Namanya Puput. Kami sekolah di SMA yang sama. Aku dan dia satu angkatan, hanya beda kelas. Namanya terdaftar di kelas 1A, kelas khusus untuk murid dengan kualitas otak yang membaik, murid yang orang tuanya terpandang, dan murid yang orang tuanya adalah gurunya sendiri.

Sementara aku duduk di kelas 1C, kelas untuk rakyat biasa. Ibarat maskapai, kami berada antara First class dan economy class. Sekolah kami sangat birokratis. Dan sebagian guru menyukai hal itu.

Di sekolah kami, Puput adalah gadis rebutan. Dia dikenal sebagai gadis yang pintar, bersahaja, dan ramah kepada siapa saja. Dia adalah anak perempuan dari wakil kepala sekolah kami, Pak Marjono. 

Suatu kewajaran jika ia duduk di kelas yang elite. Dia memnuhi semua kriteria untuk menjadi siswa yang mampu duduk di kelas unggulan.

Masa-masa kelas satu adalah tahap bercocok tanam atau sebut saja tahap percobaan. Di mana, banyak dari murid-murid kelas atas, yang katanya senior, berlomba-lomba memilah gadis-gadis kelas satu untuk dijadikan pelabuhan hati.

Tentu, kelas 1A adalah yang paling banyak dikunjungi. Masa-masa ini adalah masa di mana para senior mulai menanam benih untuk dipelihara hingga bersemi nanti.

Banyak gadis kelas satu lainnya yang merasa didiskriminasi karena tak sesuai standar dan tipe yang dimau oleh kakak-kakak senior. Mereka inilah populasi yang biasanya menjadi babu-babu para gadis berkelas. 

Puput sendiri sudah didekati beberapa cowok-cowok kelas dua dan tiga. Yang katanya, banyak dari mereka yang menjadi rebutan di sekolah.

Memasuki pertengahan semester, ada kabar yang aku dengar bahwa Puput kini sudah berpacaran dengan anak kelas 3A yang bernama Dika. Orangnya tinggi, tampan, dan harum. Banyak juga murid cewek yang menggandrunginya. Lara, ketua OSIS lama, juga pernah dipacarinya.

Kabar ini sudah menempati Top list untuk kategori gosip mingguan di sekolahku. Wakil kepala sekolah, guru-guru hingga ibu kantin pun tahu. Tak ada tindak lanjut perihal kasus tersebut. 

Sepertinya, semua elemen di sekolahku mendukung. Karena Dika sendiri adalah putra dari pebisnis kelas kakap. Barangkali ini yang membuat hubungan mereka aman-aman saja.

Aku punya sahabat setia. Namanya Tamrin. Di kantin, dia pernah bercerita kalau dia juga menyukai Puput. Sayang dia tidak punya akses yang mendukung untuk mewujudkan keinginannya memacari Puput. 

Dia pernah nekat menembak Puput di halaman belakang sekolah. Satu minggu kemudian, oleh guru sejarah, dia dibawa dan diinterogasi di ruang BP.

Masa-masa kelas dua adalah tahap pemupukan. Lebih tepatnya,tahap menuju pematangan. Di masa ini, Puput masih berada di level yang sama, di kelas 2A. sementara aku ada sedikit kemajuan, berada di kelas 2B. Hanya cor-coran tembok yang menjadi sekat kelas kami.

Meski begitu, aku tak pernah sekali pun ingin menyapa Puput, apalagi mengenalnya lebih dekat. Aku cukup tahu diri untuk tidak berada di kasus yang sama seperti sahabatku, Tamrin.

Memasuki pertengahan semester dua, kabar hangat kembali menyelimuti sekolah. Puput dan Dika dikabarkan putus. Dari berita yang beredar, mereka tak kuat menjalin hubungan jarak jauh. Karena Dika sendiri sudah lulus. Hal ini kembali menjadi tranding topic  di sekolah.

Di satu sisi, banyak guru yang menyayangkan, terutama Pak Marjono. Di sisi lain, murid-murid cowok malah bersyukur sejadi-jadinya. Aku sendiri berharap sekolah akan diliburkan untuk beberapa hari kedepan sebagai tanda penghormatan.

