Berawal dari kehidupan hunter and gatherer. Manusia harusberburu ketika lapar, pergi ke sungai ketika haus, dan membuat pakaian sederhana ketika perlu perlindungan dari cuaca. Pada periode ini, manusia saat ingin memenuhi kebutuhannya tidak beranjak jauh dari eksplorasi alam.

Bertahun-tahun kemudian manusia baru mengetahui bahwa kemampuannya dalam menjelajahi alam memiliki keterbatasan. Kadang ia tepat mendapatkan apa yang ia inginkan, tetapi kadang pula rasa putus asa memasuki alam bawah sadarnya karena tidak berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya. Persamaan nasib demikian melahirkan sebuah sistem transaksi pertama kali, yang kita sebut dengan barter.

Sistem barter tidak serta-merta diterima oleh manusia. Terdapat mindset bahwa barter mencemarkan kultur sosial manusia kala itu, yakni dikenal tangguh akan menaklukan alam.

Selain itu, ketakutan juga sedikit muncul dalam melakukan sistem barter. Terkadang kedua barang memiliki perbedaan nilai yang jauh, sehingga salah satu pihak merasa dirugikan. Kesulitan dalam menentukan standar nilai tukar barang membuat barter diiringi perselisihan dan bentrokan.

Hakikat manusia ialah makhluk sosial. Artinya, manusia membutuhkan bantuan orang lain. Keterbatasan dan ketidakmampuan melekat pada diri manusia. Dengan menafikan segala kekurangannya, akhirnya barter diterima dan dijalankan oleh manusia. 

Di tengah mengalirnya sistem barter, muncul apa yang dinamakan dengan uang. Kembali terjadi pro-kontra dalam transisi sistem pembayaran menggunakan uang. Ketakutan kembali timbul, terutama para penyedia jasa penampungan barang-barang yang ingin ditukar, yang mana mereka berkumpul di Pasar Barter.

Masyarakat masih kental dengan budaya barter. Uang yang masih belum memiliki peresmian secara universal menjadikannya belum mampu masuk ke dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Bahkan Adolf Hitler pada perang dunia ke I kembali menggunakan sistem barter untuk mengumpulkan dana perang karena produksi uang yang mengalami kelangkaan.

Pasca perang dunia II, beberapa negara yang mengalami krisis moneter dan kehilangan nilai mata uangnya pun kembali menerapkan sistem barter sebagai akses perekonomian. Di ttik ini menjadi bukti bahwa penemuan uang tidak lantas mematikan sistem barter yang telah digunakan oleh seluruh dunia selama berabad-abad.

Lama-kelamaan, manusia menyadari akan efisiensi penggunaan uang. Ketimbang sebuah kantung beras ataupun seekor ayam, uang lebih praktis dibawa ke mana pun ketika ingin melakukan proses tukar-menukar. Uang yang memiliki harga nilai mampu menyimpan kekayaan seseorang, tidak kedaluwarsa dan rusak walaupun dalam jangka waktu yang lama. Saat setiap negara meresmikan mata uangnya masing-masing, di saat itulah sistem pembayaran berbasis barter memudar dan hilang secara perlahan.

Kini, sistem pembayaran kembali memasuki masa peralihan. Penggunaan uang sebagai medium transaksi akan segera digantikan. Baik uang kertas maupun uang logam yang identik dengan transaksi tunai dirasa memiliki banyak kekurangan. Seperti pencurian dan perampokan, peredaran uang palsu, hingga pembiayaan dan pengelolaannya yang dibilang cukup tinggi.

Direktur Departemen Pengelolaan Uang Bank Indonesia, Eko Yulianto, mengatakan, dalam setahun, untuk mencetak uang dan mendistribusikannya membutuhkan biaya mencapai 3,5 trilliun rupiah. Terlebih lagi, sepanjang tahun 2017, BI telah memusnahkan Uang Tak Layak Edar (UTLE) sebanyak  7,7 miliar bilyet atau setara Rp254,1 trilliun.

