Imajinasi kreatif dalam membuat foto ala Darwis Triadi langsung membumbung tinggi saat memijakkan kaki di Kopi Daong, lokasi wisata yang viral di media sosial karena menyajikan konsep tempat ngopi outdoor dengan sajian hutan pinus sebagai menu utamanya.

Minimal saat keluar dari sini, saya punya satu atau dua foto keptur andalan yang nggak kalah instagrammable seperti orang-orang yang punya andil menjadikan tempat ini begitu viral.

Tapi imajinasi memang nggak selalu sejalan dengan kenyataan. Saat itu, jangankan untuk mengabadikan momen yang benar-benar menunjukkan keindahannya, bisa selfie muka utuh tanpa bocor dengan kehadiran orang lain saja sulit.

”Cari surga kok malah ketemu neraka?” begitu kira-kira kalimat paling lebay yang pas menggambarkan sambutan Kopi Daong menerima kehadiran perdanaku di sana.

Tapi jangan ditanya bagaimana gambaran detail soal surga dan neraka seperti apa, wong saya juga belum pernah ke sana. Ini hanya perumpamaan sekaligus gambaran betapa menyiksanya kalau salah waktu berkunjung ke Kopi Daong.

Tangan ini rasanya memang ‘gatal sekali’ mencantumkan judul “Cari Surga Ketemu Neraka di Kopi Daong” di tulisan ini. Cerita pahit dari sebuah kegagalan total membawa oleh-oleh keindahan Kopi Daong, Pancawati, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lokasi wisata berjarak sekira 75 km dari Jakarta dan bisa dicapai dalam waktu 1,5 jam menggunakan mobil.

Nah Kopi Daong ini sedang naik pamor gegara foto-foto 'surga tersembunyi' yang berseliweran di Instagram maupun Facebook. Saya pun jadi penasaran, seberapa indahnya sih? 

Dan ceritanya beberapa minggu yang lalu, saya bersama puluhan anggota komunitas motor saya, tergoda menyambangi Kopi Daong, manasin mesin motor sambil ‘cuci mata’.

Usai sarapan bareng di salah satu franchise ayam goreng ternama di daerah Ranco, Jakarta Timur, rombongan beranjak melalui Jalan Raya Bogor hingga Pancawati. Sampai lokasi, ternyata akses masuk ke kawasan tersebut sudah dipenuhi antrian mobil berplat Jakarta yang berbaris rapi di pintu selamat datang. 

“Wow, banyak juga warga kurang piknik yang menuju Kopi Daong,” pikirku. Apalagi memang ini adalah weekend, waktunya orang berlibur melepas stres.

Benar saja! Usai mata melotot melihat antrean mobil, sekarang giliran mulut menganga terpana lihat kenyataan yang terjadi. Antrean orang mengular panjang hanya sekadar mau ngopi sambil menikmati suasana segar alam hutan pinus yang terpampang persis di bibir jurang.

“Duh, dalam kondisi pandemi COVID-19 harus berkerumun seperti ini?” Pertanyaan itu yang paling pertama nongol di kepala. Bukan cuma di kepala saya saja, tapi juga di pikiran teman-teman lainnya.

Di kanan-kiri banyak spanduk peringatan mematuhi protokol kesehatan seperti harus pakai masker dan selalu jaga jarak, terpampang dengan jelas. Spanduk pesan sosial yang dibuat oleh berbagai elemen yang punya kepentingan, mulai dari Pemerintah Provinsi, Kabupaten, Kepolisian, bahkan beberapa tokoh-tokoh masyarakat yang mungkin sangat dikenal oleh warga sekitar.

Oh iya, saya lupa kalau sebentar lagi Pilkada serentak. Momen seperti ini memang sangat pas untuk promosi memikat simpatisan sebagai modal tabungan suara di hari pemilihan nanti. 

Woy! Nggak usah julid, ini bukan tulisan yang ngomongin politik, tapi soal gatot alias gagal total untuk ngopi-ngopi cantik sembari bermedia sosial di Kopi Daong. 

Oke lanjut, untuk masuk ke dalam Kopi Daong siang itu memang terbilang cukup ketat. Jangan harap bisa melewati gerbang besar yang terbuat dari bambu kalau nggak ada masker menutupi wajah. Malah kita harus cuci tangan terlebih dulu di tempat yang sudah disediakan di pojok sebelah kanan gerbang, lengkap dengan sabun cairnya.

Saya melihat penerapan standar protokol Kesehatan seperti ini kok cuma jadi sekadar basa-basi birokrasi doang ya? Mana bisa jaga jarak dengan kondisi orang padat berkerumun seperti ini? 

Beberapa teman lain akhirnya urung meneruskan niat menikmati surga di Kopi Daong. Sementara saya dan tiga orang lainnya memilih tetap nekat. “Kadung sudah sampai di sini, apa iya saya harus mundur?” timpalku dalam hati.

