Melanjutkan pendidikan menjadi mahasiswa adalah hal yang diinginkan sebagian remaja di Indonesia, salah satunya saya pribadi. Namun apabila dilihat dari beberapa segi masalah seperti aksesibilitas, doktrin lingkungan, hingga masalah ekonomi adalah beberapa penghambat sebagian para remaja di Indonesia untuk melanjutkan pendidikan ke dunia perkuliahan.

Namun pada kesempatan kali ini saya tidak akan membahas masalah tersebut, namun sedikit cerita beberapa pengalaman saya ketika tidak lolos dalam seleksi ujian masuk perguruan tinggi negeri. Cerita ini berdasarkan pengalaman dan kisah pribadi yang bertujuan untuk dijadikan pembelajaran bagi para siswa-siswi yang ingin melanjutkan kuliah.

Masa kelulusan jenjang SMA adalah masa di mana para remaja merasakan keresahan untuk memilih jalan hidup selanjutnya, ada yang sebagian ingin fokus bekerja, kuliah, bahkan ada pula yang memutuskan untuk menikah. Sehingga banyak yang terkadang ragu dengan keputusannya sendiri. Padahal di antara itu tidak ada yang benar-benar salah.

Namun saya sendiri memilih untuk kuliah terlebih dahulu, selain keinginan saya pribadi didukung juga oleh kedua orang tua yang ingin anaknya mendapatkan gelar sarjana. Maka dengan alasan kedua hal itu yang semakin membuat diri ini lebih semangat untuk melanjutkan pendidikan di perkuliahan.

Saat akhir semester kelas 12 di SMA diri ini mulai memikirkan untuk melanjutkan kuliah di mana dan jurusan apa saja, saat saya sudah mulai menentukan di situ pula saya merasakan keraguan seperti yang lain, hingga muncul beberapa pikiran buruk dalam diri ini. Demi mengurangi hal itu saya mulai konsultasi dengan guru BK saya, orang tua hingga teman-teman sebaya.

Namun pada akhirnya tetap saja, sebanyak apapun referensi dan penjelasan dari orang lain tetap saja diri kita yang harus menentukan dan meyakinkan keputusan pada diri kita. Karena bagaimanapun diri kita yang akan menjalankan keputusan yang telah kita pilih, bukan orang lain.

Saat itu saya mulai yakin dengan keputusan saya walaupun kadang sedikit ragu akan pilihan kuliah dan jurusan yang sudah saya pilih ini. Saya mengambil jurusan yang berhubungan dengan komunikasi dan perguruan tinggi yang sudah memiliki label negeri.

Seiring waktu berjalan, pendaftaran kuliah sudah mulai dekat dan hal tersebut membuat diri ini sedikit khawatir akan persiapan yang masih minim ini. Ditambah melihat teman-teman yang sudah mulai fokus dan beberapa mengikuti les di tempat les ternama. Rasanya diri ini ingin sekali mengikuti les untuk menambah dan mendukung persiapan diri ini dalam menghadapi ujian.

Namun disisi lain zaman sekarang biaya les itu sangat lumayan mahal, terkadang berpikir dua kali untuk meminta kepada orang tua. Tetapi saat itu kebetulan ada kaka kelas yang membuka kelas les untuk persiapan ujian masuk perguruan tinggi negeri ini dan biaya nya pun tidak terlalu mahal, maka diri ini pun mulai mengikuti les untuk persiapan tes ujian nanti.

Mengikuti les tersebut membuat diri ini mendapatkan hal positif untuk lebih semangat dalam ujian nanti, ditambah lingkungan yang sangat ambisius dalam mengejar mimpi untuk mendapatkan universitas yang diinginkan.

Sebelum ujian dilaksanakan diri ini terpilih menjadi siswa eligible sehingga dapat daftar menggunakan nilai akademik. Namun saya tidak diterima saat itu oleh salah satu universitas yang saya inginkan. Setelah itu saya tidak menyerah untuk mendaftarkan diri ke universitas lainnya.

Saat hari tes tiba saya sangat semangat untuk mengikutinya, yaitu jalur SBMPTN walaupun sempat gagal sebelumnya di SNMPTN. Kebetulan saat itu saya mendapatkan tempat tes yang agak jauh dari rumah saya dan waktunya itu pagi hari, sehingga perlu persiapan berangkat ke tempat ujian dengan waktu yang agak pagi.

Hari itu hujan turun dengan deras hingga membuat banjir dimana-mana, namun diri ini tidak surut untuk semangat melaksanakan tes SBMPTN ini. Saat tes selesai rasa gelisah berkurang, sambil menunggu pengumuman hasil tes SBMPTN saya inisiatif untuk mencoba beberapa jalur untuk masuk ke universitas yang saya impikan.

Namun saat pengumuman itu tiba diri ini ditolak di semua jalur yang sudah saya coba, sempat putus asa saat itu bahkan rasanya ingin menyerah dengan keadaan saat itu. Semua rasanya hal yang sudah dilakukan seperti sia-sia dan tidak ada gunanya.

Sempat malu dan ingin menyerah saat itu karena beberapa hal, diri ini merasa telah membuat kecewa orang tua dan juga di SMA saya diberikan tanggung jawab menjadi Ketua Osis. Rasanya malu tidak bisa menjadi contoh yang baik untuk adik-adik kelas saya disekolah, malu bahkan kecewa saat itu.

Tetapi seiring waktu saya mulai bangkit berkat dukungan dan semangat dari orang tua hingga teman-teman dekat. Saat itu saya mulai mencoba berdamai dengan keadaan dan mencoba untuk fokus terhadap solusi bukan justru meratapi nasib yang tidak sesuai keinginan.

Meski kadang pikiran buruk sering mengganggu, namun saya terus melawan hal itu. Dan saya mulai mencoba daftar di universitas swasta. Meski bukan keinginan utama namun kembali terhadap visi yang utama, yaitu belajar dan kuliah.

Dari hal tersebut saya belajar bahwa kegiatan disekolah yang bersifat akademik adalah hal yang penting, dulu saya terlalu sibuk terhadap organisasi namun menomorduakan nilai yang bersifat akademik.

Di sini saya tidak menganggap bahwa hal itu salah, namun kedua itu akademik maupun non akademik keduanya bersifat penting. Keduanya harus berjalan seimbang untuk para siswa-siswi jalani. Karena dengan kegiatan non akademik atau organisasi hal itu juga yang membuat saya berkembang, seperti berani berbicara di depan umum, memimpin sebuah acara dan lainnya.

Namun kedua hal itu harus bersifat seimbang. Dengan saya ditolak di universitas yang saya inginkan dengan itu saya sekarang lebih semangat untuk meningkatkan potensi yang ada di dalam diri ini. Salah satunya menulis artikel, meningkatkan literasi, dan juga saya diterima di universitas swasta tanpa dipungut biaya sepeser pun menggunakan jalur Ketua Osis.

Pada akhirnya kita memang hanya harus menerima sebuah hasil dan menikmati sebuah proses, karena terkadang saat kita terlalu menunggu hasil kita tidak akan menikmati proses yang kita sedang jalani, padahal sejatinya proses adalah sebuah hasil yang kita cari untuk membentuk kualitas diri.