Pertama kali melihat gadis itu, diriku seakan terpaku pada tempat aku berpijak. Pandanganku tak bisa kupalingkan darinya. Hidung mancung dengan kacamata tebal pada matanya adalah daya tariknya. Aku tertarik kepadanya.

Kuperhatikan gerak-geriknya, ia mendekati rak buku bertema sastra. Tampaknya, ia mencari sebuah novel. Sekitar 10 novel diletakkannya pada meja baca, ia buka beberapa lembar tiap novel tadi. Mungkin, ia ingin tahu cuplikan cerita dalam novel-novel itu.

Kini, tinggal satu novel tersisa di atas meja, selebihnya ia kembalikan pada rak. Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, itulah novel yang ia pilih. Kulihat, sampul plastiknya masih bening. Padahal saat aku meminjamnya dulu, sampulnya sudah robek-robek.

15 menit berlalu dan ia larut membaca novel pilihannya. Kata demi kata sepertinya ia lalui tanpa sisa. Tidak kulihat pandangannya berpindah selain pada buku. Bagaikan patung yang begitu cantik, ia begitu seksama membaca.

Saat itu, aku berada di samping rak biografi yang letaknya tak jauh dari posisinya. Aku pun memilih-milih buku yang ada pada rak tersebut, meski aku tak berniat meminjam buku biografi. Tak lain, aku ingin terus memperhatikannya diam-diam.

Setelah satu buku kudapatkan, aku mengambil tempat duduk yang tak jauh dari gadis itu. Aku membuka berkali-kali halaman bukuku sambil terus memperhatikannya. Aku berharap ada perbincangan yang terjadi, entah aku atau dia yang memulainya.

Aku pun menunggu dan masih belum ada interaksi sama sekali di antara kami. Mungkin, aku yang harus memulai obrolan itu. Akhirnya, aku memberanikan diri. "Hai, suka baca novelnya Pram ya?" aku mengawalinya. "Sesekali" jawabnya singkat seakan ingin menyudahi perbincangan.

Tidak lama, buku yang ia baca ditutupnya keras-keras. Sesaat setelah itu, ia memang pergi meninggalkanku menuju tempat penjaga perpustakaan. Hari itu, kesan baik belum berpihak pada awal pertemuanku dengannya.

...

***

Nita mengajakku pergi ke taman kota di malam minggu ini. Seperti hari-hari sebelumnya, aku menjemputnya di depan kos. Kali itu, wajahnya begitu sembab, namun aku belum ingin tahu apa yang telah menimpanya. Pikirku, lebih baik saat sudah di taman akan kutanya.

Sampai di taman, ia menceritakan kejadian yang baru saja menimpanya. Ternyata, sore tadi dia mendapati hasil ujian kuliahnya yang kurang memuaskan. Sehingga, minggu depan ia harus mengikuti ujian ulangan.

Nita memang tak biasanya mendapat nilai buruk saat ujian. Selama ini, Nita dapat dikatakan sebagai salah satu mahasiswa jenius. Jadi, wajar saja ia sangat sedih ketika pertama kali hasil ujiannya tak bagus.

Hal ini berbeda denganku yang justru memiliki reputasi buruk saat kuliah. Di semester lalu saja, ada lima mata kuliah yang harus kuulang. Belum lagi aku juga sering membolos. Untungnya, sekarang aku sedang memperbaiki itu semua. Tidak lain, karena motivasi Nita yang tanpa henti ia berikan kepadaku.

Untuk menghiburnya malam itu, ku ajak dia menaiki bianglala yang berada di pinggir taman. Sederhana memang, tapi kulihat raut wajahnya bahagia. Sungguh tiada kebahagiaan yang besar, selain aku dapat melihat Nita bahagia. Tuhan, izinkan aku untuk terus bersamanya, aku sangat mencintainya.

...

***

Hujan yang belum reda, membuat Ferdi mengajakku mampir di warung kopi langganannya. Tempatnya biasa saja dan berada tak jauh dari alun-alun kota. Meski begitu, apa yang tersedia pada warung itu bisa dibilang lengkap. Dari kopi racik sampai kopi sachet, dari gorengan sampai nasi kucing semuanya ada.

Hari itu aku dan Ferdi baru saja dari ATM untuk mengambil uang. Ferdi sedang butuh uang, ia bilang untuk menebus BPKB motornya. Mendengar keluhnya, tentu aku ingin membantunya. Kebetulan, ada uang lebih saat itu dan pikirku, mengapa tidak untuk menolong kakak pacarku yang kini menjadi kawan karibku.

Namun, Ferdi menyuruhku untuk tidak bilang pada Nita. Ia bilang jika Nita tahu dan mengadukan pada orang tuanya, sudah pasti Ferdi akan dimarahi. Aku pun mengiyakannya, lagi pula aku tak berhak mencampuri urusan Ferdi sesuka hati.

...

