Jakarta - Harapan seseorang "cari muka" untuk menciptakan kecerdasan emosi antara kedua belah pihak baik satu atau lebih dan "baik secara kelompok maupun secara individu" sehingga terjalin komunikasi yang harmonis demi kepentingan dan tujuan yang akan dicapainya. Sebetulnya cari muka itu tidak pernah diungkapkan secara transparan atau terus terang, namun terkadang hanya persepsi orang lain saja terhadap diri kita dengan "melalui aktivitas dan kegiatan lainnya seperti mulai dari gaya bahasa, perilaku, tindakan, perbuatan" dan lain sebagainya.

Dalam berbagai macam kesempatan banyak hal yang dilakukan orang membaca peluang kepada seseorang yang dituju seperti "pimpinan maupun pejabat atau orang-orang dianggap penting" yang mampu membuat dirinya nyaman demi keperluan pribadi "sesuatu". Semua bisa terjadi di tempat-tempat tertentu baik instansi perusahaan swasta, milik pribadi, pemerintahan, kegiatan lain yang berhubungan dengan organisasi atau masing-masing kelompok. 

"Ilustrasi cari muka" mengikat hubungan batin dan jiwa seseorang untuk mengambil hatinya orang tersebut maksudnya supaya tertarik apa yang akan dilakukan oleh sang pencari muka. Seperti ingin mencari tau makanan kesukaannya, hal yang menjadi kebiasaannya, tempat tinggalnya dimana, sama siapa saja teman dekatnya, dan intinya untuk menyesuaikan diri "terhadap orang pemberi muka" walaupun sejujur-nya sedikit memaksa untuk melakukannya hal-hal yang bertentangan dengan dirinya "pasti dilakukan juga demi untuk meraih yang diinginkannya".

"Study kasus satu" anggap saja sih A dalam dunia politik akan terjun untuk mengambil hati rakyat biar terpilih menjadi pejabat di pemerintahan sedangkan sih B mendukung calon kepala daerah yang akan bertanding menjadi anggota Dewan, Bupati maupun Gubernur. Dengan tujuan yang sama "meminta dikasihani namun bukan jadi pengemis ya",karena kegiatan disini harus ada timbal baik bahwa pendukung tersebut bisa saja "mempertahankan posisi jabatan, minta jabatan baru, minta pekerjaan, mencari aman dalam berbisnis, minta perlindungan" dan lain sebagainya. 

"Study kasus dua" anggap saja di dunia pekerjaan, pendidikan, pemerintahan, organisasi terkemuka dan lainnya. Biasanya orang-orang cari muka sama halnya dengan penjilat, namun terlalu kasar kalau disampaikan penjilat, makanya lebih sederhana mencari muka saja biar bisa dinilai mana yang pantas dan yang tidak pantas. Beberapa contoh cari muka yang tidak mendidik seperti "mengadu domba, manis berkata di depan, laporan orang yang kurang bagus, ingin selalu tampil di lihat pimpinan, mengaku karya orang lain, tidak mau bersaing hal yang positif, merasa selalu benar", dan lain sebagainya.

Ada waktunya kita mencari muka terhadap hal-hal yang positif dan bermanfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain seperti "melaksanakan sholat 5 waktu tepat waktu, sholat malam, bersedekah, dzikir sholat dhuha, sholat sunnah, haji dan umroh, memberi bantuan kepada anak yatim, memberi sumbangan ke mesjid, zakat, fitrah" dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan kepercayaan dan keyakinan agama masing-masing. Artinya setiap manusia yang mempunyai agama pasti ingin meminta kepada tuhan sesuai ajaran agamanya masing-masing, ini logika bahwa kita sedang mencari muka kepada tuhan kita berdasarkan agamanya.
*** 
Sebelum pembahasan lebih lanjut, bukan membanding-bandingkan Agama. Namun bahwa aktivitas manusia hal yang positif terutama sholat atau kegiatan agama lainnya pasti meminta hal yang terbaik kepada tuhan sang pencipta. Dengan demikian "kegiatan apapun yang berhubungan dengan Agama merupakan cari muka kepada tuhan untuk kehidupan di dunia dan akhirat". Jadi manusiawi juga bila mencari muka untuk kepentingan duniawi seperti ingin naik jabatan, minta posisi jabatan, mengharapkan bonus, intensif, meminta pekerjaan, mencari pekerjaan yang lebih baik, dan lain sebagainya.

Walaupun cari muka konotasinya kearah negatif", banyak juga orang diluar sana melakukan ini untuk mencapai apa yang diinginkannya. Seperti kita tahu bahwa "para pencari muka jauh lebih rendah derajatnya dengan kebodohan" yang selalu mengatakan bahwa dirinya jauh lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Maka dari itu terkhusus bagi yang hobi atau yang senang cari muka banyaklah mendalami ilmu pengetahuan, agar lebih mudah "bersaing dan menunjukan hasil kerja yang prestasi baik".

Fenomena yang terjadi kebanyakan yang cari muka bukan yang berprestasi dan kualitas kemampuan rendah, sehingga gerak-gerik pencari muka gampang terbaca juga seperti dari "gaya komunikasi, agak sedikit lebay, action berlebihan, suka basa-basi, banyak mencari perhatian, mementingkan diri sendiri", dan lain sebagainya. Sebaliknya tidak dibekali ilmu yang memadai dan pandainya hanya mencari tindakan sesaat artinya supaya dikenal dan diperhatikan oleh seseorang yang dianggap berpengaruh terhadap kebutuhan dan kepentingan hidupnya. Terkadang hal tersebut tidak disadari oleh orang yang melakukan dengan identitas pencari muka.
*** 
Selanjutnya orang pintar dan cerdas akan kalah bila bertemu dengan sang pencari muka. Ini "bisa jadi musuh dalam selimut atau telor di ujung tanduk", hal ini jangan terlalu dekat dan jangan terlalu jauh dari orang-orang yang pintar mencari muka. Hal ini bisa di sikapi dengan bijaksana atau pura-pura tidak tahu terhadap orang yang dimaksud, tapi harus dijaga terutama komunikasi, sikap, perilaku, ada hal yang akan diceritakan sebaiknya diam saja untuk menghindar persepsi yang tidak benar didengar oleh pencari muka.

Jangka waktu tidak menentu sebetulnya boleh-boleh saja "mencari muka" namun harus banyak belajar baik ilmu pengetahuan atau ilmu sesuai dengan bidangnya masing-masing. Sehingga walaupun melakukan cari muka dengan pendekatan secara profesional dan tidak mengorbankan nama orang lain, karena suatu saat dibutuhkan lebih mudah menempatkan di posisi yang sesuai dan tidak memberatkan orang lain dan kegiatan cari muka kecil kemungkinan tidak terjadi. Bila sebaliknya, "memang sudah menjadi tradisi atau budaya organisasi manapun butuh pengakuan hal yang baik dan positif terhadap pejabat maupun pimpinan sebagai objek utamanya".

"Cari Muka Boleh Namun Harus Menyesuaikan Dengan Ilmu"