Mahasiswi
1 bulan lalu · 503 view · 3 min baca menit baca · Filsafat 12534_14752.jpg

Catatan Catatan Pinggir

Jadi, di suatu siang, aku dan kakak Perempuan sedang bermain ponsel masing-masing. Saat itu, aku sedang membaca e-book, sedangkan kakak aku sedang berselancar di sosial media.

Di tengah keheningan, tiba-tiba kakak aku berceletuk, “Dek, sekarang HP S****** yang series itu udah murah, ya. Harganya udah di bawah 1,5 juta.”

“Iya? Tahu dari mana?”

“Ini temanmu promosi di Facebook.”

Memang ada teman aku yang bekerja di S****** dan sering promosi harga terbaru dari ponsel kenamaan Korea itu di beranda Facebook. Aku meninggalkan ebook sementara dan mengintip dari balik bahu kakak. Dan memang, harga ponsel yang sebelumnya 1,7 jt itu menjadi (kalau tidak salah ingat) 1,5 jutaan. Ada lagi ponsel seri lain yang harganya jauh lebih murah dari saat pertama kali keluar.

“Ya, udah. Beli, sana,” kataku menggoda, sebab sebenarnya Kakak baru saja ganti ponsel.

Dia mencibir dan bilang, “Halah, nanti kalau ngikuti trend, enggak habis-habis. Beli yang ini, eh, bulan depan udah keluar lagi jenis baru. Yang ini jadi kuno. Dijual second hand juga harganya gak sebanding, soalnya yang baru dari jenis yang sama udah jadi murah.”

Aku tertawa. “Kebanting sekali aja udah koma berkepanjangan, ya, Kak?”


Itu juga merupakan godaan saja, soalnya, sebelum membeli ponsel baru, ponsel Kakak memang pernah kebanting dan mengakibatkan ponselnya sering error sampai-sampai membuatnya gerah dan membeli ponsel baru.

Kakak memukul bahuku dan menyuruhku menjauh darinya. Aku tertawa lepas, lalu kembali melanjutkan kegiatan membaca di aplikasi iPusnas.

Selang beberapa minggu, aku membaca buku yang menurutku agak serius berjudul Catatan Pinggir, yang seminggu berturutan nangkring di daftar rekomendasi iPusnas. Yang terlihat waktu itu adalah Catatan Pinggir 4, tapi berhubung aku suka banget sama sesuatu yang berurutan, jadilah aku search Catatan Pinggir 1 dan mulai membacanya.

Masih membaca artikel pertamanya saja, yang terbit di Tempo edisi 13 Maret 1976 yang berjudul Hassan Fathy, sudah berhasil membuat aku senyum-senyum sendiri. 

Pasalnya, di penutup paragraf artikel itu, Goenawan Mohammad mengutip dari Hassan Fathy, arsitek Mesir yang menjadi tokoh utama episode itu, yang juga mengutip dari Dante Alighieri: “Mungkin, apa yang kita sebut modern hanyalah apa yang tak berharga untuk tertinggal sampai tua.”

Itu benar sekali, bukan? Kalimat itu diucapkan berpuluh tahun lalu dan mengejutkannya, sangat relevan dengan keadaan sekarang. Hal yang kita sebut kemodernan adalah sesuatu yang tidak cukup berharga untuk tertinggal sampai tua.

Contoh relevannya, ya, pengalaman yang aku ceritakan tadi. Ponsel.

Zaman sekarang, siapa, sih, yang enggak tahu ponsel? Orang tua renta sampai bayi-bayi baru lahir saja tahu apa itu ponsel. Malah kadang ikut menggunakannya. Apalagi remaja-remaja millenials sekarang yang sepertinya tidak bisa lepas dari ponsel.

Tapi seperti kutipan di catatan pinggir tadi, Mungkin, apa yang kita sebut modern hanyalah apa yang tak berharga untuk tertinggal sampai tua. Terbukti, kan? Ponsel yang kita gunakan enggak cukup berharga untuk tertinggal sampai tua. Bahkan jaringan internet saja terus mengalami pembaruan. 2G, 3G, 4G, sampai yang teranyar 5G.

Banyak yang bilang, barang elektronik itu usia primanya adalah 5 tahun. Lebih dari itu, sudah disebut renta karena performanya yang semakin melambat dan fiturnya yang ketinggalan zaman. Berapa banyak ponsel yang 5 tahun lalu masih hits sekarang sudah tidak terdengar gaungnya?


Merek-merek seperti No*** dan Black*****, contohnya. Pada zamannya, mereka sangat booming hingga rasanya kalau tidak memakai merek itu kita terlihat kampungan. Sekarang, ketika kita memakai merek itu, meskipun sudah diperbarui dan modern, tanggapan kita cuma, “Oh, merek itu masih ada? Udah ada versi androidnya, ya?”

Ini harus kita soroti dengan cermat, sebab jika kita terus-terusan mengikuti kehidupan modern, mungkin bukan hanya merek ponsel saja yang terlupakan. Kita juga akan melupakan hal-hal penting dan mendasar dalam hidup dan budaya kita sebagai manusia.

Mungkin relatablenya kecil, tapi jujur saja, kemodernan mengiring kita ke zaman dimana orang lain menjadi patut diwaspadai, mendekatkan yang jauh, dan semakin menjauhkan yang dekat.

Fenomena orang ramah di sosial media ataupun aplikasi chating, tetapi kaku di kehidupan nyata semakin marak terjadi. Minimnya obrolan yang terjadi di meja makan menjadi sebuah bukti bahwa kata modern tidak selamanya berarti baik.

Lebih dari itu, orang-orang harusnya mulai menyadari bahwa teknologi tidak cukup berharga untuk dibawa sampai tua. Jangan sampai, teknologi membuat kita lupa bahwa kitalah yang harus mengendalikan teknologi, bukan teknologi yang mengendalikan kita. Bahwa seharusnya, modern bisa mendekatkan individu satu ke individu lain, bukannya menjauhkannya.

Setelah membaca Catatan Pinggir, aku tahu bahwa rubrik Catatan Pinggir bukan sekadar kolom ‘sisaan’ seperti perkiraan aku dulu. Catatan Pinggir adalah rubrik berisi tulisan pendek, yang bisa menghasilkan kontemplasi panjang. Atau mungkin, rubrik yang didapat dari kontemplasi panjang dalam sebuah tulisan pendek.

Artikel Terkait