Ada satu peristiwa dimana takdir memaksaku untuk berinteraksi sedikit lama dengan Puput. Dan aku sama sekali tak bisa menolak pertemuan itu begitu saja. itu adalah moment saat kami sedang berada di perpustakaan. Kebetulan aku sedang mencari buku yang sama dengannya, Bumi Manusia, karangan Pramoedya.

Saat asik ku bolak-balik buku itu, aku melihat puput sedang keresahan menanyakan penjaga perpus perihal buku yang sedang aku baca untuk dia pinjam. Karena kebetulan stok bukunya cuma ada satu. 

Karena merasa iba, dan takut hal ini berbuah kasus yang lebih besar yang bisa jadi melibatkan Pak Marjono, aku sodorkan saja buku itu ke Puput.

Loh. Terus kamu gimana?” Katanya.

Oh. Aku sudah selesai membacanya, kok. Dua kali malah.” Alasanku yang sebenarnya membaca laman pengantarnya saja belum.

Dia hanya memberiku sebiris senyum dan sepenggal ucapan terimakasih. Lalu aku balas menyenyuminya. Rupanya, kalau diperhatikan dari dekat, Puput memang cantik orangnya, manis pula.

Wajar saja banyak cowok sekolah yang menggandrunginya. Untung saja aku bukan mereka. Aku tak mudah jatuh cinta. Senyuman tadi aku anggap sebagai ucapan terimakasih saja.

Selepas ujian semester, sekolah dan panitia classmeeting mengadakan lomba membuat cerpen yang bisa diikuti oleh semua elemen sekolah, termasuk guru dan ibu kantin. Tak ada syarat aneh untuk lomba yang satu ini, cukup mengumpulkan hasil karya sendiri dan sisanya akan diurus oleh pihak penyelenggara mata lomba.

Setelah memilah seluruh karya cerpen yang sudah dianalisa, kata panitia, hanya tiga yang masih bertahan dan satu yang akan diambil sebagai pemenang. Salah satu dari ketiga cerpen tersebut adalah Lelakiku, Sebuah cerpen karya Puput.

Tersiar kabar bahwa kini Puput sedang dekat dengan Dimas, teman kelasnya sendiri. Dan cerpen yang ia buat tersebut sejatinya merupakan sesembahan untuk Dimas.

Waktunya pengumuman pemenang. Para participant bersorak sorai. Beberapa guru dan wakil kepala sekolah pun ada disana. Kami semua berbaur dalam suasana bahagia. Banyak yang mengira Puputlah juaranya. 

Rupanya, dugaan mereka salah. Sebuah cerpen berjudul Rindu Menua yang di bawahnya tertulis nama pengarangnya, sahabat Tamrin, adalah pemenangnya.

Seketika, aku melihat wajah Puput berubah datar dan terlihat sinis. Pun begitu dengan Pak Marjono yang sedikit menghela nafas lalu cemberut. 

Aku sendiri memaksa Tamrin mengambil hadiahnya. Dan dia sendiri terlihat bingung dengan apa yang sebenarnya sudah dia lakukan. Yang bahkan menulis saja malasnya minta ampun.

Kamu ambil saja dan jangan terlihat bingung. Habis ini aku traktir di kantin kampus!” Itu adalah bentuk ancaman yang ampuh jika aku mau sesuatu dari Tamrin.

Kelas dua telah usai kami arungi. Banyak momen yang tak seharusnya kami tinggalkan begitu saja. Kami pun memasuki kelas tiga. Masa akhir sekolah. Tahap dimana orang-orang menyebutnya masa panen. 

Apa yang belum didapat di masa-masa sebelumnya, harus sebisa mungkin direalisasikan di masa  ini, sebelum semuanya terpisah jarak.

Kali ini, aku, Puput, dan pacaranya, Dimas, barada di satu kelas yang sama. Kelas 3A. Itu berarti otakku sudah jauh lebih membaik dari sebelum-sebelumnya. Derajatku sedikit terangkat. 

