pakaian yang sama sekali tidak mencolok. Hal ini memang benar adanya, namun di satu sisi ini menjadi bentuk diskriminasi kepada wanita terhadap lingkungan.

Peraturan tegas mengenai tindakan catcalling ini dinilai perlu karena salah satu dampak buruk yang dihasilkan dari tindakan ini ialah menurunnya tingkat self esteem atau harga diri dari wanita (Manalo, Mercado, Perez, Rivera, & Salangsang, 2016). Dengan begitu, wanita tersebut akan merasa tidak percaya diri dan merasa dirinya tidak bernilai di mata orang lain dan kemungkinan akan memikirkan hal tersebut secara berlebihan atau overthinking

Tingkat terparah dari dampak catcalling ini adalah depresi karena menurunkan percaya diri dan kurangnya ruang untuk bereskpresi. Dan kurangnya ruang untuk berekspresi ini pun dinilai sebagai sebuah gap atau batasan pada kesetaraan gender karena dapat secara otomatis mengintimidasi wanita dalam berekspresi menyalurkan minat, bakat, dan sebagainya.

Hal pertama yang perlu dilakukan saat mengalami tindakan catcalling ialah berani. Walaupun dapat dikatakan tidak semua wanita memiliki mental yang sama untuk melakukan hal tersebut, namun berani bersuara merupakan salah satu cara untuk memerangi catcalling

Kevin Lliliana yang merupakan Miss International 2017 salah satu contohnya. Setelah diketahui mengalami tindakan cat calling, Kevin dengan bijak menggunakan media sosial guna menyuarakan teriakan hatinya yang merasa risih terhadap hal tersebut. 

Untuk itu, bagi wanita siapa pun itu, jangan takut untuk menyuarakan dan melaporkan apabila mengalami catcalling. Hal lain yang perlu dilakukan selain bersuara ialah membuat atau menegaskan peraturan mengenai hal tersebut.

Peraturan yang mengatur dengan saksama mengenai tindakan catcalling dinilai sangat diperlukan. Apalagi di Indonesia, sebut saja Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki populasi terbesar. Untuk itu, memungkinkan pula maraknya tindakan ini terjadi di lingkungan sosialnya. 

Pemerintah perlu membuat peraturan yang bukan hanya preventif bagi korban melainkan meningkatkan kesadaran untuk para pelaku agar tidak melakukan tindakan tersebut.

Dengan adanya peraturan yang mengatur dengan ketat perihal tindakan catcalling di Indonesia, diharapkan dapat mengurangi dan menggeser gap antara gender serta membuat kaum wanita bebas untuk mengekpresikan dirinya, di mana pun dan kapan pun itu.