Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman yang kumisnya selebat hutan Amazon, saya pikir patut kita sepakati ketika menyatakan bahwa manusia seperti tidak bisa hidup tanpa kebohongan.

Dan kebohongan, lagi pula, barangkali memang kita perlukan dalam menjalani hidup. Mungkin itu bisa kita gunakan untuk hal atau alasan apa pun, atau barangkali kita memerlukannya untuk momen-momen tertentu.

Misalnya, pada saat kita mendekati seseorang yang kita inginkan jadi pacar. Biar bagaimanapun, kita membutuhkan kebohongan untuk hal itu, dan kita menggunakannya sebagai sejenis pelumas.

Kebohongan, menurut Osho—guru spiritual temporer dari India itu, melumasi sistem kita dengan cara yang halus. Contoh, seorang pria berkenalan dengan wanita cantik dan si pria berkata, "Astaga! Betapa indahnya! Saya belum pernah melihat wanita yang begitu cantik dan memukau seperti Anda."

Dan pria itu mungkin tahu belaka, bahwa mungkin ada sejenis pelumas kebohongan di dalam ucapannya. Kepada wanita lain sebelumnya, barangkali dia sudah mengatakan hal yang sama, dan mungkin akan tetap mengatakan hal yang sama lagi pada wanita lain berikutnya.

Ini sama seperti sejumlah pria yang mengeluarkan kalimat serupa pada wanita-wanita yang mereka dekati di media sosial. Mereka mungkin akan memulainya dengan menyemburkan komentar pada foto wanita-wanita itu—katakanlah para wanita itu berfoto di sebuah taman dan banyak pohon-pohon—dengan kalimat seperti ini: "Tamannya bagus sekali, dan kelihatan sejuk. Tapi sayang, deh, ada kamu yang menghalangi di situ."

Itu kalimat yang mereka tiru dari artikel di sebuah situs relationship yang memang menyediakan sejumlah tulisan tentang bagaimana caranya memulai obrolan yang menarik dengan memberikan contoh kalimat-kalimatnya seperti apa dan dengan latar belakang foto tertentu.

Salah satu contoh kalimatnya seperti tadi. Dan kalimat itu bisa Anda gunakan juga ketika target Anda berfoto di tepi pantai atau di atas gunung atau di tengah hutan, atau menyelam di air laut. Anda tinggal menyesuaikannya saja apa yang relevan.

Dan di dalam batok kepala kita, Anda tahu, maksud saya di otak, ada suatu bagian yang bernama Reticular Activating System atau RAS. Itu berfungsi untuk mengabaikan hal yang sudah biasa atau basi atau mainstream dan secara otomatis kita menganggapnya tidak penting sama sekali.

Mungkin itulah kenapa kita cenderung malas merespons orang yang memulai obrolan—khususnya di media sosial atau di chatting—dengan kalimat yang biasa-biasa saja. Kita juga malas merespons orang yang mengirimi kita pesan singkat dengan percakapan pembuka yang berbunyi seperti ini: "Kamu lagi apa?". Pertanyaan itu seperti sulit sekali dijawab, seolah-olah itu pertanyaan yang paling susah di muka bumi.

Dan tentang sejumlah pria tadi, yang mengeluarkan kalimat serupa untuk wanita-wanita yang mereka dekati di media sosial, adalah teman-teman saya. Biasanya, ketika wanita-wanita itu merespons kalimat yang teman-teman saya keluarkan, dan obrolannya sudah mengalir deras dan cair, mereka akan bilang seperti ini: "Omong-omong, aku jarang membuka media sosial. Pindah ke WhatsApp saja, yuk."

Dan mereka jelas tahu, apa yang mereka katakan itu adalah semacam pelumas kebohongan. Mereka hampir tiap hari membuka media sosial, tapi mereka perlu menjadi licin dengan mengatakan seperti itu untuk bisa menjadi lebih dekat dengan wanita-wanita yang mereka dekati.

