Sarjana, sungguh membanggakan ketika kita mendapatkan gelar tersebut, sebuah gelar yang sarat akan perjuangan untuk mendapatkannya. Wajar saja ketika kita mendapatkan gelar tersebut kita merasa puas atas pencapaian itu, perjuangan 4 tahun atau bahkan 7 tahun kini terbayar sudah ketika tali toga secara resmi dialihkan dari kiri ke kanan.

Pada saat itu dunia terasa hanya milik kita, karena pencapaiannya yang kita rasa sangat luar biasa itu. Pencapaian yang sangat membanggakan dan momen yang sangat membahagiakan bagi kita, orang tua, maupun orang-orang terdekat kita. Mereka semua bergembira hanyut dalam seremonial peresmian sarjana itu, karena mereka merasa telah berhasil satu langkah dalam mewujudkan cita-cita kita maupun cita-cita mereka.

Tak sia-sia rasanya bagi mereka banting tulang untuk biaya kuliah kita, walaupun terkadang kita masih saja lupa akan jerih payah mereka. Tak sia-sia rasanya bagi mereka mengorbankan waktu tidurnya untuk mendoakan kita di sepertiga malamnya, walaupun terkadang kita juga lupa mendoakan mereka di setiap ibadah kita. Namun, hal itu sudah terbayar rasanya di hari wisuda yang sudah menjadi bukti keberhasilan kita.

Setelah seremoni yang sekejap itu, baru kita terpikir, apa yang akan kita lakukan selanjutnya? Kuliah lagi? Biaya kuliah dari mana? Mau membebani orang tua lagi? Mau kerja? Kerja apa? Mencari kerja tidak segampang membalikkan telapak tangan, Sob.

Dunia kerja itu keras. Apa yang kamu punya? Cuma selembar kertas ijazah itu? Jangan harap kamu bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah dengan hanya berbekal selembar kertas yang sekarang bisa diperjualbelikan itu, Sob!

Tak ayal banyak sarjana-sarjana pengangguran di negeri ini yang hanya gulang guling di kamar memeluk erat gelar sarjananya itu tanpa bisa berbuat apa-apa. Tak berlebihan rasanya jika ada istilah bahwa sarjana itu adalah “sampah” pengangguran terdidik di negeri ini. Miris rasanya hati ini sebagai sarjana yang termasuk bagian dari sampah-sampah yang bertebaran itu.

Data terbaru, pada tahun 2015 Badan Pusat Statistik mencatat, ada sekitar 400 ribu sarjana baru yang menganggur di negeri ini. Sungguh ironis melihat data tersebut, apa jadinya para sarjana yang katanya generasi penerus bangsa ini di masa depan. Setiap tahun, bahkan tiap semester, ribuan sarjana diluluskan oleh satu kampus, sementara itu, ada ratusan kampus di negeri ini yang siapa mencetak pengangguran-pengangguran baru tersebut setiap tahunnya.

Ironis memang kenyataan pahit yang harus diterima para sarjana di era kontemporer ini, kita yang harusnya memimpikan masa depan yang lebih cerah dari gelar kesarjanaan tersebut, malah sebaliknya, menambah beban orang tua dan negeri ini. Ditambah lagi suara burung tetangga berkicau sana sini dengan kicauan pedasnya, membuat telinga makin panas.

Derita para pengangguran itu semakin terasa ketika menyadari umur semakin tua. Saat muncul tuntutan sana-sini, hingga kekasih hati yang terjalin sejak kuliah pun didesak orang tuanya untuk dinikahi. Mau uang dari mana? Istri kita kelak mau dikasih makan batu atau kita masih mau menambah beban orang tua lagi? Sudah siap tinggal di “pondok mertua” yang katanya penuh derita itu?

Ah, sarjana pengangguran, sunguh menyedihkan lagi menyakitkan. Saat tuntutan hidup semakin berat, malaikat di kuping kanan dan iblis di kuping kiri berbisik menghujat, hanya hati nurani dan iman yang mampu menahannya. Sehingga, tak jarang banyak sarjana yang tidak memiliki pikir panjang lagi, mereka terperangkap tuntutan hidup hingga terjeblos ke lembah kenistaan, cara-cara pintas pun mereka lakukan untuk meraih kesuksesan.

Tak heran juga jika sekarang banyak bermunculan tindak-tindak kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang terpelajar para sarjana pengangguran. Itu karena tuntutan hidup mereka yang sekarang semakin meningkat dan mendesak, ditambah sumber pemasukkan yang tak kunjung juga mereka dapatkan. Sehingga akal-akal bulus pun bermunculan dan dengan bangganya mereka pamerkan.

Betapa sulitnya mencari kerja di negeri ini, hujan dan panas sudah dilalui, dari desa hingga ke kota sudah dilewati, gedung kecil hingga gedung tinggi sudah dimasuki, namun tak ada satu instansi pun yang siap menampung para sarjana pengangguran ini. Nasib ... nasib.

Sia-sia rasanya teori-teori besar yang telah dikuasai, sia-sia rasanya organisasi yang telah banyak menyita waktu itu dialami. Semua masa-masa indah menjadi mahasiswa itu, kini kandas begitu saja ketika menjadi sarjana pengangguran yang tak tau arah kemana dan apa yang harus dilakukan.

Orang tua yang dahulunya selalu memberikan semangat dan tetap tersenyum atas usaha kita, kini semakin tua dan renta, tubuhnya tak lagi kuat untuk bekerja. Matanya yang selalu berkaca-kaca, pertanda harapan masa tua mereka tertumpu pada kita. Adik-adik kita yang kecil yang harusnya menjadi tanggungjawab kita, kini hanya bisa diam tak bisa menyambung sekolahnya. Kenyataan itu semakin membuat kita tertegun meratapi nasib kita.

Saatnya kita berpikir lebih keras lagi, mengubah pola pikir yang telah lama mengakar di otak selama ini, saatnya berpikir kreatif sebagai sarjana yang berintelektual tinggi. Mari kita ciptakan lapangan kerja sendiri, ciptakan peluang usaha untuk meraih pundi-pundi kertas yang berharga itu.

Peluang itu terbuka lebar di era globalisasi sekarang ini, hanya kita saja yang tidak mau berpikir kreatif dan melawan rasa gengsi. Penyakit yang satu ini memang sulit untuk disembuhkan, akan tetapi kapan lagi kita dapat mengakhiri keterpurukan ini. Ingat, Kawan, orang tua kita sudah renta, adik-adik kita yang putus sekolah juga menambatkan masa depan mereka kepada kita.

Saatnya kita ciptakan lapangan kerja, biarkan kerja yang mencari kita, bukan kita yang mencari kerja. Meskipun itu tidak sesuai dengan apa yang kita dapatkan di bangku kuliah, terimalah kenyataan ini demi kebahagiaan mereka. Mereka hanya ingin masa depan mereka yang ada di tangan kita, tidak peduli dengan perkerjaan kita apa. Selama itu halal, yakinlah mereka akan menerimanya.

Saatnya kita gunakan otak kita untuk berpikir lebih keras dan kreatif, tutup telinga dari ocehan-ocehan tetangga yang tak ada habisnya. Idealis itu memang penting, tapi ada saatnya juga kita harus berpikir pragmatis demi kebahagian orang-orang terdekat dan sekitar kita. Ayolah, Kawan! Berpikir itu tidak hanya dengan otak, tetapi juga harus dengan hati nurani.