***

Ferdi mendobrak pintu kosku keras-keras. Aku tidak tahu, apa gerangan yang telah terjadi. "Mungkinkah ada hubungannya dengan masalahku dan Nita?" pikiranku berkecamuk. Saat itu hubunganku dengan Nita sedang tidak baik-baik saja.

Sudah sebulan lamanya aku tak berkomunikasi dengan Nita. Ada masalah yang sedang menimpa hubungan kami. Meski begitu, aku menyuruh Nita untuk tidak menceritakan masalah ini pada orang lain, termasuk kakaknya.

Sebulan yang lalu, kupergoki Nita berboncengan mesra dengan Dendi, teman sekelasnya. Nita pernah bilang memang, kalau Dendi sudah menaksirnya sejak lama, tapi Nita selalu mengabaikannya. Aku pun percaya pada Nita.

Sayangnya, melihat kejadian itu hatiku hancur sehancur-hancurnya. Bagai pohon yang semua daunnya rontok, lalu batangnya terpotong-potong, dan akarnya tercabut dari tanah, seperti itulah apa yang kurasakan. Kepercayaanku pupus, Nita mengkhianatiku.

Apalagi saat Nita dengan entengnya mengakui bahwa ia memang berselingkuh dariku. Ia bilang sudah bosan dan tak bahagia denganku. Sungguh, matahari benar-benar menghilang dari duniaku. Aku tak menyangka Nita melakukan semua ini padaku.

Sejak saat itu cerita bahagiaku bersamanya berakhir. Seandainya waktu bisa ku ulang, aku berharap dulu Nita seterusnya acuh padaku, sama seperti yang ia lakukan saat pertama kali bertemu denganku di perpustakaan. Sehingga, aku tak pernah mengenalnya.

Ferdi masih mendobrak-dobrak pintu, aku pun membukanya. Tanpa basa-basi, ternyata ia menuduhku menghamili Nita. Ia bilang Nita sendiri yang mengatakannya. Astaga, masalah apalagi ini?. Aku terkejut mendengarnya, karena memang aku tak tau apa-apa dan tak pernah melakukan itu.

Aku menyangkal semua tuduhan Ferdi, tapi ia masih bersihkeras menuduhku. Ferdi yang kalap memukulku berkali-kali, aku tak bisa melawannya. Aku yang baru saja bangun tidur masih lemas. Dengan penuh ancaman, sumpah serapah, Ferdi meninggalku yang kini telah berwajah lebam.

Sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin itu peribahasa yang tepat untuk menggambarkan apa yang terjadi saat ini denganku. Hari-hari setelahnya aku berusaha menemui Ferdi untuk mengatakan tentang semua yang terjadi.

Aku tak datang ke rumahnya, karena aku tak sudi jika nanti bertemu Nita. Setiap ia selesai kuliah kucegat Ferdi di sekitar kelasnya. Sayangnya, setiap itu juga ia mengabaikanku. Bahkan, pernah sehari penuh aku mengikuti Ferdi, tapi ia tak pernah mau mendengarkanku.

Aku begitu putus asa, tak tahu lagi aku harus bagaimana. Di sakiti Nita, dituduh menghamilinya dan dibenci keluarganya, semua itu membuatku merasa pedih. Andai aku tau siapa yang berbuat itu pada Nita, mungkin aku sudah menyeretnya ke hadapan Ferdi. Namun, aku tak bisa menuduh sembarang orang.

Tapi, apapun yang telah terjadi, aku berharap semua orang suatu saat tahu kebenaran sesungguhnya. Setidaknya, catatan ini bisa jadi petunjuk yang dapat mengantarkan pada kebenaran itu. Semoga.

Di akhir catatanku ini, ku harap Ferdi selalu sehat, sehingga ia dapat menemukan kebenaran itu. Untuk Nita, kuharap kau mengatakan apa yang terjadi sebenarnya. Kudoakan kau selalu kuat menjalani semua ini. Terima kasih untuk segalanya, kebahagiaan dan penderitaan yang pernah kau berikan padaku.

8 April 2013


Segara Banyu Bening

***

Ferdi tak kuasa menahan tangis setelah membaca catatan-catatan Sega. Semua catatan itu ia dapatkan dari temannya. Teman Ferdi telah dititipi Sega sendiri sebelum Sega menghilang 5 tahun lalu. Sayangnya, Ferdi selama ini tak pernah mempunyai keinginan untuk mengetahui apa yang ada dalam catatan itu.

Sementara itu, Nita sudah meninggal setelah melahirkan anaknya. Nita tak pernah mengatakan kebenaran ini. Ferdi baru mengetahuinya beberapa hari lalu saat Dendi datang ke rumahnya dan mengakui bahwa ia yang menghamili Nita.

Sesal tak bisa dielakkan pada diri Ferdi. Lemas dan tak tahu harus berbuat apa dirasakan Ferdi, sama seperti Sega dulu. Semua sudah tak bisa diulang kembali. Kini, catatan yang dulu terabaikan menjadi saksi kebenaran yang terungkap.