Kemudian, pada saat mereka sudah berpacaran dengan salah satu wanita yang mereka dekati, dan berpikir telah jatuh cinta satu sama lain, mungkin mereka—dan juga wanitanya—akan menjadi orang-orang yang terlalu cemas seperti Krishna Gautam, yang mengajukan pertanyaan pada Osho dengan bunyi seperti ini: Bagaimana caranya agar kita bisa tahu bahwa pasangan kita telah betul-betul jatuh cinta pada kita atau hanya main-main?

Itu pertanyaan yang mengandung kecemasan, dan jenis kecemasan itu barangkali memang sering kita miliki untuk pasangan kita. Kita seperti tidak bisa menjadi orang yang bersikap kalem saja, atau persetan saja dengan pasangan kita, apakah dia betul-betul mencintai kita atau hanya main-main.

Mungkin kita juga terlalu mengkhawatirkan, apakah besok pagi atau minggu depan pasangan kita akan minggat dari kita dan bertindak serampangan atau selingkuh dengan orang lain dan lalu memenggal hubungan kita.

Dan omong-omong, saya membaca buku kumpulan ceramahnya Osho—beberapa waktu lalu, yang berjudul A Sudden Clash of Thunder, sebelum menulis catatan ini, dan menemukan satu pertanyaan yang mungkin akan menarik bagi semua orang dengan jawaban yang mungkin akan menarik juga bagi semua orang.

Itu pertanyaan yang sudah saya paparkan di atas, yang datangnya dari Krishna Gautam. Osho menjawab, "Ini sulit. Tidak ada yang pernah bisa mengetahuinya. Karena, pada kenyataannya, cinta adalah permainan."

Dan jika kita terlalu memikirkan apakah seseorang yang jatuh cinta pada kita itu hanya main-main atau betul-betul mencintai, atau apakah cintanya asli atau palsu, atau apakah cintanya nyata atau tidak, menurut Osho, kita tidak akan pernah mampu mencintai siapa pun. Itu adalah masalah yang sering kali dirasakan oleh semua orang, katanya.

Mungkin kita dan pasangan kita adalah yang diibaratkan oleh Osho sebagai dua orang asing kesepian yang bertemu di suatu tempat atau di jalan  atau di media sosial atau entah di mana, dan kemudian berpikir kita telah jatuh cinta satu sama lain.

Dan tentu, pasangan kita dan kita akhirnya saling membutuhkan satu sama lain. Tapi bagaimana caranya untuk memastikan bahwa ada cinta di situ?

Begini, kata Osho, pada mulanya, Anda tidak mengenal saya dan saya tidak mengenal Anda. Ketika akhirnya kita saling kenal, mungkin itu hanyalah kebetulan. Dan yang ada di situ mungkin hanyalah kebutuhan.

Dan kita adalah orang-orang yang menurut dia sering kali merasa kesepian. Kemudian kita membutuhkan seseorang untuk mengisi kesepian kita.

Dan kita lalu menyebutnya cinta. Lalu kita menunjukan cinta pada seseorang itu karena itulah, yang menurut Osho, satu-satunya cara untuk dapat merayu seseorang tersebut. Seseorang itu menyebutnya juga cinta, karena itu pun adalah satu-satunya cara untuk membuatnya dapat lebih dekat dengan kita. Setidaknya itu menurut dia.

"Tapi siapa yang tahu apakah ada cinta atau tidak?" katanya. "Faktanya, cinta hanyalah permainan. Ya, ada kemungkinan untuk cinta sejati, tetapi itu hanya terjadi ketika Anda tidak membutuhkan siapa pun—itulah kesulitannya."

Dan pada saat kita tidak membutuhkan siapa pun, kita "berada di garis yang sama dengan fungsi bank," katanya. Maksudnya begini, jika kita pergi ke bank dan membutuhkan uang, mereka tidak akan memberikan apa pun.

