Bermula dari insta-story teman saya, yang cukup heboh menanggapi sebuah video, yang kalau saya lihat dari tumbnel-nya, sepertinya terlihat seorang ustaz yang lagi ceramah. Karena penasaran, akhirnya saya langsung gercep nonton video itu. Benar saja, di saat saya mengunjungi akun IG yang menguplod video itu, ternyata ada sang ustaz yang sedang berceramah.

Demi menyembuhkan rasa penasaran saya tentang isi ceramah yang disampaikan, akhirnya saya rela menunda pekerjaan saya beberapa menit demi video itu. Tak banyak reaksi yang saya tampakkan setelah menyaksikan video itu, selain diam diri, menahan emosi sambil sedikit menggerutu di dalam hati, “Isi ceramahnya kok gitu, kayak gak ada kerjaan aja.”

Mungkin, sebagian pembaca sudah ada yang tahu tentang isi ceramah ustaz itu, namun bagi yang belum, tenang saja, jangan khawatir, saya akan beberkan isi ceramahnya di sini. Namun, sebelum itu, izinkan saya untuk sedikit memberi bocorannya. Jadi, di dalam ceramahnya, ustaz itu bilang, kalau sudah dari kecil, anak-anak (Indonesia) telah diajari untuk membenci Islam.

Masih kata sang ustaz, bahwa media kebencian yang ditanamkan di dalam diri sang anak kepada Islam adalah melalui lagu anak-anak yang kita kenal atau bahkan sering kita nyanyikan di masa kecil kita, atau mungkin kita nyanyikan untuk anak-anak kita, sebagai bentuk hiburan buat mereka. Supaya lebih jelas, saya suguhkan hasil transkrip dari ceramah sang ustaz itu sebagai berikut.

Begini isi ceramahnya:

“Anak-anak kecil sudah sejak umur tiga aja sudah dilatih untuk benci Islam..” 

“Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya (bernyanyi),, yang meletus balon apa? Hijau, hatiku sangat kacau. Lho, Islam itu bikin kacau aja. Tinggal empat pegang erat-erat. Apa, merah, kuning….”

“Apalagi menyanyi yang jelas-jelas mengajak untuk membenarkan ajaran Kristen: naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan, kulihat saja banyak pohon cemara (bernyanyi).”

“Antum lihat ketika Messi berhasil nembak bola (sambil memperagakan selebrasi ala Messi saat mencetak gol)”

“Kuliahat saja banyak pohon cemara. Kenapa cemara? Padahal di Sumatra banyak pohon sawit, apalagi di Jawa, pisang. Dan cemara itu pohon imporan, gak banyak. Lihat ditanamkan untuk mencintai pohon cemara, pohon natal. Dibiasakan untuk beribadah….”

Ya, begitulah isi ceramah sang ustaz yang berhasil bikin saya—atau mungkin, sebagian kalian yang nonton—cukup dongkol. Bukan apa-apa, tapi lebih karena isi ceramah yang tak ada mutunya. Saya yakin, sang penggubah lagu, ‘Balonku’, AT Mahmud saja, tak terlintas sedikit pun di dalam benaknya kalau lagu gubahannya dibikin agar anak-anak yang mendengarnya jadi benci sama Islam. Sama sekali tak begitu.

Pun dengan Saridjah Niung sebagai pencinta lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung”, tentu tak terbayangkan di dalam isi kepalanya kalau lagu yang ia bikin—kalau meminjam kata sang ustaz—untuk ‘membenarkan’ agama Kristen. Karenanya, saya sempat berpikir kalau sang ustaz itu minteri (baca: sok pintar) dari penggubah kedua lagu itu.

Sejatinya, lagu anak-anak yang beredar di lingkungan kita, bahkan yang menemani pertumbuhan kita hingga saat ini, semua itu tak lain hanya sebuah hiburan belaka. Syukur-syukur, dari lagu-lagu itu dapat membentuk karakter si anak menjadi lebih baik, mengingat kandungan sebuah lagu anak-anak itu juga syarat nilai-nilai positif.

Menilik isi ceramah yang dibawakan sang ustaz menandakan kalau ia seperti kehabisan materi. Jika memang tak ada materi untuk disampaikan, sebaiknya tak perlu memaksakan melakukan ceramah, toh isi yang disampaikan bakal menimbulkan silang-pendapat di antara para pendengar.

Harus saya katakan dari hati yang paling dalam, bahwa kebetulan kita saat ini baru menghadapi ustaz ini saja. Asal kita tahu, masih banyak ustaz beginian dengan isi ceramah yang kadang bikin gerah, dan selalu membawa narasi menakut-nakuti.

Jika demikian, tentu bagi mereka yang tak dalam ilmu agamanya selalu mengira bahwa Islam itu agama yang menakut-takuti, padahal tidak demikan. Sebagai contoh, sekira sebulan yang lalu, ada salah satu ustaz meramalkan tentang hari kiamat, namun lagi-lagi itu hanya omong kosong belaka. Sebab, kiamat yang ia janjikan tak terjadi hingga kini.

Karenanya, penting kiranya memilah-milah mana ustaz yang ceramahnya patut disimak dan diabaikan. Alih-alih sebuah ceramah disampaikan dengan penuh kasih-sayang, dan bermanfaat serta terkandung unsur-unsur wahadah (persatuan), justru isi ceramah ustaz model beginian makin mengaburkan warna Islam, dan cenderung membenturkan keyakinan lain.

Padahal, sejatinya, Islam tak segahar mulut ustaz itu.