Singkat ceritanya saya sudah berada di dalam Kopi Daong, setelah berpeluh dalam antrean, tetap pakai masker, dan hand sanitizer yang bolak-balik saya tuangkan ke tangan, modal tambahan keyakinan diri tetap melangkah mengusung misi “naik level dari netizen menjadi selebgram, asyiiik.

Makin sore antrean makin mengular. Dari kejauhan terdengar suara pelayan menggunakan megaphone memanggil nama pengunjung yang pesanannya sudah ready. “Bapak Andre dari Jakarta nomor 17, pesanannya sudah siap,” dengarku.

Dalam hati saya langsung menarik kesimpulan, pengunjung yang disebut namanya barusan kemungkinan order menunya sudah sejak dua atau tiga jam yang lalu. “Waduh, kalau pesan sekarang kapan dipanggilnya? Batal! Nggak perlu mesan makan minum di sini, cukup nikmati suasana aja,” gumamku. 

Saya pun berjalan mengeksplor Kopi Daong, berharap menemukan spot foto yang bisa saya jadikan sebagai tempat mengabadikan momen sekaligus bahan postingan di Instagram yang follower-nya belum juga genap 1.000, bukti bahwa saya pernah ke Kopi Daong. Istilahnya I was Here!

Jujur, memang banyak sekali spot-spot yang mendukung niatan tersebut. Tapi alih-alih bisa bikin swafoto dengan kondisi yang clear, cari tempat untuk duduk saja susahnya minta ampun.

Yang pertama terlihat adalah lapangan mini dengan hamparan rumput sintetis berwarna hijau stabilo, sepertinya asyik untuk ber-swafoto dengan pose rebahan di sana. “Hanya untuk anak kecil, orang dewasa tidak boleh masuk!” Ups, terbaca dengan jelas tanda saya dilarang masuk ke sana.

Saya mencoba untuk masuk lebih jauh lagi, tentunya dengan kewaspadaan tingkat tinggi agar tidak bersentuhan dengan pengunjung lainnya yang juga punya niatan sama, menaikkan level dari netizen menjadi peng-upload konten.

Di sisi agak ke bawah ada jalan setapak yang sepanjang pinggirannya tersedia ornamen-ornamen unik mendukung orang melakukan swafoto. Ada satu ornamen lucu berbentuk sarang burung menarik minat saya mengambil foto unik di situ. Sayang rencana itu juga urung terlaksana melihat pengunjung saling berebut spot.

Di bagian lahan lebih tinggi terdapat deretan bangku dilengkapi dengan meja kayu menawarkan view persis menghadap jurang dikelilingi tegak pohon pinus berdiri, menjadi spot paling keren dan paling mendukung hasil foto yang sangat instagrammable.

Tapi jangan harap kebagian tempat kalau datangnya saja sudah siang. Mereka yang  beruntung kebagian tempat ini bisa jadi kena amnesia, lupa ingatan untuk berdiri. Pesan kopi segelas, ngabisin-nya berjam jam, yang pegal ya mereka yang ngantre.

Ah sudahlah! Sepertinya memang saya kurang beruntung kali ini, pengalaman perdana di Kopi Daong begitu mengecewakan. "Tak ada surga di sini, yang ada malah ngasih peluang diri sendiri terpapar virus yang ujungnya bakal jadi neraka," umpatku kesal.

Tak ada sekira 30 menit di dalam Kopi Daong, saya akhirnya memutuskan untuk keluar dan bergabung dengan kawan-kawan lain yang ogah masuk dan memilih ngopi di taman kuliner dadakan tidak jauh dari lokasi Kopi Daong.

Manis dan segarnya minuman boba serta uniknya jajanan corndog yang memadukan sosis dengan topping cokelat leleh ternyata jauh lebih pas disebut surga hari itu. Apalagi si teteh penjual boba-nya juga cukup menarik perhatian, jadilah ghibah massal ala laki-laki kurang piknik seperti kami.

Pelajaran dari perjalanan kali ini adalah, jangan terlalu mudah percaya apa yang viral di media sosial tentang tempat wisata. Kadang kenyataannya tak seindah yang tampak dari fotonya.

Selain itu, jangan pernah salah memutuskan hari serta waktu keberangkatan. Ini sekadar saran saja, kalau mau menikmati suasana di Kopi Daong dengan cukup puas dan sesuai ekspektasi, jangan datang saat weekend atau libur nasional, pilih hari biasa saja dan berangkat harus lebih pagi.

Kalian mungkin masih bisa merasakan dinginnya kabut yang menyelimuti kawasan hutan pinus, bahkan lebih beruntung lagi karena mungkin bisa berinteraksi dengan penghuni lain hutan pinus Pancawati, Bogor, gerombolan makhluk berbulu yang terkadang suka jahil mengutil barang-barang bawaan kalian. 

Oh iya, satu lagi, cita rasa kopi di sana biasa saja, tidak ada yang istimewa, nggak perlu jauh-jauh ke Kopi Daong, karena di Jakarta juga banyak kok.