Hana begitu fasih menulis, esainya di media online sudah banyak menghiasi internet. Esai Hana ciamik, detail, runtut dan memiliki argumen yang matang. 

Iya, sejak saat pertama membaca esainya, seketika Dori mengagumi Hana. Selalu ada keinginan untuk bisa bertemu dengan Hana. Dori mengagumi Hana bukan karena kecantikannya saja, tapi intelektualitasnya. Membaca esai-esainya Hana, membuat Dori merasa bodoh, tapi tidak, tunggu dulu, bukan karena Dori bodoh, Hana yang terlalu banyak melahap buku-buku ketimbang Dori.

Karena Hana, Dori mau membiasakan diri untuk menulis. Dori mulai mengurangi aktivitasnya di luar rumah. Dori mulai senang menulis. Ternyata, Dori merasa ada sesuatu yang bisa ia nikmati dari menulis. Dori tidak butuh alasan lain lagi mengapa ia suka menulis. Well, apa Anda butuh alasan mengapa suka warna biru atau merah? Seperti itu hematnya.

Seiring berjalannya waktu, Dori bekerja di perusahaan teknologi, sampai akhirnya nasib telah membawa Dori untuk bertemu dan bertatap muka langsung dengan wanita yang ia kagumi. Memang benar, Dori orang yang beruntung, ia bertemu Hana. 

Tanpa ia duga, Hana diundang oleh klien perusahaan Dori bekerja. Begitu girangnya Dori. Kekaguman Dori terhadap Hana memang subyektif, apapun yang menempel pada tubuh Hana selalu terlihat eksotis. Padahal orang lain bisa saja menilai penampilan Hana norak. Perbincangan umum antara Dori dan Hana mulai berlangsung. Hana banyak berkomentar tentang utang Negara, kritik Hana tentang cara berpikir kaum feminis hingga kontroversi pasal perzinahan di kunyah Hana dengan lahap.

Hana beranggapan bahwa cara berpikir feminis yang mengkampanyekan anti-diskriminasi kulit putih dan kulit hitam keliru dalam berpikir. Dalam bisnis, liberalisasi ekonomi memiliki kebebasan untuk memasarkan produknya agar laku di pasaran. Bagaimana mungkin memasarkan produk pemutih kulit menggunakan model yang berkulit hitam? Bukankah pebisnis juga bisa memasarkan produk kecantikan dengan menggunakan model berkulit hitam?

Kemuakan lain yang Hana jelaskan secara gamblang pada Dori ialah polemik pasal perzinahan yang sedang dirancang DPR. Hana dan Dori setuju pasal perzinahan melanggar hak asasi manusia. Negara tidak bisa intervensi ruang private warganya.

Bagaimana memastikan warga negara untuk tidak melakukan seks di luar nikah? Memasang CCTV di tiap rumah dan kos-kosan? Kepentingan yang memuakkan, ucap Hana. Sebelum Hana selesai menjelaskan pandangannya, Dori harus bergegas kembali pada pekerjaannya hingga sesi coffee break.

Yang mengejutkan, WiFi hotel menjadi awal mula runtuhnya batasan antara pengagum dan sang idola. Hana menghubungi Dori, mengeluhkan WiFi hotel yang tidak bisa digunakan dan meminta Dori mendatangi kamar Hana. Dori sempat menghardik dirinya sendiri, “Saya ini kan bukan pegawai hotel, kenapa meminta saya untuk menyelesaikan masalahnya?”

Tapi itulah naluri seorang pria bernama Dori. Tanpa pikir panjang, ia coba datangi kamar Hana. Dori ketuk pintunya dengan tangan yang sedikit gemetar. Bagaimana tidak, wanita yang Dori kagumi memintanya untuk membantu Hana dan menemani Hana di kamarnya.

Tak lama berselang, Hana membuka pintunya. Dada Dori berdegup kencang sekali. Hana hanya memunculkan wajahnya di balik pintu. Dori terheran-heran, “Kenapa nongol-nongol, begitu?” tanya Dori.

Dengan tatapan yang nakal, Hana menjawab, “Aku hanya menggunakan celana dalam saja.” Dori keringat dingin, salah tingkah, tenggorokannya mendadak kering, tatapannya kosong. Menggoda betul wanita ini. Dori membalas,“Pakai lagi celana kamu, Hana”. Hana mengiyakan, “Baiklah kalau gitu, tunggu sebentar ya.”

Beberapa menit kemudian, Dori masuk dan membantu Hana memasukan password WiFi hotel. Kemudian Dori berpikir kembali, “Apa ini hanya udang di balik batu saja pake-pake alasan password WiFi hotel sulit terkoneksi.” Dori kepedean.

