Hampir setengah tahun sejak staf khusus milenial menetas dan muncul di hadapan publik. Namun sangat disayangkan, tumbuh kembang para staf milenial ini lebih banyak menuai kritik daripada apresiasi. 

Memang benar, apa yang orang-orang katakan, tidak ada urgensi mendesak terkait pembentukan staf khusus presiden “milenial” ini. Agaknya itu dianggap sebagai pemborosan anggaran dan “bagi-bagi jabatan saja”.

Banyak dari kita tentu dibuat bingung mengenai tugas pokok dan fungsi dari staf khusus ini. Karena kalau kita lihat saja ya, pada Pasal 18 ayat (1) Perpres Utusan Khusus Presiden, Staf Khusus Presiden, dan Staf Khusus Wakil Presiden, jelas dikatakan bahwa Staf Khusus Presiden melaksanakan tugas tertentu yang diberikan Presiden di luar tugas yang sudah dicakup dalam susunan organisasi kementerian dan instansi pemerintah lainnya.

Bahwa kemudian orang-orang bertanya apa sebenarnya yang menjadi tugas yang belum dicakup susunan organisasi kementerian dan instansi pemerintah lainnya adalah hal yang seharusnya dijawab oleh pemerintah, tempo hari. Hal tersebut guna memberikan pemahaman dan tidak menimbulkan stigma terhadap staf khusus yang dibentuk ini.

Seperti yang telah kita lihat mengenai pemberitaan tentang salah seorang staf khusus “milenial” yang memberikan surat berkop sekretaris negara kepada seluruh camat untuk mendukung PT Amartha Mikro Fintek sebagai relawan dalam penanganan covid-19 di desa-desa.

Apa urgensinya gitu loh, seorang staf khusus yang memberikan arahan kepada camat. Padahal kan ada Kemendes PDTT yang sudah punya domain tersendiri mengatur penanganan covid-19 sesuai ruang lingkup tugasnya. Bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendes PDTT, yakni dengan mengeluarkan Protokol Penanganan Wabah Virus Covid-19 yang tertuang dalam Surat Edaran Menteri Desa PDTT tentang Desa Tanggap Virus Covid-19.

Ada-ada saja ya staf khusus yang satu itu.

Kejanggalan lainnya dapat kita lihat saat Billy Mambrasar menyatakan bahwa dia bersama staf khusus lainnya sudah mengambil peran melalui bergabung dengan Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Lagi-lagi saya berpikir, kok para staf milenial ini kebanyakan numpang di lapak orang lain saja ya!

Belum lagi tentang quotes poster BNPB yang sampai viral dari Belva Devara. Begini quotesnya, “Bukan waktunya saling menjatuhkan atau saling membully, ayo bertanya pada diri sendiri apa yang bisa saya lakukan untuk negeri. Menyalakan lilin lebih baik daripada menyalahkan kegelapan”. 

Sontak saja quotes itu menjadi serbuan berbagai elemen masyarakat. Ya karena kita tahu saja, staf tersebut seakan-akan mengambinghitamkan orang lain di tengah-tengah upaya pemerintah yang dinilai lamban sejak kemunculan covid-19 ini.

Intinya, masa sih staf khusus, dengan segala tunjangan fasilitas yang baik, bisanya lompat sana-lompat sini. Makanya, dari awal itu harus tegas dulu batasan-batasan kewenangan jabatan yang dibentuk. Kalau seperti ini kan jadi menimbulkan kecurigaan dan ketidakjelasan akan tugas, pokok, dan fungsi yang mereka emban.

Saran saja nih buat para staf khusus, apalagi yang “milenial”, habiskan anggaran serta fasilitas yang telah disiapkan untuk kalian dengan sangat maksimal. Jangan sampai kalian hanya menjadi bahan pergunjingan di tengah-tengah masyarakat.

Sejalan dengan itu, tak kalah penting adalah harus dibangunnya good governance yang baik dari para staf khusus. Lembaga Administrasi Negara mengartikan good governance ini sebagai proses penyelenggaraan kekuasaan negara dalam melaksanakan penyediaan public goods and service.

Melihat realitas yang ada saat ini, dapat dinilai bahwa para staf khusus, apalagi staf khusus milenial ini, belum menerapkan good governance. Terbukti dengan adanya indikasi conflict of interest yang santer dipermasalahkan serta orientasi pada konsensus saat pengambilan keputusan yang mereka buat.

Harapan saya, para staf khusus dengan berbagai latar belakang pendidikan yang mumpuni harusnya dapat melakukan prinsip-prinsip good governance. Sehingga penyelenggaraan tugas dan fungsi dapat berjalan solid, bertanggung jawab, efektif serta efisien dengan menjaga “kesinergisan” interaksi yang konstruktif di antara domain-domain negara.

Muaranya ya, seperti apa yang telah dikatakan Presiden saat memperkenalkan staf khusus “milenial”, bahwa para para staf khusus akan memunculkan pula innovative governance.

Benar, harusnya para staf khusus milenial ini ya mampu memberikan aspirasi, pandangan yang out of the box kepada Presiden untuk dapat direaliasikan. 

Ayolah! Para staf khusus milenial ini kan sudah punya jam terbang yang mumpuni pada berbagai latar belakang pekerjaan sebelumnya, makanya mereka dipilih oleh Presiden. Janganlah kalian sia-siakan amanah yang diberikan dengan menimbulkan berbagai polemik.

Namun, di samping itu, Presiden pun harus dapat bertindak tegas terhadap para staf khusus yang telah dipilihnya dengan melakukan evaluasi berkala terhadap segala tindak-tanduk staf khusus tersebut. Karena masyarakat juga sudah bosan melihat kontribusi yang minim dari para staf khusus ini. 

Kalau perlu, setelah masa pandemi covid-19 ini berakhir, segera saja dilakukan perubahan komposisi staf khusus guna adanya penyegaran.