Dan anehnya, atau berengseknya, mereka akan mendatangi kita dan akan selalu siap menyodorkan kita uang, ketika kita justru sedang tidak membutuhkannya.

Lebih jelasnya begini: ketika kita sama sekali tidak membutuhkan seseorang, dan betul-betul menjadi cukup bersama diri sendiri, atau pada saat kita bisa sendirian dan bahagia, kata Osho, maka cinta yang asli atau nyata dari seseorang adalah mungkin.

Tapi kemudian, kita juga tetap tidak dapat memastikan apakah cinta dari pasangan kita itu asli atau palsu atau tidak nyata sama sekali. Kita hanya dapat memastikan satu hal, kata Osho, yaitu apakah cinta kita pada pasangan kita itu asli atau tidak.

Dan jenis kecemasan ini, apakah cinta dari pasangan kita itu asli atau tidak, sebetulnya hanya menunjukan satu hal juga: bahwa cinta kita sendirilah yang justru tidak asli. Jika tidak seperti itu, mengapa kita peduli dan mencemaskan hal tersebut?

Nikmati saja cinta dari pasangan kita saat itu berlangsung. Bersamalah saat kita masih bersama. Itu saja.

Dan dalam kasus Krishna Gautam, menurut Osho, dia dan pasangannya mungkin telah mencoba saling menggunakan satu sama lain sebagai sarana. Dan kebanyakan dari kita memang seperti itu. 

Mungkin itulah kenapa kebanyakan kita dan pasangan kita sering kali berada di dalam konflik, karena tak ada seorang pun yang ingin digunakan.

Karena pada saat kita menggunakan seseorang, kata Osho, orang itu menjadi semacam barang atau benda. Dan setiap wanita mungkin merasa sedih dan ditipu, karena, setelah bercinta dengan seorang pria, pria itu kemudian berbalik badan dan pergi tidur.

Sudah banyak wanita yang mengatakan pada Osho, bahwa mereka itu menangis, karena pria mereka menjadi seperti tidak tertarik lagi dengan mereka setelah mereka melakukan hubungan seks. Dan tentang apa yang terjadi pada wanita-wanita itu, bahkan para pria mereka seperti tidak peduli.

Kemudian seiring mengalirnya waktu, pria-pria juga merasa ditipu oleh wanita mereka. Mereka mulai curiga, bahwa wanita mencintai mereka karena sesuatu yang lain. Untuk uang, misalnya.

Tapi jangan khawatir apakah pasangan kita betul-betul mencintai kita atau tidak, kata Osho. Ketika kita masih "tidur" (kata "tidur" adalah istilah untuk orang-orang seperti kita yang belum menjadi manusia tercerahkan), kita akan membutuhkan cinta seseorang, bahkan jika cintanya adalah palsu. Bersenang-senanglah; bermain-mainlah dengan itu. Dan jangan membuat kecemasan.

Dan suatu hari, entah itu kapan, ketika kita betul-betul menjadi "terbangun" atau menjadi manusia tercerahkan, kata Osho, kita akan dapat mencintai. Tapi kemudian kita hanya akan tahu cinta kita saja. Namun itu sudah cukup.

Osho mengatakan kepada Krishna Gautam: Saat ini, Anda mungkin hanya ingin menggunakan pasangan Anda, dan Anda mungkin juga tidak benar-benar bahagia dengan diri Anda sendiri. Ketika Anda sudah benar-benar bahagia dengan diri Anda sendiri, Anda sama sekali tidak ingin menggunakan siapa pun.

Dan apa yang Anda inginkan kemudian adalah berbagi kebahagian Anda dengan orang lain.

Dan sekarang, Krishna Gautam, Anda terlalu khawatir apakah pasangan Anda betul-betul mencintai Anda atau tidak. Karena sebetulnya, Anda mungkin tidak yakin dengan cinta Anda sendiri.