Selama di kamar, Hana memang cerewet, berbicara sangat lugas sambil duduk melipat pahanya. Hana banyak bercerita tentang isu-isu yang sedang hangat dan meluapkan kekesalannya tentang cara berpikir kebanyakan orang. Ada satu topik menarik yang Hana bicarakan, regulasi tembakau.

Awalnya Dori menduga Hana akan menyinggung masalah kebebasan dan hak. Tapi tidak, ia menggunakan sebuah analogi seperti, “Asap dari perokok itu sama seperti kamu yang tidak marah terpapar polusi suaraku atau hanya bisa menghela nafas saat polusi asap dari kenalpot kendaraan. Ya sudah, memang risikonya rusak bareng-bareng antara perokok aktif dan pasif”. 

Tentu tidak ada yang baru dari komentarnya. Pemilihan kalimat yang Hana gunakan inilah yang membuat Dori sebagai perokok sedikit mengganggu. Pasti selalu ada dampak dari aktivitas merokok. "Bukankah Negara harus segera menentukan regulasi untuk melindungi hak atas udara untuk yang bukan perokok?" tanya Dori dalam hati.

Sesuai esai-esainya, cerewetnya Hana tidak diisi dengan ghibah membicarakan kehidupan pribadi orang atau usil tentang pilihan orang. "Apakah Hana seorang yang tidak peduli atau sangat mengimani kebebasan?"

Menurut Dori, Hana memang unik dan kritis. Biasanya wanita dengan penampilan seperti Hana tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar, apatis, menjaga jarak dengan dunia politik. Wacana obrolan tentu lebih tertarik membahas fashion, jalan-jalan, membahas pernikahan atau bergosip.

Selesai kegiatan acara kantor di malam Sabtu, Dori dan Hana berencana pergi ke sebuah cafe. Teman-teman berkelakar, Hana harus menguji Dori sebagai pria, seorang useless atau useful. Di sisi lain, atasan Dori memberikan clue yang cukup ambigu, “Bukan Dori yang mengajarkan, tapi Hanalah yang mengajar”, katanya berseloroh.

Saat menunggu Grab tiba, Hana berkelakar rmengatakan Dori seorang yang impulsif karena Dori menentukan tempat tujuan sesuka hati, tidak direncanakan, dan cenderung tiba-tiba.

Hana adalah tipe wanita yang supel, ramah, gampang berbaur dengan siapapun. Karena kepribadian Hana, Dori sering salah tingkah. Dori tahu Hana sudah memiliki kekasih, dan sikap Hana terhadap Dori sama seperti sikap Hana terhadap teman pria Hana yang lain.

Dori yang baru saja putus hubungan dengan kekasihnya, seakan lupa karena kehadiran Hana malam itu. Satu botol bir, es krim cokelat, dan kentang goreng menjadi pelengkap obrolan mereka menjelang tengah malam.

Hana memulai obrolan dengan menceritakan masa kecilnya, lahir dari pasangan yang berbeda agama, Ayah yang seorang Muslim dan Ibu seorang Katolik. Perpisahan kedua orang tuanya menempa Hana kecil untuk bisa keluar dari masalah yang menjeratnya. Akibat perceraian kedua orang tuanya, Hana sejak kecil mengalami jatuh miskin bersama Ibu dan adik-adiknya. 

Sejak remaja, Hana terbiasa mencari solusi dari setiap masalah yang mencekik lehernya. Saat dia ingin memiliki hand-phone seperti teman-temannya, Hana memutar otak dengan bekerja. Hana percaya, apabila dengan mencuri hanya akan menimbulkan masalah baru yang sedang mencekiknya. Broken home dan kemiskinan tidak membuat Hana terlibat dalam narkoba, alkohol, bahkan tindakan bunuh diri. Tetapi sebaliknya, telah membentuk mental Hana yang matang.

Mental Hana yang telah terbentuk sejak dini mengharuskan Hana fokus belajar menguasai semua mata pelajaran yang diberikan Guru sekolahnya. Ada satu yang mengganjal dari kisah remaja Hana dalam benak Dori, takdir hidupnya telah menunda Hana untuk menjadi Pianis terkenal yang ia cita-citakan sejak kecil.

Dalam hati Dori, Hana memang seharusnya menjadi seorang Pianis, ketimbang hebat secara akademik. Klise memang, Negara belum bisa hadir bagi bakat-bakat muda yang memiliki potensi di luar akademik.

Sejak malam itu, Dori merasa tak ingin waktu cepat berlalu. Perbincangan ia dengan Hana penuh inspirasi, tidak membosankan. Selama ini, masa kecil Dori tidak se-ekstrem Hana. Ia dari keluarga yang biasa-biasa saja dan harmonis. Dori tak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk mendengar kisah selanjutnya dari kehidupan Hana.