Sayangnya, aku harus terpisah dengan sahabat setiaku, Tamrin. Dia kini berada di kelas 3D. Penyusutan yang sangat drastis. Lokasi kelasnya juga persis di samping WC sekolah.

Aku tentunya sering merasa kesepian. Tak ada teman bermain. Aku memilih duduk di pojok. Sementara, Puput dan Dimas duduk di satu bangku. Di pojok depan. Saat jam keluar main, seringkali mereka memamerkan kemesraan. Hal ini terus saja berlanjut hingga menjelang pertengahan semester. Bagiku, itu menjijikkan.

Di sisa-sisa semester dua, hubungan Puput dan Dimas berubah dingin. Mereka terlihat tak akur lagi dan bahkan sudah tidak sebangku. Dasar labil. Aku tentu senang melihatnya. Bukan berarti aku suka Puput dan lantas ingin mendekatinya. 

Aku tipe orang yang pendiam dan tak cepat jatuh cinta. Dan hanya segelintir orang di dunia ini yang bisa sepertiku.

Suatu pagi, saat jam keluar main hampir habis, aku melihat Puput bongkar-bongkar tas dan isi bangkunya. Wajahya terlihat pucat dan cemas. Aku rasa dia lupa membawa modul mata pelajaran seni yang jamnya akan dimulai tepat setelah keluar main.

Guru seni kami memang sangat galak. Tak jarang ia mengeluarkan muridnya hanya karena hal sepele. Barangkali itu yang Puput sedang khawatirkan.

Aku melihat Puput bergegas keluar. Sepertinya ia mau mencari pinjaman buku. Aku lantas menuju bangkunya. Diam-diam, aku meminjaminya modulku. Aku sendiri memilih bolos karena tau diri akan dikeluarkan. 

Modul yang aku pinjami ke Puput sudah aku selipkan secarcik kertas di dalamnya dengan harapan ia akan membacanya.

Buku ini aku pinjami untukmu. Bukan berarti aku sedang mencoba mencari cara untuk mendapatkan perhatianmu. Lantaran saat ini, kamu sedang tidak baik-baik saja dengan kekasihmu. 

Telah kusediakan pula obat luka didalamnya. Aku tahu hubunganmu sedang tidak baik-baik saja. Jika kamu butuh, kamu boleh mengambilnya untuk dipakai sesukanya saja. Sebab, ini dikhususkan untukmu. Agar kamu tak terluka. Agar tak merasa sakit karena cinta. 

Tapi sebagai balasnya, aku ingin kamu mencintaiku juga. Bisa, kan? Semoga hubungan kalian pulih segera.

Dariku,

Pemenang lomba cerpen tahun lalu!

Begitu penggalan kalimat yang aku rangkai didalamnya. Aku pun bergegas pergi dan memutuskan untuk bolos saja di mata pelajaran ini. Karena pada akhirnya, aku akan dikeluarkan juga.

***

Keesokan harinya – di dalam kelas yang suasananya begitu riuh – Puput terlihat menyendiri dan bingung. Sembari memegang modul yang aku pinjami, matanya menoleh kesana kemari. 

Ada rasa penasaran pada dirinya, perihal siapa yang meminjaminya modul itu. Rasa-rasanya, ia ingin umumkan saja di depan kelas. Tapi aku tahu, ia tak akan berani dan tak enak hati.

***

Hari ini adalah hari kelulusan kami semua. Suka cita menyelimuti sekolah. Tak ada satu pun dari kami yang tak lulus. Termasuk sahabatku, Tamrin, yang kini sudah mendapatkan gadis yang ia kejar-kejar semenjak kelas dua dulu. Ningsih namanya.

Kami semua bersorak riang gembira. Pesta syukuran kami berlangsung lama. Bapak dan Ibu guru pun tak mau kalah untuk ikut serta merayakan.

Dari jauh, kuperhatikan Puput pun ikut larut dalam suasana bahagia. Bersama teman-temannya, ia berpelukan satu sama lain. Sementara Dimas, ia sudah tak membersamai Puput. 

