(Catatan: tulisan ini adalah sambungan dari tulisan saya sebelumnya)

Kedua, ada kasus ketika pasien dinyatakan meninggal karena Covid ternyata hasil tes PCR-nya (yang baru selesai setelah pemakaman) membuktikan sebaliknya. Silakan googling kasus pasien meninggal yang terlanjur dimakamkan dengan SOP Covid, yang kemudian digali kembali dan dimakamkan ulang oleh keluarganya, di Bandung. 

Ada 700 jenazah yang akhirnya diketahui meninggal bukan karena Covid, 197 makam diantaranya dibongkar dan dimakamkan kembali. Itu kasus yang terjadi di Bandung, tidak ada jaminan tidak terjadi di kota lain, bukan?

Ketiga, peng-covid-an itu nyata. Pasien meninggal oleh sebab lain tetapi dilaporkan sebagai pasien covid. Saya menemukan kasus riilnya di lapangan. Tak dapat dipungkiri, insentif finansial yang disediakan pemerintah di awal-awal pandemi bisa menjadi pemicu tindakan tak terpuji pihak rumah sakit.

Keempat, ketakutan yang berlebihan akan menurunkan kemampuan tubuh melawan virus. Alih-alih membentuk antibodi, mental yang terteror justru makin membebani tubuh. Bukan kesembuhan yang didapat, tetapi intentitas keparahan yang makin tinggi.

Ketakutan yang berlebihan juga menjadi pemicu penanganan yang berlebihan pada pasien di rumah sakit. Ini menjadi penyebab kelima kematian pasien yang seharusnya tidak terjadi. Mari kita bicara jujur. Berapa kali Anda mendengar pasien yang divonis covid dengan gejala ringan, kemudian dirawat di rumah sakit, dan berakhir maut?

Dari beberapa kawan dan saudara yang menjalani perawatan di rumah sakit, saya melihat tindakan berlebihan rumah sakit antara lain dari jumlah dan jenis obat yang harus diminum (tujuh atau delapan, sekali minum), termasuk antibiotik. Sakit karena virus tidak memerlukan antibiotik. 

Itu sudah menjadi pengetahuan medis secara umum. Lalu mengapa pasien covid, dengan gejala ringan diberi antibiotik? (catatan: terbukti kemudian, antibiotik ditarik dari SOP resmi penanganan covid).

Belum lagi ketika pasien yang dirawat di RS tidak boleh ditunggu/ditemani oleh keluarganya, dengan alasan pasien mengidap penyakit yang sangat menular.

Alasan yang sangat masuk akal, tetapi coba kita jujur membandingkannya dengan orang-orang yang dirawat di rumah, dengan dikelilingi oleh hangatnya cinta keluarga. Apakah kemudian sekeluarga menjadi sakit, dan berakhir maut? Banyak kasus membuktikan: tidak demikian.

Juni-Juli 2021 ketika gelombang varian Delta mendominasi kasus di Indonesia, saya membuktikan, banyak sekali orang di sekitar saya yang sakit dengan gejala mirip covid (demam, kehilangan daya penciuman, batuk kering), mengobati secara mandiri, dan sembuh. 

Saya yakin jika dilakukan tes kemungkinan besar akan memberikan hasil positif (kami sekeluarga juga kena, dan tidak melakukan tes, tetapi sebulan setelah sembuh melakukan tes antibodi, dan terdeteksi, artinya memang sebelumnya kami terinfeksi).

Pada periode Juni – Juli 2021 itu antrian orang di apotek-apotek mengular. Sebagian besar membeli obat penurun panas, obat batuk, vitamin (terutama C dan E). Harga air kelapa muda (dari jenis wulung, atau kelapa hijau) di tempat saya, yang biasanya Rp.11.000,-, melonjak sampai Rp.45.000,- per butir (catatan: banyak orang percaya bahwa air kelapa muda membantu meningkatkan daya tahan tubuh). Itupun belum tentu barangnya tersedia. Sering terjadi, pukul 09.00 pagi sudah ludes.

Harga beberapa rempah-rempah, seperti jahe, sereh, dan kencur, juga meroket, menandakan tingginya permintaan (di awal-awal pandemi, Pak Terawan sempat mempromosikan jamu-jamuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh; hal yang sangat saya hargai). 

Saya tidak mengecek penjualan madu, yang saya perkirakan juga mengalami peningkatan signifikan. Seperti halnya air kelapa muda dan empon-empon, madu juga menjadi andalan sebagian masyarakat Indonesia untuk meningkatkan daya tahan tubuh ketika sakit.

Perawatan mandiri di rumah, dengan ‘peralatan’ dan obat-obatan sederhana, memberikan kesembuhan sempurna, dan itu diamini masyarakat. Saya masih ingat, pembicaraan antar warga, “Kalau masuk angin, greges-greges, jangan sampai ketahuan oleh pemerintah (RT, RW, Puskesmas, Rumah Sakit) atau nakes (dokter), nanti kalau dites dan hasilnya positif, dan harus dirawat di RS, malah pulang tinggal nama.” Sangat sering saya temui di sekitar saya. Ya, kredibilitas sektor kesehatan di mata publik memang pernah serendah itu.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari hal-hal yang saya utarakan di atas? Ketika kita mengabaikan pendapat virolog, ditambah dengan gempuran berita horor tentang covid di media massa, hanya ketakutan ujungnya; dan ketika ketakutan demikian mendekap mental, kita tak mampu lagi berpikir jernih, sehingga cenderung bertindak berlebihan.

Padahal ketika tindakan berlebihan tadi menyangkut kesehatan, risikonya terlalu besar, bahkan bisa sampai pada kematian yang tidak perlu. Jadi darimana saya tidak punya empati pada mereka yang meninggal karena covid? Justru sebaliknya, saya mencoba memberikan masukan agar kelak kita bisa berpikir lebih rasional, tidak khawatir berlebihan, sehingga bisa mengurangi risiko maut.

Indonesia pernah melibatkan virolog ketika berhadapan dengan flu burung. Hasil penelitian virolog digunakan sebagai materi diskusi antara pemerintah Indonesia dan Badan Kesehatan Dunia (WHO), dan hasilnya histeria massa tidak perlu terjadi. Tetapi memang kondisi saat ini tidak dapat dibandingkan dengan masa itu, karena saat itu belum ada media sosial yang sangat powerful dalam memengaruhi opini publik.

Selain kebijakan Indonesia di masa lalu, ada satu contoh negara yang melibatkan virolog dalam merumuskan kebijakan di bidang covid, yaitu Afrika Selatan ketika terjadi kasus varian Omicron. Lain kali akan saya tulis kasus Afrika Selatan ini jika ada waktu. 

Untuk sementara kita bisa cek, bagaimana kondisi Afrika Selatan dalam hal percovidan, dibandingkan dengan negara-negara yang sejak awal ingin menerapkan kebijakan zero-covid, seperti New Zealand, Canada, dan China.