Hingga terbesit dalam pikiran, ia ingin mengajak Hana jalan kaki saat pulang ke hotel. Itupun agar bisa berlama-lama dengan Hana. Malam yang semakin larut adalah fase krusial bagi Dori, karena pikirnya sebuah pelagan malam yang pas untuk menyentuh hati perempuan. Di perjalanan pulang Hana bertingkah manja duduk sangat berdekatan dengan Dori, semakin menguatkan dugaan Dori selama ini. Apalagi saat Hana meminta Dori untuk memijat leher bagian belakang Hana yang digigit Semut.

Dori terus memandangi wajah Hana yang dihiasi tawa merekah membaca komen-komen gombal di akun Facebook Hana. Ada pergulatan batin Dori saat itu, ia tak percaya, se-memikat inikah Hana? Wanita yang ia kagumi, ternyata banyak di gombali pria-pria lain.

Setibanya di hotel, Hana meminta Dori untuk tidur bersamanya. Tentu Dori serba salah, antara senang dan tidak percaya. Ahai, wanita yang ia kagumi sepertinya sedang memberinya kesempatan emas.

Langkah kaki Dori mulai berat, tapi Dori terus melangkah di belakang Hana. Pandangan Dori sudah mulai nakal. Saat berjalan di belakang Hana, Dori mulai melihat ke arah bokong Hana. Tidak sopan. Gak laki banget. Beraninya di belakang.

Merekapun tiba di kamar Hana. Dengan perasaan gugup, Dori salah tingkah melihat Hana. Bagaimana tidak? Baru saja Dori keluar toilet selesai cuci muka dan buang air kecil, Hana sedang menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan celana dalam. Berani betul. Nekat betul.

Dari belakang, Dori melihat tubuh Hana yang nyaris telanjang, dengan punggung yang mulus, paha yang ramping dan kaki yang jenjang. Dori hanya terdiam, menyalakan rokoknya, kemudian membuka tirai jendela.

Hana mendekati Dori, “Kenapa diam saja?” Dori membalas, “Tidak, aku sedang kaget saja, pertama kali teman wanita membuka bajunya depanku.” Hana menjawab, “Kebiasaanku memang begini, tidurpun begini,” jawabnya datar.

Tak lama berselang, Hana menambahkan, “Kamu tahu tidak, aku pernah tidur dengan teman pria juga sebelumnya. Dia tiba-tiba saja masuk ke kamarku, aku tak enak menolak, kemudian dia memelukku dari belakang. Dia horni semalaman”. Keringat dingin Dori semakin terasa di tubuh.

“Yang benar? Harusnya kamu tolak, Hana,” timpal Dori. Hana hanya diam, tidak menjawab. Rokok yang sedang Dori hisap segera dihabiskan. Dori pede banget. Itu adalah kode yang sangat terverifikasi yang dikirimkan Hana. Begitu pikirnya.

Dori kemudian membuka celana jeansnya, tidur dengan celana pendek kesukaan dia. Dori menarik selimut, menyalakan TV agar kamar tidak terlalu sepi. Hana kemudian mengikuti Dori. Mereka sudah seranjang dan satu selimut. Alohaaa, Dori gemeteran. Pikirannya kalut.

Sambil gemetaran, Dori bertanya, "Kamu tidak takut diperkosa, Han?” Hana tertawa, “Haha, aku yakin saja kamu tidak akan memperkosaku." Lagian aku sudah punya kontrak dengan pacarku. Sejauh ini, aku tidak akan melanggar kontrakku berhubungan seksual dengan pria lain.”

“Lagian ini gila, sebagian besar pria Indonesia masih menganggap paha, belahan payudara atau bokong sebagai pusat sensual rangsangan libido. Pria Indonesia harus mulai belajar, bahwa paha, belahan payudara atau udel sebagai organ tubuh saja, sama seperti mata, rambut atau hidung. Gila saja apabila di masa depan pria bisa terangsang hanya karena melihat mata atau hidung perempuan. Gila bukan?”

Dori tidak menyerah. Dori berpikir harus mendebat Hana agar mendapatkan consent. Di pelagan malam, akhirnya Dori menemukan ide brilian untuk mendebat Hana. Dengan sigapnya, Dori berbalik ke arah Hana, tapi sialnya Hana sudah tertidur lelap. Duh, gondok banget Dori.

Ternyata Hana mengimani kebebasan absolut. Selama ini persepsi telah memanipulasi sikap dan pola pikir Dori. Wanita tampil seksi saat akan tidur sekalipun dengan pria, belum tentu ingin berhubungan seksual.

Hana sudah tertidur, sepertinya sangat lelap. Tanpa consent, Dori tak bisa berbuat banyak. Hanya kening Hana yang dicium Dori, itu pun saat Hana tak berdaya dalam tidur lelapnya. Sedih sekali. Dori begitu naif malam itu. Tidak semua wanita bisa kamu tidurin, Dor.