Bahkan, Anda mungkin juga tidak yakin dengan nilai Anda sendiri. Dan Anda tidak percaya bahwa seseorang dapat benar-benar mencintai Anda.

Juga, Anda mungkin seperti tidak dapat melihat apa pun pada diri Anda sendiri. Anda seperti tidak dapat mencintai diri Anda sendiri. Jika benar seperti itu, bagaimana mungkin orang lain dapat mencintai Anda?

Lalu, Osho mengajukan pertanyaan pada Gautam: Omong-omong, apakah Anda mencintai diri Anda sendiri? Bahkan, Anda belum menyodorkan pertanyaan ini sama sekali.

Anda tahu, Gautam, sering kali, orang-orang membenci diri mereka sendiri. Dan mereka seperti terus menerus mengutuk diri mereka sendiri; seperti terus-menerus berpikir bahwa mereka adalah bajingan, orang-orang yang demikian busuk.

Dan mereka pasti mencurigai, kepada seseorang yang kemudian jatuh cinta pada mereka. Mungkin mereka berpikir seseorang itu pasti bermain-main, atau mengincar sesuatu yang lain.

Dan ini adalah apa yang terus terjadi, kata Osho. Anda mungkin sangat tahu mengenai diri Anda sendiri, Anda tahu kebusukan dan ketidakberhagaan Anda, dan kemudian cinta seseorang tidak mungkin untuk Anda terima.

Ketika ada seseorang yang datang dan mengatakan kepada Anda bahwa dia mencintai Anda, Anda tidak dapat percaya. Atau ketika Anda datang pada seseorang dan mengatakan bahwa Anda mencintainya, dan jika seseorang itu membenci dirinya sendiri, bagaimana dia dapat mempercayai Anda?

Osho bilang bahwa itu adalah kebencian pada diri sendiri yang menciptakan kecemasan.

Dan menurut dia, betul-betul tidak ada cara untuk memastikan cinta seseorang itu asli atau tidak. Osho mengatakan, pertama-tama, yakinlah kepada diri Anda sendiri. Dan jika seseorang mencintai Anda, Anda menerimanya karena Anda mencintai diri Anda sendiri. 

Tapi jika hubungan Anda dan pasangan Anda berakhir, Anda mungkin berpikir bahwa cintanya adalah palsu. Itu belum tentu, kata Osho. Namun barangkali ada sedikit kebenaran di dalamnya, tetapi kalian berdua tidak mampu menjaga dan menahan kebenaran itu.

Anda membunuhnya saat itu ada. Dan Anda tidak mampu untuk mencintai. Anda membutuhkan cinta, tapi Anda tidak mampu melakukannya.

Jadi, Anda bertemu dengan seseorang, dan pada awalnya segala hal berjalan dengan baik. Ketika Anda sudah mulai menetap, segala hal mulai menjadi buruk. Dan makin Anda telah menetap, konflik makin muncul. Itulah yang membunuh cinta.

"Seperti yang saya lihat, setiap cinta pada awalnya memiliki sinar cahaya di dalamnya," kata Osho. Tetapi para pecinta itu menghancurkannya. Mereka melompat begitu saja ke dalam sinar cahaya itu dengan seluruh kegelapan yang mereka punya.

Dan ketika sinar cinta itu dihancurkan, mereka pikir itu palsu. Sinar itu benar, sinar itu nyata, merekalah yang palsu dan mereka telah membunuhnya. Jadi, Gautam, Anda jangan terlalu khawatir, apakah cinta pasangan Anda itu asli atau tidak, kata Osho. Sementara itu ada, nikmatilah dengan total.

Anda mungkin masih begitu lelap dalam "tidur" Anda. Nanti, ketika Anda sudah "terbangun", akan timbul di dalam hati Anda jenis cinta yang sama sekali berbeda, cinta yang betul-betul cinta, yang adalah bagian dari keabadian.