Mahasiswa
1 bulan lalu · 61 view · 3 min baca menit baca · Cerpen 61492_53258.jpg

Catatan Terakhir Mendiang Perempuan "Gila"

Terima kasih atas ucapan duka dan doa-doa yang kalian panjatkan di hadapan jasad kaku seorang perempuan "gila" ini. Jika aku bertemu Tuhanku nanti, aku akan sampaikan apa-apa yang kalian satu per satu perbuat terhadapku dulu. 

Kepada Tuhanku pula akan aku adukan semua perlakuan buruk kalian terhadapku, termasuk perbuatan amoral orang-orang jahat atas diri seorang gadis yang tak beruntung ini.

Hari ini aku telah tiada. Ketiadaanku akan meringankan beban saudara-saudaraku yang begitu ikhlas mengurusi aku sepeninggal bapak dan mama angkatku. 

Meski begitu, di masa hidupku, mereka berdualah orang tua kandung bagiku bahkan sampai waktunya bapak meninggal tiga tahun lalu yang disusul mama dua tahun setelahnya. Ya, statusku di keluarga ini adalah anak angkat sejak lahir hingga sore ini ketika hidungku masih bebas menghirup sejuknya udara bumi.

Aku, sebut saja namaku Beauty. Karena apalah arti sebuah nama, terlebih aku sudah tiada.

Aku dibesarkan oleh bapak dan mama yang sedianya telah memiliki tiga orang anak kandung. Seorang laki-laki dan dua orang perempuan. Hidupku adalah butir-butir keringat bapak dan mamak sebab mereka bukan dari kalangan pegawai maupun pengusaha. 

Mereka adalah bangsa orang tua yang tidak peduli dari mana rezeki itu didapat. Asalkan halal, pasti dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, termasuk aku.

Dua puluhan tahun yang lalu aku lahir di sebuah kapal penumpang. Orang yang melahirkanku itu kemudian mengangkatkan aku kepada bapak dan mama untuk dijadikan anak. Konon begitulah cerita yang kudengar waktu aku kecil dulu. 

Ceritanya kudengar dari orang yang pagi itu datang ke rumahku. Orang itu sekaligus mengaku bahwa ia orang yang melahirkan aku. Kedatangannya hanya berkunjung bukan untuk membawa aku hidup bersamanya.

Aku hidup dalam kebingungan, sekolahku hanya sampai di kelas lima sekolah dasar. Hingga akhirnya di umur belasan tahun aku menderita penyakit jiwa yang tak satupun tabib dan dokter yang bisa menyembuhkannya. 

Bapak sering membawaku berobat ke sana -kemari, mulai pengobatan medis sampai nonmedis, mulai berobat jalan sampai diinapkan di gedung pengobatan. Bahkan mama sering kudapati menangis saat mengunjungiku.

Sesekali mama mengeluh soal biaya pengobatan yang relatif mahal, terlebih di usianya yang tak lagi muda, terlebih bapak sudah tiada. Bahkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri pun, mama harus mencari pinjaman dari keluarga di luar kota. Dan sesekali mencoba menagih piutang yang dulu pernah bapak berikan kepada kerabatnya.

Tapi usaha pembiayaan pengobatanku tampaknya telah mencapai lelah yang tak tertahankan. Sementara saudara-saudaraku, kehidupannya juga tak jauh berbeda. Hingga akhirnya mamak juga turut tiada. Menyusul kepergian bapak ke rumah Tuhan yang damai. 

Dari gedung itu, aku pun dikirim pulang ke rumah sebab tak ada lagi yang mengusahakan biaya pengobatanku.

Hingga pada beberapa minggu lalu, aku mengalami perlakuan amoral oleh orang yang tak kukenal. Dalam kondisi kejiwaan seperti ini, tak ada orang yang bisa kukenali selain mendiang bapak dan mamak serta anak-anak kandungnya.

Perbuatan amoral itu mampu mengantarkan aku ke ruang gawat darurat di rumah sakit. Saudaraku sedih sekaligus panik, mereka kemudian mengabarkan kejadian yang bagiku memalukan itu kepada keluarga yang di luar kota.

Keluarga yang mengetahui lalu mencoba membuat laporan kepada penegak hukum, mencoba mengetahui siapa orang jahat yang telah merampas harga diriku. Tapi aku tahu, usaha itu akan sia-sia sebab takkan ada hasil ketika perbuatan jahat dialami oleh pengidap penyakit jiwa sepertiku. 

Berhari-hari aku terbaring di rumah sakit. Tanpa adanya kasih sayang dan belaian lembut dari tangan bapak dan mamak.

Sampai pada kepergianku sore ini, tiada satupun yang bisa disalahkan apalagi dituduh atas kejadian yang telah menimpaku. Andai aku masih bicara saat ini, akan kusampaikan bahwa bukan itu lagi yang menjadi keinginanku, karena toh aku sudah menjadi sebujur jasad yang menunggu dikebumikan. 

Terima kasih kakak-kakakku dan abangku yang selama ini rela menghabiskan waktu, tenaga, dan biaya demi kehidupanku. Keinginanku sekarang adalah bertemu bapak dan mamak di rumah Tuhan yang damai.

Artikel Terkait