Setelah sekian lama belajar menyetir mobil melalui kursus privat, saya tak lantas menjadi penakluk jalanan.

Selain ilmu dan teknik dasar, mengendarai mobil ternyata butuh nyali dan tekad yang kuat. Semua teori yang sudah diajarkan ternyata belum semua meng-cover kebutuhan saat harus berhadapan dengan liku-likunya jalan umum. Banyak yang harus dipelajari sendiri seiring dengan banyaknya jam berkendara.

Sayangnya, hingga dua tahun sejak saya memegang lisensi kelulusan kursus menyetir, jam berkendara saya bisa dihitung dengan jari. Itu pun bukan menyetir secara mandiri, tetapi didampingi.

Ada dua hal yang menjadi kendala bagi saya waktu itu. Yang pertama adalah susahnya mengatur rem-kopling-gas secara nyaris bersamaan saat harus berhenti di tanjakan. Ya, mobil yang saya pakai tipe manual. Itu jelas butuh teknik dan kelincahan kaki dalam injak-menginjak pedal.

Yang kedua adalah memarkir mobil dengan baik dan benar. Selain kelincahan kaki, mata juga harus secara awas menengok ke sana-kemari.

Kesulitan itu membuahkan rasa takut. Kadang ketakutan tak hanya berasal dari saya, tetapi justru lebih besar muncul dari orang sekitar. Rasa kurang percaya dan meragukan kemampuan sopir pemula makin menciutkan nyali untuk sekadar mencoba. Daripada berdebat, memang sepertinya lebih enak jadi penumpang saja. Begitulah, ambil saja mudahnya.

Saat pindah ke Sorowako, daerah tambang yang letaknya berbukit-bukit itu, saya mulai mengumpulkan tekad kembali. Sedikit demi sedikit. Selain karena kebutuhan, bisa menyetir mobil adalah semacam gengsi sosial. Di sini, ibu-ibu bisa menyetir sendiri adalah hal yang biasa. Yang nggak biasa adalah yang nggak bisa berkendara. Rempong soalnya. Minimal bisa mengendarai sepeda motor.

Di sini tak ada kendaraan umum semisal angkot untuk area-area dalam kota. Adanya ojek. Anak-anak saya bersekolah menggunakan layanan antar-jemput bis yang disediakan perusahaan. Jika kepepet untuk mengantar-jemput sendiri masih bisa saya lakukan pakai motor.

Curah hujan di Sorowako cukup tinggi. Langit cerah tiba tiba mendung lalu hujan deras, itu sudah biasa. Dan saya punya anak bayi. Membawa bayi naik motor dalam kondisi hujan sementara ada mobil nganggur di garasi adalah suatu hal yang mengaduk perasaan. Nah, dari itulah saya mulai membulatkan tekad untuk segera bisa dan berani menyetir sendiri. Situasi  memang memaksa saya untuk mengumpulkan nyali yang tersisa.

Lingkungan sekitar rumah saya waktu itu sangat cocok dijadikan area  belajar berkendara. Perumahan perusahaan yang mepet hutan, Oldcamp namanya. Meskipun tak berpagar, jarak masing-masing rumah dengan jalan aspal rata-rata agak jauh, terpisahkan halaman yang luas. Selain sepi, kondisi aspal jalanan lumayan bagus. Banyak tanjakan dan kelokan. Lumayan  untuk  melatih skill awal.

Kerepotan pertama saya adalah memarkir mobil di garasi depan rumah. Ndilalah, posisi rumah nangkring di area yang lebih tinggi dari jalan aspal. Jadi dari jalan aspal, musti belok ke drive way yang agak curam. Kira-kira sepuluh meter baru bisa belok ke garasi.

Menyadari bahwa di Sorowako tak ada tukang parkir bahkan di tempat-tempat umum sekali pun, saya mengasah ketrampilan memarkir sendiri secara bertahap. Di garasi rumah sendiri.

Awalnya saya hanya berani parkir maju. Karena untuk parkir mundur cukup sulit untuk pemula waktu itu. Bayangkan garasi saya letaknya beberapa meter dari drive way yang kemiringannya 15 derajat dan berbatu-batu kecil.

Masalahnya  di Sorowako kita harus terbiasa dan bisa memarkir kendaraan secara mundur. Di tempat umum, seperti parkiran rumah sakit, sekolah dan lain-lain ada rambu tertulis "Reverse Parking". Dilihat dari kacamata safety, cara parkir begini memang lebih aman.