Berdasarkan data dalam Laporan Perekonomian Indonesia, pada tahun yang sama, tercatat pula BI memusnahkan uang logam sebanyak 90 juta keping atau senilai Rp29,1 miliar. Dan pada akhir tahun, Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) malah mencetak uang kertas sebanyak 11 miliar bilyet, dan uang logam sebanyak 2,29 miliar keping. 

Deretan data ini membuktikan tidaklah sedikit budget dalam perputaran uang di Indonesia. Problematika yang hanya sekadar uang lusuh, rusak, maupun percetakan emisi uang baru tidak boleh kita remehkan.

Strategi telah diupayakan. Bank Indonesia sebagai garda terdepan dalam hal kebijakan moneter sebenarnya telah berkontribusi dalam menjawab masalah demikian.

Pada bulan Juli 2014, telah dicanangkan Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), yaitu gerakan agar masyarakat dapat berangsur-angsur dalam bertransaksi sedikit menggunakan uang tunai (lesscash). Dengan fokus akhir, kebiasaan lesscash ini dapat menjadi cikal bakal terciptanya cashless society, yaitu masyarakat yang memang mengandalkan instrumen non-tunai dalam segala jenis transaksi.

Namun sejarah terulang kembali, sebuah metode baru yang menggantikan sistem yang melekat di masyarakat kembali mendatangkan ketakutan.

Ya, masyarakat Indonesia secara mental memang belum siap dalam menerima sebuah revolusi secara tiba-tiba. Berdasarkan data statistik World Bank, pemakaian uang tunai di Indonesia masih tinggi 90% dan non-tunai 10%. Adapun survei Bank Indonesia sendiri, transaksi non-tunai berada di angka 24% dan tunai masih sebanyak 76%.

Terbatasnya alat yang dimiliki para pengusaha menegah ke bawah dalam mendukung pembayaran non-tunai dan ketidaktahuan dalam mengaplikasikan program oleh masyarakat awam menjadikan alasan kebergantungan akan prioritas uang kartal masih tinggi.

Selain itu, isu digitalisasi teknologi yang mengeliminasi peran manusia makin menambah hambatan dan tugas pemerintah. Seperti pengaktifan electronic toll (e-toll). Alhasil, otomatisasi seluruh gerbang tol menggunakan sistem digital ini membuat 1350 karyawan terpaksa harus dialihfungsikan. Namun pada hakikatnya, mereka tetap berpotensi kehilangan pekerjaan.

Ketakutan yang mengakar di dalam diri masyarakat menjadi hambatan terciptanya cashless society. Padahal, cashless society membuat perputaran uang lebih cepat sehingga dapat menekan pembiayaan pengelolaan rupiah. Cashless society juga membuat akses masyarakat lebih luas masuk ke dalam jaringan sistem, karena pendataan yang berbasis digital terangkum dalam sebuah database. Tentu ini menambah nilai keamanan dan efisiensi dalam transaksi lebih tinggi ketimbang menggunakan uang kartal (kertas dan logam).

Pun dalam hal manipulasi, cashless society sudah tentu dapat terhindar dari peredaran uang palsu. Hanya membawa sejumlah kartu dan mengingat password pinnya jelas lebih praktis daripada harus membawa sejumlah uang dan menunggu kembaliannya. Belum lagi jika kembaliannya berupa uang logam yang sebagaian masyarakat kurang memperhatikan uang ini dalam bertransaksi. Sisi praktis ini pun meminimalisasi tindakan kriminal pencurian, perampokan, penjabretan,dan sejenisnya.

Berangkat dari berbagai keuntungan tersebut, sudah sepatutnya kita bersiap akan peralihan sistem transaksi kita. Ketakutan-ketakutan yang mengakar di pemikiran kita hanyalah imajinasi, yang selalu menghantui setiap transisi peralihan metode baru seperti beberapa periode sebelumnya (budaya hunter, gatherer, dan barter).

Belajar dari sejarah, ketika solusi telah ditemukan, lambat laun sistem baru pun akan diterima. Ditambah arus globalisasi dan revolusi industri, cashless society pasti akan terwujud. Semua itu demi perubahan lebih baik sistem pembayaran kita di masa depan.