Mahasiswa
1 tahun lalu · 40 view · 3 min baca menit baca · Lainnya 77168_80635.jpg

Catatan 469 Miliar Uang Siluman

Gratifikasi Bupati Kutai Kertanegara

Loa Bakung, 1

kampung bukit, sebatang diri lahir dan kembang
rumpun bambu muda, saksi permainan masa kecil
O lelayang, O tembak peluru koran basah

Loa Bakung, 2

kampung sungai, buruh-buruh penggali pasir mahulu
dari handil bocah kapal melompati papan, bertelanjangan
tetapi, lebih laknat penjilat pemerintah bermental nista

Loa Bakung, 3

kampung danau, lahir sebuah cermin di dasar air
gagak hitam tak lagi mendiami sarang-sarang dahan meranti
anjing kudis mati mengapung, busuk, membengkak; sepertimu

Loa Bakung, 4

kampung batu bara, kristal legam memberontak diperkosa
arus sungai membawa lumpur dari gunung-gunung dikeruk
sebab, anjing-anjing berkulit putih yang menjulur-julur lidahnya

Loa Bakung, 5

kampung perlaluan kapal-kapal besar, penarik ruh kehidupan
segelondongan tubuh kayu, bersusun membentuk baris banjar
beruang loreng tak berbuat apa-apa, pura-pura tak tahu-menahu

Loa Bakung, 6

kampung ini adalah tempat si batang tubuh pencerita
inginkah bermukim waktu dan memeranakkan puisi-puisi di sini?
kuajak kau bersampan dalam urat-urat nadi anak kampung


***

Saya menulis catatan ini, setelah urung bertemu Dr. Ahmad Dardiri, MA, dosen pembimbing tercinta, untuk urusan paling mulia di sebuah perguruan tinggi: Skripsi.

Betapa kuliah, mau tak mau, suka tak suka, harus segera rampung setelah menerima desakan dan ultimatum di sana-sini.

Saya, mahasiswa semester sekian yang lahir dan menamatkan sekolah dasar di Samarinda, Kalimantan Timur, sebelum akhirnya menambatkan pilihan belajar-bersekolah menamatkan sekolah menengah-atas dan menempuh strata I di daerah lain. Mudik atawa pulang kampung, bagi saya, adalah pulang ke Loa Bakung, nama kelurahan yang berhaluan langsung dengan sungai Mahakam, tempat tinggal saya sekarang.

***

Beberapa bulan silam, warga Kalimantan Timur sempat mempergunjingkan kasak-kusuk kasus gratifikasi terkait perizinan proyek di Kabupaten Kukar yang dilakukan oleh kepala daerahnya sendiri, Rita Widyasari.

Menurut penelusuran tim Tirto.id, dalam kurun waktu hampir 7 tahun, Rita, Khairudin, dan tim 11 "ngembat" uang siluman. Tak tanggung jumlahnya, Rp469 miliar!

Keserakahan kepala daerah, hal yang sebenarnya, tak membuat kita terkejut.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (21/2/2018), Rita diduga menerima uang siluman tersebut dari sejumlah perusahaan –yang paling banyak, tentu, perusahaan Batubara, yang mengajukan izin. Pengajuan izin ini tidak langsung diajukan ke Rita melainkan melalui Khairudin.

“Perbuatan Terdakwa I [Rita] bersama-sama Terdakwa II [Khairudin] menerima gratifikasi dalam bentuk uang yang seluruhnya sebesar Rp469 miliar haruslah dianggap suap karena berhubungan dengan jabatannya dan berlawanan dengan kewajiban atau tugas Terdakwa I selaku Penyelenggara Negara,” tulis jaksa dalam surat dakwaan.

Liputan lebih rinci mengenai kasus ini, bisa dibaca dan disimak dalam seri investigasi yang ditulis oleh tim Tirto.id.

***

Kalimantan Timur hari ini, khususnya di sebagian Kabupaten Kutai Kartangera, adalah surga bagi para investor untuk menambang, mengeruk, mengeksploitasi habis-habisan sumber daya alamnya. Tanpa memikirkan efek sosial-geografis yang bakal terjadi kemudian.

Beberapa waktu lalu, untuk suatu urusan, saya berkesempatan pulang. Saya juga berkesempatan untuk "mlaku-mlaku".

Dan hal yang saya temui, ketika ingin bersilaturahmi ke Handil, kampung halaman Ibu, nyaris sepanjang jalan Kecamatan Sanga-Sanga sampai ke Dondang, yang dilalui, rusak berat, bahkan menurut saya, tak layak dilalui kendaraan bermotor. Beberapa jalan umum, jalan yang lazimnya dipergunakan masyarakat, justru dialihkan, dipungkas, demi lalu-lintas truk-truk besar Batubara.

Masyarakat asli jadi anak tiri di tanah sendiri.

Begitu pula jalan utama dari Sanga-Sanga menuju ke Kelurahan Pendingin, tempat Bapak kini sementara tinggal (sejak 10 tahun terakhir, ia tinggal di daerah ini demi pekerjaan) jauh lebih ekstrem. Jalannya membuat siapa pun tak henti-henti mengumpat. Entah di mana lagi kerusakan-kerusakan, terutama jalan umum --jalan yang kerap dilintasi masyarakat kota, dalam kondisi mengenaskan. Rusak. Berlubang. Hujan berlumpur, kemarau berdebu.

***

Ke mana mesti mengadu? Melapor ke pihak berwenang, tak sekali dua kali. Protes? Sudah juga, justru preman orang-orang PT siap pasang badan membela tuannya. Tanggapan pemerintah soal regulasi? Entahlah.

Begitu pula, seperti yang bisa dilihat dan dijumpai dengan mata kepala sendiri, bekas lahan galian batubara yang ditinggalkan begitu saja. Membuat kubangan-kubangan besar tak berpenghuni. Pemandangan ini lazimnya dapat dijumpai di jalan penghubung Samarinda - Balikpapan via Handil.

Pemerintah daerah dan para cukong kadung bergumul dalam satu selimut: yang penting sama-sama enak, sama-sama puas, masa bodoh orang di luar kamar.

***

Urusan daerah, betapa pun peliknya, barangkali bukan sepenuhnya urusan saya. Namun belakangan, sejak skripsi tak kunjung selesai, saya jadi doyan misuh-misuh.

Ampuni saya, ampuni

Artikel Terkait