Mereka sudah putus sehari sebelum ujian akhir sekolah dimulai. Katanya, biar lebih fokus semesteran saja. Bagiku, alasan itu tak lebih dari sekedar guyonan saja.

Beberapa saat sebelum pesta sekolah usai, aku menghampiri Puput. Kali ini, aku memberanikan diri untuk berbicara langsung di depannya. Sekalian sebagai pertemuan selamat tinggal sebelum kami berpisah raga.

Tak sedikit pun ada niatan untuk mengungkapkan rasa suka. Karena bukan seperti  itu caraku mengungkapkannya. Walau rasaku sudah tak terbendung. Aku tetap tipe orang yang berbeda.

Selamat ya untuk kelulusan kita.” Kataku sedikit malu memulai percakapan.

Thanks. Aku harap, nantinya, kita tidak saling melupakan, oke?” Jawabnya berbalas senyum.

Oh ya. Hampir lupa. ini ada titipan surat dari seseorang yang gak mau disebut namanya. Katanya, dia adalah pemuja rahasianmu semenjak dua tahun yang lalu. 

Dia bilang, surat ini kamu baca saja nanti dirumah. Ya, anggap saja sebagai bentuk perpisahan.” Seketika mata Puput terlihat berkaca-kaca dan sebuah senyum yang membentuk bulan sabit sempurna.

Aku sudah mengagumimu semenjak kelas satu. Tapi aku tak berani berbuat macam-macam denganmu. Aku hanya bisa mengagumimu lewat diam. 

Terlalu banyak saingan untuk memenangkan hatimu. Mereka adalah orang-orang yang datang dari keluarga kelas kakap. Sementara, aku adalah seseorang yang bukan siapa-siapa.

Aku tak pernah berusaha tampil menawan hanya untuk membuatmu terkesan. Apalagi harus merangkai kata-kata indah bak pujangga dengan harapan hatimu luluh nantinya. 

Aku lebih baik bersembunyi dan tak menampakkan diri. Aku lebih senang menjadi penonton setia yang menyaksikan drama kisah cintamu yang begitu melow dengan sederet lelaki ternama di sekolah. 

Karena bosan dengan perasaan yang terpendam, aku lantas memberanikan diri mengikuti lomba cerpen yang saat itu kamu juga menjadi salah satu pesertanya. 

Dalam cerpenku, aku dengan segenap hati menguraikan kalimat demi kalimat yang mewakili perasaanku padamu. Cerpen itu aku beri judul “Rindu Menua” yang akhirnya keluar sebagai juaranya. Kamu mungkin baru sadar akan hal itu.

Aku tak ingin melewatkan tiga tahun masa sekolah ini dengan perasaan yang itu-itu saja. melalui secarik kertas ini, aku memutuskan untuk meluapkan segenap isi hati yang sudah busuk tersimpan sejak dua tahun yang lalu. aku sudah lelah bersembunyi. 

Bersamaku saja dulu. Urusan bosan, aku bisa atasi dengan caraku sendiri. Kamu boleh melakukan hal-hal yang kamu mau, asal kamu harus janji bahwa kamu akan tunggalkan aku dan tinggalkan yang lain. Sekali lagi, ini hanyalah tawaran semata. Tapi, jika kamu suka, sebaiknya diterima saja. 

Aku tak akan memaksa dan menjanjikan apapun, apalagi menawarkan hal-hal yang sebenarnya tidak bisa aku wujudkan untukmu. Tapi, bilang saja apapun yang kamu mau. Selagi bisa, aku akan berusaha mewujudkannya. 

Aku hanya menyampaikan keinginanku untuk membersamaimu. Selebihnya, aku serahkan kepadamu untuk ditangani lebih lanjut. Terserah, mau kamu apakan rasa itu. Entah dengan tindakan membalas mencintaiku atau pun tidak, itu urusanmu. Aku percayakan padamu.

Oh ya. Terimakasih untuk senyum perpisahan tadi pagi, ya. Aku mencintaimu.

Dariku, yang meminjami modul seni untukmu.

Kurniawan T,

Begitu isi pesan yang aku berikan untuknya. Untuk terakhir kalinya.