Mau tidak mau saya harus belajar. Lalu saya mulai memberanikan diri untuk memarkir mobil dengan cara berbeda. Melatih ketangkasan di jalan menanjak berbatu, memundurkan sambil berbelok. Cukup sulitlah bagi pemula. Belum lagi jika bertepatan dengan jadwal kedatangan kera maccaca hitam yang keluyuran di area sekitar rumah. Sudah deg-degan, ditambah lagi nervous dilihatin beberapa pasang mata liar.

Sebelum saya lancar memarkir mobil saya di garasi, ketika ke luar rumah saya hanya mau melewati rute dan area parkir yang mudah. Bulan-bulan pertama saya tak berani lewat pasar. Selain  ramai kendaraan lalu lalang, banyak kendaraan parkir di kanan kiri jalan. Saya pun tak berani lewat di area pemukiman padat, yang jalanannya sempit tapi banyak speed bump (polisi tidur). Bagi pemula, tiba-tiba berpapasan dengan mobil di jalanan sempit itu bisa panas dingin dibuatnya.  

Jadi pilihan awal saya adalah rute-rute yang saya yakini kemudahannya. Selain jalanan dalam kota yang luas dan relatif sepi, saya memilih area yang menyediakan area parkir yang luas dan rata.

Namun,  dengan perhitungan seperti itu tetap saja ada faktor X. Beberapa kali kejadian kendaraan yang parkir ternyata banyak sekali dan ndilalah mobil saya dalam posisi sulit. Ndilalah-nya lagi tak ada tukang parkir.

Tak ada tukang parkir, spion pun jadi. Begitulah.

Lama-kelamaan skill menyetir, termasuk memarkir, bertambah seiring dengan seringnya berkendara. Bertahap, sedikit demi sedikit. Meski bukan level mahir, tapi cukup lah untuk modal hidup di rantau.

Sekali lagi, the power of kepepet adalah koentji. Di luar teori, perlu kondisi-kondisi tertentu yang memaksa kita untuk terus belajar dan berlatih.

***

Kisah saya di atas tentang menyetir hanyalah sebuah contoh bagaimana  dalam situasi terdesak justru bisa memunculkan ide baru, kreativitas, cara berpikir, keberanian, atau apa pun  di luar teori dan kebiasaan yang sudah dijalani sebelumnya.

Seperti di masa pandemi ini. Hampir semua orang merasakan kondisi sulit. Di sana sini banyak keluhan. Pandemi menempatkan banyak orang dalam posisi kepepet. Terdesak kebutuhan, terdesak peraturan, dan lain-lain. Segala macam variabel keluhan, dari yang lucu, miris, sampai tragis. Tapi di sisi lain, banyak kreativitas yang tercipta. Banyak juga cerita inovatif dan inspiratif dalam mengatasinya, yang tak jarang terkesan dramatis.

Saya sekarang sedang ikut belajar di kelas menulis secara online. Keikutsertaan saya ini sadar atau pun tidak kadang menempatkan saya pada posisi kepepet. Mengumpulkan tugas menulis misalnya. Deadline seringkali bisa memaksa saya untuk mencari ide tulisan lalu mengeksekusinya hingga jadi suatu tulisan. Menarik atau tidaknya, tak jadi soal karena saya anggap itu sebuah proses.

Berada pada situasi kepepet memang tidak menyenangkan. Tetapi jika kita menyikapinya secara positif, justru bisa jadi pemicu untuk memunculkan kreativitas dan cara berpikir. Bahkan bisa jadi kesempatan untuk  memeras segala daya upaya dalam menaklukkan kesulitan. Memang bukan perkara mudah. Antara niat, nyali, tekad, usaha, dan doa harus dikombinasikan sedemikian rupa. Jauh lebih sulit dari sekadar teori.

Sebab itulah ada baiknya dalam hal tertentu kita perlu menempatkan diri pada situasi kepepet. Bukan dalam konotasi negatif ya, semisal sengaja menunda pekerjaan hingga deadline atau bermalas-malasan hingga sehari sebelum ujian. Bukan begitu. Kalau melihat paparan di atas, ikut serta dalam kelas belajar menulis adalah salah satu contoh kesengajaan untuk mencari-cari situasi kepepet.

Bagaimana, apakah Anda tertarik mencari situasi kepepet bagi ide, kreativitas, dan keberanian yang terhambat?