Seperti yang kita ketahui tahun 2022 merupakan tahun yang sangat luar biasa bagi guru, penulis mencatat ada beberapa peristiwa yang membuat guru harus belajar dan bertahan di tengah berbagai perubahan yang terjadi. Berbagai peristiwa yang harus dihadapi bahkan tidak sedikit dari guru cukup kebingungan dalam menghadapi kondisi pada saat itu.

Belum lagi perubahan kebijakan dalam dunia pendidikan sehingga mau tidak mau guru harus benar benar membuktikan tetap bertahan untuk memberikan pelayanan terbaik terhadap peserta didik. Penulis ingat betul bagaimana di masa pandemi guru bener benar diuji perubahan dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring memang sempat membuat guru hampir menyerah.

Semua mengharuskan guru untuk belajar berbagai metode pembelajaran daring yang sebelumnya guru terlalu nyaman dengan pembelajaran tatap muka. Tetapi melalui proses belajar yang cukup singkat guru mulai membuktikan kemampuannya untuk tetap memberikan pembelajaran terhadap peserta didik.

Di pertengahan tahun 2022 pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa pandemic mulai mereda hal itu memang disambut baik oleh seluruh masyarakat namun tidak bagi guru, karena di dalam dunia pendidikan walaupun kondisi mulai mereda tetapi pemerintah belum mengeluarkan kebijakan tatap muka keseluruhan, itu artinya guru harus menyiapkan pembelajaran tatap muka dan pembelajaran daring yang kita kenal dengan pembelajaran hybrid learning.

Walaupun pembelajaran hybrid learning dalam pelaksanaannya memanfaatkan teknologi sebagai pendukung utamanya. Namun tetap guru sebagai pelaku utama dalam pembelajaran tersebut. Walaupun di awal penerapannya guru masih banyak yang kebingungan tetapi guru mulai terbiasa dengan hal tersebut.

Proses belajar dengan hal hal yang baru membuat guru bisa bertahan dan memberikan pelayanan terbaik terhadap peserta didik. Belum lagi ketika guru harus bisa mengatasi berbagai kenakalan siswa yang banyak terjadi, perubahan pembelajaran yang dilakukan secara daring menuju ke tatap muka ternyata masih menyisakan pekerjaan rumah bagi guru.

Munculnya kenakalan anak anak dari tindakan perundungan sampai tawuran harus benar benar diatasi oleh guru jika tidak akan menjadi tindakan kriminal dan tentunya ini berdampak yang tidak baik bagi sekolah. Kita telah mendengar kabar meninggalnya seorang pelajar di Tasikmalaya karena tindakan perundungan yang dilakukan oleh temannya.

Ramainya kenakalan yang dilakukan oleh siswa yang terjadi di berbagai daerah menambah tantangan besar bagi guru dalam memberikan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan pasca pandemi.

Tantangan berikutnya yang tidak kalah adalah pemerintah menerapkan kurikulum merdeka sebagai kurikulum baru di dalam dunia pendidikan di Indonesia. Pemerintah menyatakan bahwa Kurikulum merdeka ini adalah solusi bagi dunia pendidikan di Indonesia pasca pandemi.

Sebenarnya dalam mempelajari kurikulum merdeka ini tidak ada yang membedakan dengan kurikulum sebelumnya. Sehingga penerapannya guru dan satuan pendidikan diberikan kemerdekaan seluas luasnya. Pemerintah hanya memberikan aturan-aturan yang harus diperhatikan oleh guru di setiap sekolah

Perubahan kurikulum ini membuat guru harus belajar kembali bagaimana penerapannya di dalam kelas. Guru kembali belajar dengan mengikuti berbagai seminar, webinar tentang penerapan kurikulum merdeka sehingga ketika tahun ajaran baru bisa diterapkan di setiap sekolah.

Dalam pelaksanaan nya adanya profil pelajar Pancasila ini lah yang membedakan antara kurikulum merdeka dengan kurikulum sebelumnya. Dimana setiap sekolah  harus bisa melaksanakan kegiatan proyek profil pelajar Pancasila sesuai dengan yang direncanakan di awal, maka diperlukannya Kerjasama dan dukungan dari semua pihak.

Bagaimana guru dapat melakukan kegiatan projek penguatan profil pelajar Pancasila yang telah direncanakan dan sesuai dengan bobot kurikulum setiap satuan pendidikan. Masing masing sekolah merencanakan berbagai kegiatan sesuai dengan tema yang telah ditetapkan dalam kurikulum merdeka.

Kolaborasi antara guru sangat diperlukan dalam sukses tidaknya pelaksanaan kegiatan projek penguatan profil pelajar Pancasila di sekolah. Platform merdeka mengajar menjadi bahan bacaan dan pelatihan wajib yang harus diikuti oleh setiap guru. Sebuah pelatihan mandiri yang harus diselesaikan agar menambah pemahaman guru dalam pelaksanaan kurikulum merdeka.

Belum lagi guru harus mengikuti seleksi guru PPPK yang cukup panjang berbagai rangkaian seleksi mulai dari penempatan sampai ketika guru mulai mengajar di tempat yang baru. Hal itu memerlukan pemikiran yang benar benar fokus sehingga guru harus membagi antara penerapan kurikulum dengan seleksi PPPK. Bukan hal yang mudah bagi guru dan ini merupakan sebuah tantangan tersendiri.

Program guru penggerak menjadi tantangan berikutnya bagi guru, sebuah program yang diwajibkan oleh pemerintah dengan berbagai rangkaian kegiatan rekrutmen di awal yang cukup menyita perhatian guru sampai ketika lulus dan dinyatakan menjadi peserta calon guru penggerak yang harus mengikuti pendidikan selama sembilan bulan. Membagi waktu antara melakukan kewajiban mengajar dan belajar dalam guru penggerak merupakan hal yang tidak mudah bagi guru.

Dan sebagai tantangan terakhir yang harus dilakukan oleh guru adalah ketika mengikuti kegiatan pendidikan profesi guru (PPG), sebuah kegiatan yang harus diikuti oleh guru ketika ingin dinilai sebagai seorang guru yang profesional. Pelaksanaan PPG ini juga cukup menyita waktu bagi guru bagaimana membagi antara mengajar dengan mengikuti kegiatan ini.

Berbagai tantangan sudah bisa dilalui oleh guru di tahun 2022 yang intinya guru harus mau belajar, membuka diri untuk hal hal yang baru, keluar dari zona nyamannya dan terus melakukan pengembangan diri agar tetap bisa menjawab tantangan perubahan.